Minggu, 26 Mei 2013

My Immortal - EVANESCENCE


Lagu ini... bener-bener dalem abis. Apalagi musiknya agak serem gitu, suara yang nyanyinya juga mendukung abis. 

Walaupun dia udah tertekan, capek, tapi dia tetep bertahan. Capek pasti. Mau move on udah terlanjur susah, mau gimana lagi, udah terbiasa di-treat sama doi-nya gitu, eh tiba-tiba doa pergi. Gimana bisa dia ngelupain semuanya, banyak memori yang ga bisa dihapus. Terlalu sakit buat mengenang semuanya, tapi yaudah... mau gimanna lagi, udah terlanjur gitu. Yaudah deh. Dia udah coba buat ngelupain semuanya tapi tetep aja gagal. Capek, kan? Emang capek.

My Immortal  - EVANESCENCE 


I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
Your presence still lingers here
And it won't leave me alone

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase

Can I Go Back To December?



Bisa ngga balik lagi ke Desember?
Bisa ngga kita mulai dari awal lagi dan membuat semuanya jadi benar?
Bisa ngga mesin waktu berpihak dengan segala kegilaan yang ada dipikiran saya selama ini?

Mimpi.

Faktanya waktu ngga bisa di ulang kembali. Mau meraung-raungpun ngga akan bisa. Meminta dengan muka memelas tetep ngga bisa. Sekarang ya sekarang. Dulu, ya, dulu. Kita bisa apa? Kita mau balik lagi ke waktu itu dan membereskan semuanya. Kalau waktu itu kita berbuat salah, kita menyesal dan kita balik lagi ke waktu itu dan membenarkan segalanya, gimana kita bisa belajar dari pengalaman?

Dulu, ya, dulu. Belajar dari pengalaman. Jangan sampai terulang kembali. Karena aku ngga mau jatuh kelubang yang sama dua kali.

And now, take this song. Resapi dalam-dalam.

Senin, 13 Mei 2013

Unspoken Words


“Bagaimana kalau kita akhiri saja semuanya?” tanyanya.
“Entahlah, jika ini adalah yang terbaik, mengapa tidak?” jawabku dengan penuh rasa kesal.
“Baiklah. Terima kasih untuk semuanya, ya.”
“Ya, terima kasih juga untuk semua apa yang telah kamu lakukan untukku.”
Aku lempar telepon genggamku ke kasur. Aku biarkan seluruh badanku terjatuh ke kasur. Ini malam yang mengerikan. Lagi, lagi dan lagi untuk kesekian kalinya aku melebam lagi. Bagaimana bisa  aku lakukan semua ini? Bagaimana bisa aku melepaskanmu begitu cepat? Aku benar-benar melakukan hal yang bodoh. Seandainya aku masih punya kesempatan, akan aku ubah semua kesalahanku sehingga kamu bisa merasa nyaman denganku. Tapi apa daya, semua telah berakhir. Aku tidak bisa melawan kehendak, inilah akhirnya.
“Tapi walaupun kita tidak terikat lagi, kita masih bisa berteman, bukan?” tanyaku. Pertanyaan yang sebenarnya berisi harapan itu aku lontarkan kepadanya.