Selasa, 31 Desember 2013

Post Absurd Malam Terakhir 2013

Wohoooo~ ketemu lagi sama gue cewek-tukang-galau-yangkalau-sekalinya-lagi-strees-langsung-menggila

YEAAAAH THAT'S MY NAME DUDEEEEEE.

Jadi.... ini postingan di akhir tahun. Ntah, gue juga nulisnya ogah-ogahan, yang penting rasa cinta aku ke kamu ngga pernah ogah-ogahan #apeu

Talk about 2013. Whoaaaah gue ngga bisa banyangin kalau gue bakalan ngerasain tahun yang paling paling paling hebat menurut gue. Kapan lagi coba gue ngerasain yang bener-bener namanya first love, depresi yang berkepanjangan dan dilupakan sama temen sendiri. KAPAN LAGI? SAMPAI VAATU MENGALAHKAN RAAFA PADA KONVERGENSI HARMONIK SELANJUTNYA? ATAU SAMPE TENZIN BISA MEDITASI DAN MASUK KE DUNIA ROH? HAH? ATAU NANTI SAMPE MAKO PUTUS DARI ASAMI DAN JADI PACAR GUE? HAAAAAAAAAAAH GUE MENGGILA.

Maaf, tadi abis nonton Korra. Jadi gini. btw katanya book 3 baka keluar Maret. WHOAH YEKALI GUE HARUS NUNGGU. GUE UDAH CAPEK NUNGGU. NUNGGU DOI BUAT MAIN KE SINI AJA GUE HAMPIR GIVE UP. GIMANA NUNGGU EPISODE BARUNYA KORRA? HAAAAAAH ARRRHHH OH YESSS TERUS GITUUUUU AAAAAH.

Tiba-tiba gue pengen jadi Ainun. Setia amat deh ya doi sama Pak Habibie. Entah ini cuman gue doang atau gimana, gue kalau denger ceritanya Habibie Dan Ainun, jadi inget Mr. Fredrickson sama istrinya. Ceritanya sama loh. Si cowoknya yang ditinggal meninggal sama si  cewek, dan ceritanya juga sama-sama tentang terbang-terbangan!!! Kebetulan? Atau jangan-jangan............. KONSPIRASI? :O

Okay, gue makin ngaco.

btw gue lagi kangen sama orang nih. tapi gengsi. gengsi bilang kangen. yaudah. yaudah..... yau..... YA GUE KANGEN TAPI GENGSI. KENAPA GENGSI HARUS ADA? KENAPAAAAA?

'Gengsi ada karena perempuan telah tercipta'.

Quote yang sangat menyentuh ya.

Ohiya.... baru-baru ini gue lagi seneng ngestalk temen gue. Gue liat status fbnya. Kayaknya doi setiap bulan punya pacar baru deh. Wah gampang banget ya..... sedangkan gue...... ya...... berkencan dengan handphone dan laptop. Miris nasib hidupku ini, Ma.

Gue heran. Kenapa temen gue itu laku banget. Padahal body gue lebih caem dari doi. Nevermind. Just nevermind.

Mungkin alasan gue jomblo itu...... gara-gara kelakuan gue deh. Kelakuan gue emang bisa dibilang abnormal. Ditambah lagi temen-temen gue yang..... ya.... sepertinya mereka harus dibawa ke psikiater.

But....... WHY CABE-CABEAN PUNYA PACAR?
sedangkan anak innocent macam gue dan temen-temen ngga.
Why... why....

Gue prediksiin status gue. Dua tahun kedepan gue bakal jomblo. Gue yakin itu. Gue berpegang teguh sama keyakinan gue bahwa gue bakal jomblo dua tahun. Semua itu karena.... karena... karena......... KEJADIAN WAKTU STUDY TOUR.

Oh, God. Gue kesetanan kayaknya waktu itu. Untung aja doi gue udah pindah, kalau belum, pasti doi baka nyesel kenal gue.

Udah ah. Ini makin ngelantur aja.

Byeee! Happy New Year, Everyone!

Senin, 30 Desember 2013

Kaleidoscope 2013



"Give me highs, give me lows, Give me thorns with my rose
I want everything
When you laugh, when you cry,
If you're sober or high, I want everything
Give me love or hate,You can bend me 'til I break
Give me fire, give me rain, I want joy with my pain
I want your fears, your hopes,
The whole kaleidoscope
With you"

The Script - Kaleidoscope

Whoaa ngga kerasa ya tiba-tiba udah di penghujung tahun 2013 aja. Perasaan kemarin baru aja ngerayain tahun baruan sambil telpon-telponan sebentar sama dia, hampir setahun yang lalu ya. Time flies so fast, guys. Gue bersyukukr banget pernah hidup di tahun ini. Menurut gue, tahun 2013 mungkin bisa dibilang titik balik kehidupan gue. Gue udah ngerasain semuanya di tahun ini. Thank God.

Best year ever. Yes, although i got hurt, pain, happiness but I enjoy it. All we have is this moment. Tomorrow is unspoken, yestreday is history. Mungkin 2013 ngga seperti apa yang gue duga, tapi 2013 bener-bener ngasih gue pelajaran, pelajaran yang baru, yang ngga pernah gue dapet di tahun-tahun berikutnya. 

Kalau misalkan gue ditanya, Mau balik ke tahun apa? gue bakal jawab, 2013.

Too memorable.

Well, we're gonna start from....

Sabtu, 28 Desember 2013

Masih merasakan dingin yang sama, layaknya satu tahun kemarin.
Masih merasakan rasa yang sama, layaknya satu tahun kemarin.
Masih merasakan hangatnya hadirmu, layaknya satu tahun kemarin.
Tapi sayangnya, aku merasakan kesunyian di malam ini.
Harusnya ada kamu yang dulu selalu mengisi waktuku setiap saat.
Bukan, bukan maksudku untuk memaksa, Aku hanya rindu kamu.

Jumat, 27 Desember 2013

The Script, Band Galau yang Maskulin

Wohoooo, akhirnya gue bisa ngeblog dengan tenang tanpa memikirkan kuota yang bakal abis. Akhirnya akhirnya................

Well, kali ini gue mau nyeritain tentang Band galau yang anti menye-menye. Yak! Siapa lagi kalau bukan The Script? Wohooooooo~


Selamat Hari Ibu, Mama!

SELAMAT HARI IBU, MAMA!

Hahaha, iya, ini postingan emang udah telat banget, tapi.... who cares? mhehehe.

22 Desember 2013.

Lagi liburan di Jogja. Kapan lagi punya waktu buat liburan bareng-bareng kayak gini? Bapak sibuk, Mama sibuk, ditambah gue yang sekarang bener-bener sibuk ngurusin sekolah, pr, plus organisasi yang capeknya bikin plus plus. Ya, walaupun perjalanan ke Jogja ngaretnya sampe 26 jam, that's okay lah. Baru kali ini gue sama keluarga bener-bener ngerasain yang namanya ngehabisin satu hari penuh lebih dua jam bareng-bareng. Gimana ngga? Farhah sama Fani selalu pulang sore gara-gara sekolahnya fullday school, bapak yang sibuk sama kerjaannya dan mama yang selalu sibuk dengan pasien lahirannya. Iya, jadi anaknya bidan itu..... agak  ngebatin.

And yes... we don't want to waste our precious time, so..... jadilah gue sekeluarga liburan. Yeay!

Di Jogja sana, gue (secara tidak disadari) ngerayain hari ibu. Gue baru ngerasain yang namanya the power of mama itu ya... pas waktu di Jogja kemarin. Gue ngga ngerti kenapa Mama bisa sekuat itu ngehadapin nonok-nonok berisik yang tukang ribut.


She called it 'Wanita Berkalung Sorban'

Rabu, 25 Desember 2013

Me, Just Me.


Do you know who is she? Oh, you knew who she is.
Oh, you knew her stories too? 
Well, do you know what she has been through? No? 
So, shut the fuck up, Jerks.

Aku, Kamu, dan 24 Desember 2012



                   Aku mencoba untuk membuka kedua mataku. Sedikit demi sedikit aku membukanya, tapi ini sangatlah berat.bangun pagi di hari libur memang sangat sullit dilakukan. Kalau saja hari ini aku tidak mempunyai acara, aku akan terus menerobos tidurku sampai pukul sebelas nanti.
                Aku melompat dari tempat tidur, mengambil handuk dan menyiapkan makanan. Aku lakukan semua itu sendiri. Seandainya mama ada di sini bersamaku, aku tidak perlu  repot-repot untuk bangun sepagi ini. Tapi kenyataannya seluruh keluargaku sedang pergi ke Bandung untuk menjenguk nenekku yang sedang berjuang untuk melawan penyakit parahnya.seharusnya aku ikut dengan mereka, tapi karena acara ini, orang tuaku menyarankan agar aku mengikuti kegiatan PMR hari ini.
                Ya, pelantikan PMR. Entah aku harus bersemangat atau merasa tegang. Kenapa acara ini dilaksanakan pada hari libur?
                Aku memeriksa kembali atribut yang harus aku kenakan nanti. Pita nyawa kuning, enam pita kuning yang menggantung di ujung kerudungku, name tag berwarna kuning yang aku kaitkan dengan peniti jumbo di sisi kiri kerudungku, serta makanan-makanan yang harus aku bawa-yang pasti akan dicek pada saat evaluasi nanti.
                Mentari kini menunjukan sinarnya. Burung-burung berterbangan sembari bermain awan. Waktu telah menunjukan pukul setengah tujuh tepat. Aku sudah berada di dalam Sekolah Hijau yang sangat megah. Sesuai perjanjian; seluruh peserta harus datang ke sekolah selambat-lambatnya pukul enam lebih empat puluh lima menit. Setidaknya aku mempunyai sisa waktu lima belas menit untuk menenangkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pelantikan ini tidak akan seseram yang kamu pikirkan, Nid.

Selasa, 17 Desember 2013

The One That Got Away


        “Rafa, beri aku sedikit ruang untuk menulis. Kamu terlalu makan tempat dan berhenti menggangguku!” Aku terus saja mengomel pada Rafa. Aku sedang menyelesaikan tugasku tapi Rafa terus menggangguku. Ya, Rafa adalah teman sebangkuku. Hampir tiga bulan ini aku duduk dengan Rafa. Posisi tempat duduk di kelasku memang diatur sedemikian rupa dan sialnya setiap ada pembagian tempat duduk aku selalu dipasangkan dengan Rafa. Memang menyenangkan duduk dengan Rafa, kata-kata jenaka yang selalu keluar dari mulutnya benar-benar membuang penatku akan hiruk pikuk tentang sekolah, tapi terkadang dia sangat menyebalkan. Dia orang yang sangat jail di kelas. Aku tidak akan luput menjadi salah satu korbannya. Huh, dasar Rafa.

            Lima bulan yang aku habiskan dengan Rafa membuatku semakin nyaman saja berteman dengannya. Dia selalu ada di saat aku membutuhkannya dan begitu pula denganku, selalu siap membantunya  apabila dia membutuhkanku. Sipit adalah panggilan lain yang aku berikan kepada Rafa. Aku memanggilnya sipit karena matanya memang sipit dan apabila ia tersenyum, tiba-tiba matanya menghilang. Rafa memang keturunan Tionghoa, maka dari itu dia mendapatkan mata sipitnya.

            “Berhenti memainkan kerudungku, Sipit! Berhenti menggangguku. Aku sedang sibuk mengerjakan tugasku, Rafa!!!” Aku makin geram, tetapi semakin aku kesal, semakin dia menjadi. Aku tidak dapat menampung emosiku. Aku benar-benar marah, akhirnya aku meninggalkan Rafa.

            “Yah… ada yang pundung nih..” goda Rafa. Walaupun aku pindah tempat duduk, tetap saja Rafa menggangguku. Dasar jahil. Aku menatap mata sipitnya dengan kesal. Rafa masih saja menggodaku.

            “Sudahlah, sebesar apapun kamu mencoba marah denganku, kamu tidak akan benar-benar marah padaku.” Ah, Rafa! Aku benci kamu! Kenapa aku tidak bisa marah kepadamu disaat aku benar-benar kesal denganmu? Sihir apa yang kamu punya? Rafa… Rafa…

            “Kamu benar. Aku tidak bisa marah ke kamu. Huh.” Aku menatap matanya dan ternyata mata cokelatnya dapat mengembalikan moodku yang telah hilang.

            “Ya sudah. Aku akan berhenti mengganggumu. Kerjakan saja dulu tugasmu lalu kita ke kantin. Aku akan menraktirmu es krim.” Rafa akhirnya berhenti menggangguku.

            “Oke, Rafa! Serius? Aaaaah terima kasih!” aku cubit pipi cabinya dan melanjutkan tugasku.

            “Iyaa, Erika! Sudah sudah, berhenti mencubit pipiku!” katanya sambil melepaskan cubitanku dari pipinya. Pipinya memang menggemaskan, makanya aku sering mencubitnya. Jangan bosan-bosan, ya, jika hampir setiap hari jariku selalu mencubit pipimu, Rafa hehe.

Nasib Si Gadis Suram


Coba kau lihat ke arah Gadis Suram itu.
Oh, kau tidak dapat melihatnya? Tentu saja.
Coba kamu perhatikan baik-baik.
Ada seorang Gadis Suram di bawah tumpukan kenangan usang itu.
Gadis itu terlalu bodoh dan membiarkan dirinya tertimbun oleh kenangan masa lalu.

Perhatikan baik-baik rupanya.
Matanya sembab, ada lingkaran hitam disekelilingnya. Sepertinya dia mengangis terlalu lama. Lihat matanya, sembab dan merah.
Kulitnya pucat. Sepertinya dia mati rasa.
Dia tampak berantakan. Apakah ada yang peduli? Tidak.

Perhatikan dia baik-baik.
Apakah kamu dapat menebak sifatnya? Terlihat jelas.

Gadis Suram itu terpuruk.
Keegoisan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu egois untuk melihatmu menggenggam tangan yang beku milik orang lain.

Gadis Suram itu terpuruk.
Keserakahan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu serakah ingin memiliki segalanya tentang kamu.

Gadis Suram itu terpuruk.
Kebodohan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu bodoh untuk mengeluarkan bulir-bulir air mata yang Ia biarkan mengalir begitu derasnya.

Tubuhnya melebam.
Ia terpukul atas kepergian orang yang begitu sangat berarti di hidupnya.
Tubuhnya remuk.
Ia terhantam bola beton besar yang berisi kenangan.

Apakah kamu dapat melihat kedalamnya?
Jauh, jauh sekali di dalam jiwanya terdapat kepingan hati yang kini sudah remuk redam.

Hati Gadis Suram itu bak sebuah kaca.
Mudah pecah dan tidak akan dapat disatukan lagi walaupun dengan perekat yang paling kuat sedunia
.
Pernah satu kali Ia berpikir bahwa kepingan hatinya ada sebuah puzzel.
Ia mencoba merangkainya kembali.
Menyatukannya untuk menjadi kesatuan yang utuh.
Kemudian dia berlari dan berteriak,

'Dimana kepingan terakhirku?'

Hilang. Kepingan terakhirnya hilang.
Atau lebih tepatnya pergi.

Ia marah. Ia lempar puzzel itu.
Untuk kebeberapa kalinya, hatinya hancur lagi seketika.

Gadis Suram itu memang bodoh.

Apakah kamu meyadarinya?
Ada sebuah kolerasi antara Gadis Suram itu dengan Aku.

Atau lebih tepatnya, Aku adalah Si Gadis Suram itu.

Aku Versus Si Perempuan Beruntung


Mereka bilang, kamu adalah mesin pembuat tawa.
Aku tahu hal itu, itulah hal yang pasti kamu bawa.
Seluruh kelas tertawa kepas karenamu.
Seperti apa yang pernah kamu lakukan dulu.

Andai aku ada di posisi mereka.
Menikmati seluruh hal bodoh yang kau lontarkan.
Kemudian kita tertawa lepas.
Membiarkan tawa kita menguap bersama udara dan menghepas.

Mereka bilang, permainanmu di lapangan sangat ciamik.
Mungkin hal itu yang pernah membuatku berpikir bahwa kamu menarik.
Dengan sigap kamu menghalau serangan dari lawan.
Kemudian berdiri gagah di depan gawang dengan tatapan menantang.

Andai aku ada di posisi mereka.
Menikmati seluruh gerak-gerik tumbuhmu yang lincah dalam memeluk bola.
Kemudian bersorak keras dan mengagungkan namamu.
Seperti apa yang pernah aku lakukan dulu.

Perempuan beruntung itu bilang, kamu adalah yang terbaik.
Kamu adalah orang yang selalu membuatnya tertawa.
Kemudian dia berpikir bahwa kamu adalah Sang Pelukis Hari.
Ya, Perempuan Beruntung itu benar.
Andai aku ada di posisi perempuan yang beruntung itu.

Aku tidak akan menyia-nyiakanmu.
Memegangmu erat dan tak ingin aku lepaskan.
Tetapi mengapa kamu bertingkah seolah-olah seperti pasir?
Semakin aku erat menggenggammu, semakin kamu menghilang. Semakin kamu pergi. Semakin kamu habis.

Ada beberapa pertanyaan yang berlarian di benakku.

Apakah Perempuan Beruntung itu tahu bahwa merah adalah kebanggaanmu?

Apakah perempuan beruntung itu tahu bahwa permen karamel berlapis cokelat adalah pelengkap harimu?

Apakah perempuan beruntung itu membuatmu merasa ada di atas awan ketika kamu sedang berada di titik jenuh kehidupan?

Apakah perempuan beruntung itu melantunkan seluruh nada-nada Sang Maestromu?

Apakah perempuan beruntung itu telah menggantikan jemariku yang dulu pernah aku sematkan di antara sela-sela jemarimu?

Andai aku adalah Si Perempuan Beruntung itu.
Yang akan selalu sangat merasa beruntung untuk memilikimu.



Desember, 2013.
Masih mengubur rindu yang semakin hari, semakin mengembang.

Rabu, 20 November 2013

Happy birthday, Indah!


Happy birthday, Indah!

Well, hari ini, tepat 20 November 2013, temen gue, Indah ulang tahun. Sebelum itu marilah kita berduka cita, maksudnya bersuka cita. Iya, bersuka cita akan sweet seventeennya Indah yang mudah-mudahan bakal ngejadiin Indah sebagai manusia yang baik berbudi dan luhur, pembela bangsa sejati dan sakinah mawaddah warahmah. Maaf agak ngelantur. Okedeee… nyanyi yok

'Happy birthday, Indah….
Happy birthday, Indah….
Happy birthday Happy birthday , Indah….'

/kemudian joget-joget macam aufa/

‘SIMAMORA OOOOOH’

Sorry, Ndah. Hehehe. Pokoknya gue doain lo jadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Makin doyong. Makin stuck yang selalu ngarep balikan sama si ‘Lanang’. Oke part yang terakhir tolong jangan dimakan hati.

Sebenernya gue ngga tau apa rencana temen-temen buat ngerayain ulang tahun Indah. Ge sih ngeiyain aja apa kata temen-temen. Dan ternyata temen-temen bikin video buat Indah. ADUH GUE JUGA MAU DONG PAS GUE ULANG TAHUN, GUE DIBIKININ VIDEO

entah perasaan gue aja atau gimana, video ini kok semacam video in memoriam ya--''

eh, indahnya terharu gitu... aduh indah segitunyaaaa ;3

Senin, 04 November 2013

Origami




"When you fold a piece of a paper, your essentially changing the memory of that piece."
Eric Demaine





It's Lovember or Movember?

Well, gatau kenapa tiba-tiba pengen nulis beginian. Gue cuman ya.... sedikit kangen bulan November tahun lalu. Dimana November = Lovember + Movember. Bener-bener move dari orang yang gue tungguin selama delapan bulan dan tiba-tiba gue menemukan satu titik kenyamanan di bulan ini. Yes, It was lovember and movember. 

Tapi sekarang.... gatau deh. Movember nggak... Lovember juga nggak. Sok-sok-an move juga gagal... Faktanya sih : Gue masih stuck.

Kalau aja ada mesin waktu, gue bakal ngulang November tahun lalu.

Tujuh September

Happy Birthday...
Happy Birthday...
Happy Birthday..... Nida.


Tujuh September, ya, tanggal tepat dimana enam belas tahun yang lalu aku lahir di dunia ini. Tidak terlalu berharap sesuatu yang special di hari ini, tapi aku tidak munafik. Aku ingin hal yang lebih di hari ulang tahunku kali ini. But remember, gurl, don’t expect too much.

Aku ngga tau kenapa, tapi tiba-tiba saja aku nangis. Ngga tau aku nangis karena bahagia ataupun sedih. Semuanya bercampur menjadi satu. Senang karena aku merasa ada beberapa teman-temanku yang masih mengingat hari spesialku dan sedih karena….. nevermind.

Seneng sih, tapi di sisi lain ngga tau kenapa. Aku merasa ada yang kurang. Kurang kamu. Ngga lengkap rasanya jika hari ini tidak ada sepenggal kata yang merujuk kepada kalimat ‘Selamat ulang tahun, Nida!’

Sepi. Ya, sepi.

Padahal kan kamu udah janji dulu, bakal ngerayain ulang tahun aku. Bodoh emang. Ternyata berjanji itu lebih gampang dari pada membalikan telapak tangan.

Akhirnya pada sore hari… ucapan itu datang juga. Ucapan yang aku tunggu-tunnggu satu hari penuh. Ternyata kamu sudah lupa. Lagipula untuk apa mengingatnya? Haha.





Ya, lumayan. That’s enough for me. It was the best birthday i ever had  . I love you, guys. 

Kamis, 15 Agustus 2013

Seandainya

Aku lelah menghapus seluruh air mata
Aku lelah menghitung ucapan rindu yang tidak tertuju
Aku lelah terjaga
Aku lelah menantimu

Menantimu? Sia-sia. Kamu sudah pergi
Kembali? Tidak lagi
Ingat aku? Mungkin tidak
Tentang kita? Kenangan menghentak

Rindu yang semakin hari mengembang, semakin percuma
Kamu yang selalu ku kenang, semakin aku nikmati karma




Seandainya masih ada sedikit 'aku' di otakmu.
Seandainya.

Dear, you.


"When you miss someone but there's nothing you can do."













I miss you, Opa.


You  : "Just give me a reason. Why don't you want to break our relationship up?"
Me   : "I have no reason."
You  : "Why?"
Me   : "Because I love you with no reason and that's why i don't wanna break up, with no reason."

Selasa, 13 Agustus 2013

Flashback

20 November 2012

Me : "Mata wis kiyep-kiyep, badan kayak abis diinjek-injek. Bentar lagi juga tewas."
You : "Gws jav."
Me : "Thannksss."
You : "Cepet mati ya."
Me : "mong."
You : "Kenapa?"
Me : "Mau bikin novel dulu."
You : "Ntar keuntungannya dibagi ya."

You : "Night, N."

***
25 November 2012

Me : Kesel
You : Kenapa?
Me : Dipanggil dav-__-
You : Dav dav
Me : Stop
You : Jav jav
Me: Sori udah tewas
You : Udah tewas tapi bisa ngetweet.

***

27 November 2012

Me : Last dm ya. ngantuk bgt.
You : Iyaa

***
28 November 2012

You : Jadi diem-dieman sih, why?

***

2 Desember 2012

Me : Tinggi. Tinggi. Tinggi
You : Kebab. Kebab. Kebab.
Me : Kalem. Kalem. Kalem.
You : Lapar. Lapar. Lapar.
Me : Terus. Terus. Terus?
You : Kita. Laper. Beli. Kebab.

***

3 Desember 2012

Me : Eling, besok ulangan ekonomi. Pr math, pr pkn.
You  Keep Calm and Kebab.
Me : Maaf anda siapa?
You : Wis gah licik

***

5 Desember 2012

Me : Pin, sms kita  masuk nggak?  btw sorry  tadi  ngumpetin  tempat kunci  motor ira hehehehehe
You : Ketawa jeh

***

6 Desember 2012

Me : Pending atau ngga bales?
You : Pending =D

You : Thanks @nahnida.

***

7 Desember 2012

Me : Btw thanku udah nyemangatin @you =))
You : Ya tapi kita berharap ada solidaritas

***

13 Desember 2012

Me : *RTed @Ithinkthatway : Text her first.* *batuk*
Disty : *RTed my tweet* Cc : @you
You : Laka pulsa wey

***

15 Desember 2012

You : One week ago haha.
One week ago... you knew that i like you, pin ;p

***

19 Desember 2012

Me : Album ke3 katy perry, album ke4 lady gaga. apalagi?
You : Album kedua Upin Ipin
Me : Bukan temen gue
You : Gitu ya.

***

20 Desember 2012

You : Libur telah tiba
Me : Aku ngga ada libur :")
You : Kasian cucu opa

***

28 Desember 2012

*we were playing ToD. I dare you to mention you crush and you answered me. The  answer was : @nahnida*

Me : Ga punya pulsa. re-check ur dm about 3 weeks ago. nah, that's an answer
You : ga asik lah -__-

***

Sabtu, 10 Agustus 2013

Maret 2013

10 Maret 2013
Restoran cepat saji yang terletak di Jalan. Kartini.

Masih saling sibuk dengan gadgetnya.
Suara bising terdengar dari tempat bermain anak. Anak yang sedari tadi berbuat ulah, kini makin menjadi. Suaranya tidak  dapat dibendung lagi.

Girl  : "Anak laki-laki itu.... tidak bisa diam."
Boy : "Sama sepertiku."
Girl : "Maksudmu?"
Boy : "Aku juga dulu seperti itu. Tidak bisa diam."
Girl : "Benarkah?"
Boy : "Ya."
Girl : "Sepertinya kelakuanmu saat masih kecil, terbawa sampai kamu remaja, ya."
Boy : "Maksudmu?"
Girl : "Kamu tidak bisa diam. Jahil."
Boy : "Haha."
Girl : "Lalu apa yang telah membuat 'kamu kecil' berubah?"
Boy : "Aku dimaksukan ke sekolah menggambar dan akhirnya aku menjadi seperti sekarang ini. Haha."
Girl : "Baguslah haha."

Percakapan itu. Entah mengapa selalu berkeliaran di dalam pikiranku. Kamu memang memorable. 

Gue Alay? Emang!!!

Oke.. oke... malam apa ini? malam minggu? bukan bukan, ini sabtu malam. Ngga ada yang namanya malam minggu di dalam kamus gue. Camkan itu ya. Camkan!

Seperti biasa, gue mau nulis dikit. Gue kangen ngeblog. Sungguh. Gue kangen modem flash juga yang kalau setiap malam ming... -eh sabtu malam maksudnya- selalu nemenin gue dengan kecepatan internet yang bener-bener diluar batas. Gue ngga promosi kok, tapi kenyataannya gitu. Modem flash kini hilang entah kemana, doi pergi seenak jidad. Gue kesel. Untung aja hp gue masih bisa dikorbankan buat nemenin sabtu malam yang kelam ini. Dengan paket 600mb buat sebulan. Gue tau, gue ngga akan bisa survive dengan kuota internet segitu, apalagi sekarang musim libur, pasti mata gue tertuju pada layar laptop yang dimasukin modem. Iya, dimasukin. Udah ah, ini makin  ngawur.

Sebenernya gue di sini mau cerita. Mau berkeluh kesah. Ngga peduli orang mau nilainya apa, toh inikan blog gue. Gue bilang; This is My Second World. Soooo, berhubung ini dunia gue yang kedua, jadi gue bisa ngapain aja disini. Mau curhat kek, kayang kek, galau kek, ngalay kek, apa kek, serah gue. Lo kata gue autis? EMANG HAHAHAHAHA.

Sebelumnya, berhubung ini masih suasana lebaran, gue mau minta maaf dulu ke lo lo pada. Kali aja gue pernah nyakitin kalian lewat perkataan atau perbuatan, disengaja ataupun ngga. Ya pokoknya gue minta maaf aja deh, serah kalian mau maapin atau ngga, ye. Kalau ga mau maafin jugakan lo yang bakalan nanggung dosa gue. Dosa sendiri aja ngga bisa nanggung, gimana kalau ditambah dosa gue yang banyaknya ngga terhitung? Huh.

Met lebaran yak, man-teman. Ada salam dari Fani sama Khilda.
Tolong jangan fokuskan pandangan anda ke mata sebelah kanan. Terima Kasih.

Kamis, 01 Agustus 2013

Hi, backstabbers!

Selamat pagi. Selamat hari pertama di Agustus.

Aku dedikasikan seluruh kata-kata ini untuk kalian yang sudah terlalu peduli mengurusi hidupku.

                Sebenarnya aku menulis kata-kata ini bukannya tanpa alasan. Aku lelah dengan dunia. Sungguh. Seandainya aku dapat mengatur dunia, aku akan mengaturnya.
                Terbangun dengan mata kering yang disebabkan oleh air mata yang jatuh dengan derasnya  pada kemarin malam. Aku tidak menangis, aku hanya sakit hati. Wajar kan kalau aku mengeluarkan air mata karena sakit hati? Tentu saja. Mau marah? Ke siapa? Bukankah itu hal yang wajar yang dilakukan oleh setiap perempuan apabila ia merasa disakiti? Karena perempuan hanya bisa memendam, tidak dapat mengungkapkan. Toh jika mereka mengungkapkan, siapa yang akan peduli?
***
                Mereka bilang menjadi berbeda itu perlu. Mereka bilang perbedaan itu indah—asalkan kita masih berada di dalam aturan yang berlaku. Tapi, kenapa ketika aku mencoba untuk menjadi pribadi yang berbeda dari orang banyak, aku malah dicibir? Apakah itu yang dinamakan kebebasan akan perbedaan? Omong kosong.
               Mereka bilang jadi diri sendiri itu perlu. Mereka bilang jangan sampai kita menjadi orang lain. Tapi, kenapa ketika aku menjadi diriku sendiri, aku di olok-olok? Apakah aku salah untuk menjadi diriku sendiri?
             Ketika aku menjadi orang lain, aku dicemooh. Aku menjadi orang lain juga karena kalian. Kalian tidak dapat menerimaku apa adanya, makanya aku mencoba untuk menjadi orang lain--mungkin dengan menjadi orang lain, aku dapat diterima.

Jumat, 05 Juli 2013

Teman SMP dan Kealayannya

Kalau inget-inget jaman dulu tuh asa.... mau n gakak. Ya giala aja, dulu yang namanya jari satu ditempelin di depan mulut yang diimut-imutin itu gaul abis etapi sekarang malah... alay abis.

FYI, alay itu menyenangkan. Alay itu kreatif. Alay itu ajang mengasah otak. Gimana ngga, otak kalian bakal ke asah kalau kalian harus baca tulisan k4Y4k 91n1.

Dan... orang-orang pastilah punya masa alaynya tersendiri, termasuk gue, Kalau orang ga pernah alay, hidupnya ga akan bahagia. Ga akan ada hal yang bisa diketawain pas dikemudian hari dan gue (mungkin) masih jadi orang alay sampai sekarang.

Jadi... inilah gue saat segala yg gue lakukan dulu itu dianggap.... gaul.

Baca doa dulu guys....

Ini dia model kita yaitu Ayu dan Limbad. dulu mereka adalah dua sejoli yang sangat compong. Mereka selalu berdua dan mereka selalu... compong.

Rombak Kamar

Akhirnya setelah sekian lama gue ngemis-ngemis ke mama soal kamar baru, akhirnya gue dapet juga. Terharu...

Yang namanya beres-beres itu pasti lucu. Beres-beres kamar contohnya. Dengan beres-beres kamar, barang-barang yang dulu-dulu bisa ketemu lagi dan itu bikin.... senyum-senyum sendiri hahaha.

Papan nama yang dipake buat segala event. namanya banyak emang. Dari
Nida, Vilanti, sampai Dav.

Ohiya, Dav. kenapa gue pake nama Dav?

Tentang "Kita' dan Kenangan di Dalamnya


Juni 2013

Cahaya lampu yang begitu terang membangunkanku dari dunia mimpi yang aku lewati sepanjang malam.  Aku membiarkan tubuhku melekat pada benda yang memiliki sihir yang begitu kuat sehingga aku enggan beranjak dari benda ini. Membiarkan seluruh anggota tubuhku tersadar dari mati suri yang begitu cepatnya.
Liburan yang sangatlah panjang memberiku kesempatan untuk membalas dendamku akan bangun pagi yang sudah menjadi rutinitasku. Hampir setiap pagi aku bangun diatas pukul delapan pagi. Siapa yang peduli jika aku bangun agak siang karena hari ini adalah hari libur dan aku memiliki hak untuk menikmatinya.
Libur tanpa liburan, ya mungkin itulah yang bisa aku gambarkan untuk satu minggu ini dan dua minggu ke depan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bermalas-malasan di dalam istanaku yang seperti kapal Black Pearl yang dihancurkan oleh kraken. Tidak ada kata liburan pada libur kali ini.
Seharian penuh aku habiskan seluruh liburanku di dalam kamar ini. Berkencan dengan laptop dan ponselku pada siang hari dan telingaku dimanjakan oleh lagu-lagu yang ada di dalam ponselku pada malam hari. Tunggu dulu, jangan lupakan novel! Aku tidak bisa hidup tanpa buku yang kadang berisi cerita fiktif yang aku harap bisa terjadi di dunia nyata. Terkadang aku berpikir bahwa novel hanyalah tulisan yang berisi bualan yang dibuat para novelis untuk memenuhi hasrat para pembacanya yang haus akan imajinasi dan mungkin aku adalah salah satu korbannya—yang masih membaca novel dan mengharapkan ceritanya menjadi kenyataan.
Berbicara tentang novel, akhir-akhir ini aku sadari kalau hampir seluruh bacaanku sudah habis sedangkan  libur masih dua minggu lagi. Kebetulan momku hendak pergi ke toko buku untuk membeli buku resep, jadi aku memohon untuk dibelikan novel oleh mom.

Rabu, 26 Juni 2013

Kamu dan Selalu Untuk Kamu


Dan hari itupun datang juga. Dimana tidak ada semangat pagi seperti biasanya. Tak ada sinar mentari yang menyelinap masuk melalui celah jendela kamar, yang ada hanyalah udara dingin yang mencoba merasuki selimut dan membunuh orang yang ada di dalamnya.

Hari dimana dia pergi
Hari dimana air mata mengalir sejadinya
Hari dimana aku berpura-pura tegar untuk menjalani hari

Tidak akan ada yang peduli kalau aku akan aku sakit sebegininya, karena tidak ada satu orangpun yang merasakannya.
Tidak akan ada kamu lagi.
Tidak akan ada hari yang berwarna  lagi
Tidak akan ada… sudahlah, lupakan.

Kalian boleh mengatakan kalau aku ini berlebihan, tapi kenyataannya beginilah aku, aku benar-benar merasa ini sangat sulit. Sulit untuk merelakannya pergi.
Sulit, sulit untuk melupakan segalanya. Lagipula melupakannya bukanlah sebuah pilihan-berhenti menyayanginyalah jalan keluarnya.

Mungkin kamu akan bersikap masa bodoh, karena kamu tidak tahu rasanya.

Andaikan kamu jadi aku.

Selasa, 18 Juni 2013

The Call - Regina Spektor



 The Call - Regina Spektor 

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back when you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never been this way before

All you can do is try to know who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon and follow the light
You'll come back when it's over
No need to say goodbye
You'll come back when it's over
No need to say goodbye

Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
'Til they're before your eyes
You'll come back when they call you
No need to say goodbye
You'll come back when they call you
No need to say goodbye

Curahan Hati Nadia

Aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Hari ini aku dan teman-temannku harus berkumpul di rumah Rani untuk mempersiapkan segala hal yang harus dibawa pada hari kamis, hari kedua OSPEK. Ya, OSPEK terkahir di masa putih abu-abu, kalau saja aku tidak mengikuti acara ini, aku akan menyesal, karena OSPEK kali ini adalah salah satu acara yang menguji kekompakan kelas dan kedisiplinan kami dalam dalam satu tahuin ini.

Aku dan Dinda sudah janjian untuk pergi ke rumah Rani bersama. Aku tunggu Dinda di tempat biasa dimana kita bertemu jika ingin pergi bersama, tak lama kemudian aku melihat seorang gadis yang memakai kerudung biru dan berbaju ungu, ya, itu Dinda.

"Hai, Din," Sapaku.
"Oh, hai, Nadia!" Dinda balik menyapa.

Kamipun langsung menaiki kendaraan umum yang dapat mengantar kami pergi ke rumah Rani. Dua puluh lima menit kemudian kami sampai di rumah Rani.

Sabtu, 15 Juni 2013



Don't Forget


"Did you forget that I was even alive?
Did you forget everything we ever had?
Did you forget about me?"

Apakah kamu sudah lupa bahwa aku masih hidup?
Kalau kamu memang sudah lupa, aku akan mengingatkanmu lagi.
Aku masih di sini., masih menghirup seluruh udara yang bebas dari Tuhan. Aku masih di sini, panca inderaku masih berfungsi begitupun organ tubuhku. Aku belum benar-benar mati-walaupun mungkin hati ini terlalu sekarat untuk dikatakan hidup

Apakah kamu lupa akan kita? Kita yang dulu selalu bersama, yang selalu berbagi tawa dan canda. Tentang kita saat waktu berjalan begitu cepatnya. Apakah kamu lupa tentang semua yang pernah kita miliki? Apakah kamu lupa?

Apakah kamu lupa akan diriku? Yang pernah mengisi harimu, yang pernah menjatuhkan air mata di pipinya, yang mungkin pernah

Invisible


Aku telah memberikan segala rasa itu untukmu, tapi kamu tidak menyadarinya. 
Aku telah mencoba untuk membantumu, tapi kamu tidak menyadarinya. 
Aku telah mencoba untuk membuat harimu sempurna, tapi kamu tidak menyadarinya. 

Aku tahu, aku memang tidak terlihat. 
Aku adalah hantumu, yang selalu berada di dekatmu-dan jikalau kamu menoleh, aku tetap tidak terlihat. 

Mengapa kau sebegitu butanya? Untuk apa kedua mata cokelat itu jika melihatku saja kamu tidak mampu? 
Untuk apa kamu punya hati jika merasakan keberadaanku saja kau tidak mampu? 
Mengapa kamu sebegitu tulinya? Untuk apa kedua telinga itu jika mendegar kode alamku saja kamu tidak mampu?

Bukan, bukan maksudku untuk untuk mengatakanmu orang yang buta atau tidak punya hati. 

Aku tahu kamu mampu melihatku. 
Aku tahu kamu mampu merasakan kehadiranku, tapi kamu hanya tidak mampu untuk mempedulikanku, iya 'kan? 

Dan pada akhirnya aku akan selalu menjadi hantumu yang masih peduli semuanya tentangmu. Ya, aku memang tidak terlihat. I'm invisible.

Jumat, 14 Juni 2013

(Masih) Untuk Kamu

Ketika kamu meremehkan aku disaat aku membuka topengku, kini aku tahu; kamu tidak melihat diriku apa adanya. 

Ketika kamu melihatku dengan tatapan hina. Aku di sini membanggakanmu. Mengagungkanmu. Tanpa pernah berpikir untuk menjatuhkan dirimu. 

Ketika kamu berusaha menghapusku, aku di sini menuliskan semua kisah yang pernah kita lalui bersama dan aku benar-benar terpuruk untuk menuliskannya kembali. 

Tapi aku nikmati rasa sakit ini. Aku suka dengan rasa sakitnya. 

Ketika kamu berusaha menjauh di saat aku sedang menikmati arus hidupku yang menurutku benar, itu sangat menyakitkan. 

Apakah kamu pernah berpikir kamu salah? 
Apakah kamu pernah memiliki rasa bersalah? 
Apakah kamu pernah benar-benar melihatku dengan mata cokelatmu itu? 

Tapi sekarang kamu berubah. Tidak seperti kemarin atau kemarinnya lagi. Aku benar

Rabu, 12 Juni 2013

The fire I began is burning me alive but I know better than to leave and let it die
"The fire I began is burning me alive
but I know better than to leave and let it die"


THIS IS FAMOUSX9!!!

Sebelum itu marilah kita berkenalan dengan makhluk-makhluk penghuni X.9 terlebih dahulu :



Mari kita mengenal lebih dalam lagi tentang makhluk-makhluk X.9 dengan mengisi TTS ini :

Clue :

Salah siapa?

Nadia : "Aku? aku yang salah? Terus saja aku. Tentu saja dia yang salah, ya, walaupun aku selalu salah di matanya, tapi untuk masalah ini dia yang bersalah"

Rue : "Lucu, Nad, kamu malah menyalahkannya. Ini bukan masalah siapa yang salah atau salah siapa tapi ini masalah perasaanmu sekarang kepada Ken."

Nadia : "Aku tidak mau tahu, intinya dia yang salah. Kenapa dia membiarkan aku jatuh sebegitu dalamnya dan meninggalkan aku? Ken jahat."

Rue : "Lagi-lagi Ken. Bukannya aku menyalahkanmu, tapi sadarlah, Nad, yang membiarkanmu jatuh itu siapa? dirimu sendiri kan?"

Nadia : "Hah? aku membiarkan diriku jatuh? untuk apa? kau tahu kan jatuh itu sakit? nah untuk apa aku menyakiti diriku sendiri?"

Rue : "Nad, percaya deh. Kamu yang membiarkan dirimu jatuh ke lubang itu. Perasaanmu kepada Ken yang telah membuat kamu terpuruk. Kamu telah memberikan seluruh rasa itu ke Ken. Bangun, Nad, sampai kapan kamu tenggelam di dalam lubang itu?"

Nadia : "Aku salah? aku salah memberikan seluruh rasa itu kepada oranng yang benar-benar aku sayang?"

Rue : "Bukannya kamu telah mengetahui akhir ceritanya, Nad? Kalian ditakdirkan tidak untuk bersama. Kenapa kamu memberikan semua rasa itu?"

Nadia : "Aku kira semuanya akan baik-baik saja, Rue. Tapi entahlah."

Rue : " Lalu kamu akan terus seperti ini selamanya? Memendam perasaan yang hanya bisa kamu rasakan sendiri tanpa orang itu peduli?"

Nadia : "Entahlah, Rue. Kamu tahu 'kan ini sulit?  Akupun bingung."

Rue : "Hilangkan semua rasa itu, Nad, tapi jangan coba-coba untuk melupakannya. Setidaknya Ken pernah mewarnai hidupmu, bukan?"

Nadia : "Kau benar, Rue. Aku salah lagi. Kenapa aku biarkan diriku terlarut-larut? Aku benar-benar harus melepaskan perasaan itu tapi tidak melupakan Ken."

Rue : "Nah gitu dong. Anggap saja kamu dengan Ken adalah dua manusia biasa dengan kenangan di dalamnya. Aku tahu ini akan memakan waktu yang cukup lama, tapi kalau kamu terus seperti ini, kamu akan terus-menerus terpuruk. Bangunlah, Nad."

Untuk Kamu.

Aku masih di sini saat orang lain meninggalkanmu.
Aku masih di sini mengagung-agungkanmu di saat orang lain memandangmu sebelah mata.
Aku masih di sini mengaisi seluruh kebaikanmu di saat orang lain membicarakan kejelekanmu.
Aku masih di sini akan menolongmu ketika kau akan terjatuh.
Aku masih di sini akan memapahmu apabila kamu sudah terlanjur terjatuh.
Aku masih di sini terpuruk dengan kenangan yanbg kau tinggalkan.
Aku masih di sini tenggelam oleh lautan luka.
Aku masih di sini, di tempat pertama kali kita bertemu.
Aku masih di sini dengan segenggam harapan di tangannya.
Aku masih di sini dengan semua rasa lelahku kepadamu.
Aku masih di sini jika kamu membutuhkan aku, kamu tidak perlu mencariku sampai ke ujung dunia--lagipula itu tidak akan terjadi, 'kan?

Aku masih di sini, sadarlah.
Aku mungkin tak terlihat, tapi kumohon sadarlah, aku selalu ada di sini siap untuk membantumu.
Aku masih di sini. Di dasar samudra dan tidak mempunyai cukup nyali untuk muncul kepermukaan. Aku akan terus tinggal di sini, menenggelamkan diriku dan mati melebam secara perlahan.

Aku masih di sini, kumohon sadarilah.

Minggu, 26 Mei 2013

My Immortal - EVANESCENCE


Lagu ini... bener-bener dalem abis. Apalagi musiknya agak serem gitu, suara yang nyanyinya juga mendukung abis. 

Walaupun dia udah tertekan, capek, tapi dia tetep bertahan. Capek pasti. Mau move on udah terlanjur susah, mau gimana lagi, udah terbiasa di-treat sama doi-nya gitu, eh tiba-tiba doa pergi. Gimana bisa dia ngelupain semuanya, banyak memori yang ga bisa dihapus. Terlalu sakit buat mengenang semuanya, tapi yaudah... mau gimanna lagi, udah terlanjur gitu. Yaudah deh. Dia udah coba buat ngelupain semuanya tapi tetep aja gagal. Capek, kan? Emang capek.

My Immortal  - EVANESCENCE 


I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
Your presence still lingers here
And it won't leave me alone

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase

Can I Go Back To December?



Bisa ngga balik lagi ke Desember?
Bisa ngga kita mulai dari awal lagi dan membuat semuanya jadi benar?
Bisa ngga mesin waktu berpihak dengan segala kegilaan yang ada dipikiran saya selama ini?

Mimpi.

Faktanya waktu ngga bisa di ulang kembali. Mau meraung-raungpun ngga akan bisa. Meminta dengan muka memelas tetep ngga bisa. Sekarang ya sekarang. Dulu, ya, dulu. Kita bisa apa? Kita mau balik lagi ke waktu itu dan membereskan semuanya. Kalau waktu itu kita berbuat salah, kita menyesal dan kita balik lagi ke waktu itu dan membenarkan segalanya, gimana kita bisa belajar dari pengalaman?

Dulu, ya, dulu. Belajar dari pengalaman. Jangan sampai terulang kembali. Karena aku ngga mau jatuh kelubang yang sama dua kali.

And now, take this song. Resapi dalam-dalam.

Senin, 13 Mei 2013

Unspoken Words


“Bagaimana kalau kita akhiri saja semuanya?” tanyanya.
“Entahlah, jika ini adalah yang terbaik, mengapa tidak?” jawabku dengan penuh rasa kesal.
“Baiklah. Terima kasih untuk semuanya, ya.”
“Ya, terima kasih juga untuk semua apa yang telah kamu lakukan untukku.”
Aku lempar telepon genggamku ke kasur. Aku biarkan seluruh badanku terjatuh ke kasur. Ini malam yang mengerikan. Lagi, lagi dan lagi untuk kesekian kalinya aku melebam lagi. Bagaimana bisa  aku lakukan semua ini? Bagaimana bisa aku melepaskanmu begitu cepat? Aku benar-benar melakukan hal yang bodoh. Seandainya aku masih punya kesempatan, akan aku ubah semua kesalahanku sehingga kamu bisa merasa nyaman denganku. Tapi apa daya, semua telah berakhir. Aku tidak bisa melawan kehendak, inilah akhirnya.
“Tapi walaupun kita tidak terikat lagi, kita masih bisa berteman, bukan?” tanyaku. Pertanyaan yang sebenarnya berisi harapan itu aku lontarkan kepadanya.

Senin, 22 April 2013

Semesta, kau berulah lagi.


Semesta, kau berulah lagi.
Lagi. Lagi. Dan lagi. Ulahmu itu tidak lucu, bodoh. Aku sudah bilang, bukan?
Semesta, kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya jadi aku. Kamu selalu berulah, membuatku sangat lelah.
Semesta, aku tidak perlu semua bocoran rahasia itu, karena aku tahu bagaimana akhir ceritanya.
Semesta, lagi-lagi kamu membiarkan aku jatuh. Ini sakit.
Semesta, lagi-lagi kau mengikatku, begitu kencang sehingga aku susah untuk menghirup udara yang suci ini.
Semesta, lagi-lagi kau mengikat kita. Kita terbelenggu.
Semesta, aku sudah lelah akan semuanya, tapi aku tidak akan mengangkat tangunku terlalu cepat.
Semesta, aku benar-benar kehilangan arah, akankah kau membantuku?
Semesta, aku tau kamu memiliki rencana sendiri, tapi dapatkah aku memberontak?
Semesta, kau buatku bingung. Aku berharap dapat merubah ceritanya.
Semesta, ini rumit. Tolong aku.
Semesta, kau berulah lagi.