Senin, 13 Mei 2013

Unspoken Words


“Bagaimana kalau kita akhiri saja semuanya?” tanyanya.
“Entahlah, jika ini adalah yang terbaik, mengapa tidak?” jawabku dengan penuh rasa kesal.
“Baiklah. Terima kasih untuk semuanya, ya.”
“Ya, terima kasih juga untuk semua apa yang telah kamu lakukan untukku.”
Aku lempar telepon genggamku ke kasur. Aku biarkan seluruh badanku terjatuh ke kasur. Ini malam yang mengerikan. Lagi, lagi dan lagi untuk kesekian kalinya aku melebam lagi. Bagaimana bisa  aku lakukan semua ini? Bagaimana bisa aku melepaskanmu begitu cepat? Aku benar-benar melakukan hal yang bodoh. Seandainya aku masih punya kesempatan, akan aku ubah semua kesalahanku sehingga kamu bisa merasa nyaman denganku. Tapi apa daya, semua telah berakhir. Aku tidak bisa melawan kehendak, inilah akhirnya.
“Tapi walaupun kita tidak terikat lagi, kita masih bisa berteman, bukan?” tanyaku. Pertanyaan yang sebenarnya berisi harapan itu aku lontarkan kepadanya.

“Tentu saja.” Jawabnya singkat.       
Aku biarkan semua air mata ini membasahi seluruh kasur. Selagi bisa aku menangis, aku akan tetap menangis, menumpahkan segala rasa sesalku malam ini. Ini sakit, asal kau tahu saja. Apakah ini yang dinamakan kehilangan? Jika benar, percayalah padaku : Aku benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan orang yang dulu peduli denganku, kehilangan orang yang dulu mungkin sayang denganku, tapi aku tidak akan pernah merasa kehilangan dengan semua memori yang pernah kita buat. Memori itu selalu berlarian di pikiranku, jadi, bagaimana bisa aku melupakannya?
Hari demi hari aku jalani tanpamu. Tanpa pesan teks manis darimu. Aku benar-benar menyesal telah membiarkanmu pergi begitu saja. Inginku teriakkan segala isi hatiku. Aku butuh kamu. Aku merindukan kamu. Aku melebam, tolong aku, Ken. 
Bagaimana aku bisa tenang saat aku tahu orang yang biasanya membuatku tersenyum kini telah menjadi orang yang selalu membuatku menangis meraung-raung? Semua air mata aku keluarkan untuk kamu, Ken. Aku tahu ini sia-sia, tapi hanya ini yang bisa aku perbuat.
Sikap Ken semakin hari-semakin dingin. Entahlah apa yang terjadi. Tapi ini bukanlah hal yang baik.
Aku benar-benar merindukannya. Baiklah, malam ini akan aku buang semua rasa gengsiku dan aku benar-benar ingin bicara padanya.
“Ken….” Aku mencoba memanggilnya.
“Ya?” seperti biasa, Ken menjawabnya dengan singkat.
“Ken, jujur, aku benar-benar kehilangan kamu. Aku masih sayang sama kamu. Seandainya aku bisa perbaiki semua ini. Andai kita masih mempunyai kesempatan, aku ingin memulainya dari nol agar kita tidak seperti ini, supaya kita tidak seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain dengan kenangan yang begitu indah. Kamu candu, Ken. Aku mabuk” Aku jelaskan semuanya.
Ya, aku benar-benar tidak ingin kita seperti ini. Untuk apa dulu kita berbagi kasih jika akhirnya kita berselisih?
“Lalu dengan semua ocehanmu itu, kamu berpikir aku akan mengubah pikiranku? Tidak, kamu salah.” Jawabnya.
“Maafkan aku, Ken. Aku benar-benar menyesal.”
“Baiklah, Nad. Apa yang kamu inginkan sekarang?” tanya Ken.
“Aku tidak mau kita seperti ini. Aku tidak mau berselisih dengan orang yang aku sayang, Ken.” Jawabku.
“Baiklah kalau begitu.”
Aku merasa lega sekarang. Ken telah memaafkanku. Ya, mungkin dia muak dengan segala tingkah lakuku pasca kita mengakhiri hubungan kita. Aku bertingkah layaknya orang gila yang tidak memikirkan apa yang akan tejadi selanjutnya.
Akhirnya hubungan pertemanan kita semakin normal dan membaik. Syukurlah. Tapi aku masih bertanya-tanya : Apakah dia masih memikirkan aku? Apakah dia masih peduli denganku? Apakah dia masih menyayangiku? Entahlah, itu misteri.
Semakin aku menikmati pertemanan ini, semakin aku merasa aku telah jatuh lagi ke lubang yang pernah aku jatuhi. Ya, jatuh memang sakit. Aku tidak bisa mengelak, aku masih menyayangi Ken. Seandainya aku bisa mengulang masa-masa disaat kita bersama. Seandainya aku masih mempunyai kesempatan untuk merasakan genggaman tanganmu yang begitu hangat, bahkan perapianpun kalah hangatnya dengan jemarimu. Sudahlah, lupakan.
Aku jatuh lagi dan akan susah untuk merangkak naik ke atasnya. Ken, aku butuh kamu.
Aku rindu kamu, Ken. Aku rindu dimana kita menghabiskan hari dengan semua candaan yang bodoh itu. Aku rindu matamu, pipimu, aroma tubuhmu dan senyuman itu. Senyuman termanis yang pernah aku lihat. Matamu tiba-tiba menghilang ketika kamu tersenyum dan ya… Aku benar-benar merindukanmu, Ken.
Semua kata rinduku ini rasanya percuma. Aku tidak bisa mengungkapkannya pada Ken. Lagi, aku merindu sepihak. Seandainya kamu merindukanku, Ken. Seandainya.
Seandainya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku, aku akan terus berusaha untuk membuatmu nyaman denganku.
***
Pagi ini benar-benar cerah. Udara segar dengan polosnya memasuki rongga hidungku. Aku terbangun dengan pikiran kacau.
“Dia telah pergi, Bodoh. Bangun dan bersegeralah, jangan mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi.” Aku berusaha meyakinkan diriku agar aku tidak terngiang-ngiang semua tentang Ken.
Aku segera beranjak ke kamar mandi dan menyiapkan semua keperluan sekolah. Aku lahap telur mata sapi yang telah mama siapkan untukku lalu aku pamit dan mencium tangan kedua orang tuaku.
Aku pergi ke sekolah dan menjalankan aktivitasku seperti biasa. Membosankan, ya, sangat membosankan.
Bel istirahat berbunyi. Aku memilih untuk diam di kelas karena kau begitu malas untuk pergi ke kantin, begitupun Ken.
“Nadia…” Sapa Ken.
Aku kaget. Jantungku berdegup kencang. Ada apa? Apa yang salah? Apakah Ken sedang gila? Dia memanggilku? Baiklah, bersikaplah biasa, Nad.
“Hai, Ken. Ada apa?” Aku membalas sapanya dengan senyuman lebarku.
“Haha, tidak. Oh, iya… ada yang ingin aku katakan.” Ujar ken.
“Ada apa, Ken?” tanyaku.
“Nad, sebenarnya… aku masih sayang sama kamu.” Ken terlihat begitu meyakinkan.
Apa maksudnya? Apakah Ken benar-benar sudah gila? Apakah ini mimpi? Bangunkan aku, Tuhan. Ternyata ini bukan mimpi. Hadapi ini, Nad.
“Aku… aku juga sebenarnya masih sayang sama kamu, Ken. Serius.” Jawabku.
“Tapi sayangnya kita tidak akan pernah bisa bersama ya. Haha. Kau tahulah apa yang aku maksud, Nad.” Katanya santai.
“Ya.. Aku mengerti, Ken. Baiklah, mari kita berteman haha.”
“Lucu ya, kita berteman tapi masih saling menyayangi satu sama lain.” Ujarnya.
“Ya… menyayangi sebagai teman!” aku menjulurkan lidahku.
Dan saat itu kita dicairkan oleh suasana. Betapa senangnya aku hari itu. Akhirnya aku mengetahui bagaimaana persaan Ken padaku.
Hari demi hari aku lalui dengan Ken, teman spesialku. Sampai suatu hari dia mengirimkan pesan teks.
“Nadia… Jujur, sebenarnya aku ingin mengulang masa-masa kita bersama dulu. Dengan sebuah ikatan yang lebih dari pertemanan. Kamu mau?”
Aku benar-benar bingung. Aku ragu untuk merajut kembali hubungan kita karena aku tahu aku akan sakit untuk kedua kalinya dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, tapi disisi lain aku benar-benar ingin melanjutkannya. Aku harus apa? Aku takut kita jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku takut mengecewakan kamu lagi. Aku berharap lubang itu dapat diperbaiki. Tapi kamu sudah tau akhir ceritanya bukan? Pada akhirnya kita tidak akan bersama. Kamu tidak mau dibelenggu lagi. Semesta kau berulah lagi. Aku mau tapi aku ragu. Aku takut.
“Ken… aku butuh waktu untuk menjawab itu. Entahlah. Sebenarnya aku juga ingin tapi… Lupakan.” Jawabku.
“Baiklah.”
“Sebenarnya hal apa yang membuat kamu sehingga mau kembali seperti dulu? Kamu tidak takut akan semua yang telah terjadi?” aku bertanya-tanya.
“Kamu sebegitu perhatiannya sama aku, Nad. Kenapa?” dia malah balik bertanya.
“Ken.. Aku perhatian semua tentangmu karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Kamu tahu kan kebiasaan itu susah dihilangkan? Nah.” Aku jelaskan semuanya.
“Iya, aku mengerti, Nad.”
“Ken, sebenarnya… You are the best thing that ever been mine. Jujur.” Aku mengaku.
“Kamu juga seperti itu, Nad.”
Dan ternyata dia masih mengaharapkan aku kembali. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kembali padanya tapi aku tahu aku akan sakit lagi atau bermunafik ria dengan hubungan pertemanan ini? Tuhan, ini rumit, tolong aku.
***
Sang surya telah kembali ke tempat tidurnya, beristirahat, dan Sang Purnama menggantikannya. Aku masih terikat pada kasurku. Sulit rasanya untuk melepaskan jeratan kasur ini. Aku mengurungkan niatku untuk membersihkan badanku.
Aku masih berbaring dengan handphone di tanganku yang tiba-tiba berbunyi. Aku segera memeriksa handphoneku, pesan teks rupanya. Ken, ini dari Ken.
“Hai, Nad. Aku butuh pendapatmu.” Isi pesan teks itu.
“Ada apa, Ken?” balasanku.
“Nad, aku benar-benar sedang bingung. Orang tuaku harus pindah tugas ke Jakarta Juni nanti dan sekarang aku diberi pilihan : tetap tinggal atau ikut mereka.” 
Ken… aku benar-benar kaget. Ken, maksudmu? Tenang, Nad. Aku membalas pesannya.
“Ken, menurutku itu adalah pilihan yang sulit. Lihat sisi baik atau buruknya dari pilihan itu. Untuk sementara ini, kamu ingin memilih apa?”
“Entahlah, aku benar-benar ingin tetap tinggal. Aku tidak mau meninggalkan teman-temanku. Begitu banyak memori yang aku buat di sini. Begitu susah untuk meninggalkan semua itu, Nad.” Balasnya.
“Ken, jika kamu tetap tinggal, pikirkan tentang masa depanmu. Bukankah kamu berpikir bahwa dengan kamu tinggal di sini kamu merasa bebas dan akhirnya kamu lupa akan kewajibanmu di sini? Dan jika kamu ikut bersama orang tuamu, setidaknya ada orang-orang yang mengingatkanmu tentang kewajibanmu selama ini. Jika kamu benar-benar ingin menggapai ‘Dokter Tangan Tuhan’mu aku sarankan kamu ikut dengan orang tuamu. Entahlah, tapi di sisi lain aku ingin kamu tetap tinggal di sini, tapi aku berpikir, aku siapa kamu? Aku tidak mau kamu pergi , Ken.” Aku jelaskan panjang lebar.
“Ya, aku mengerti, tapi jika aku ikut dengan mereka, aku akan kehilangan teman-temanku yang selama ini aku kenal. Mereka terlalu sulit untuk aku tinggalkan. Aku bingung, Nad.” Ken terlihat begitu bingung.
“Entahlah, Ken. Aku pun begitu, terlalu berat melepasmu. Terlalu banyak memori yang telah kita buat. Semua keputusan ada di kamu, Ken. Ambil keputusan yang benar-benar kamu yakini, jangan sampai kamu menyesalinya. Aku hanya mendoakan yang terbaik untukmu, Ken.” Aku mulai menitikan air mata. Ken, aku benar-benar merasa ini terlalu singkat.
Satu tahun, bukankah ini waktu yang terlalu singkat? Aku masih saja ingat bagaimana pertama kali kita memulai percakapan kita dan aku berpikir itu adalah hal yang lucu. Hari itu adalah hari jumat. Hari ketiga pada saat OSPEK. Semua anak laki-laki pergi untuk sholat Jum’at dan aku melihat ada seorang laki-laki yang masih duduk di deretan bangku nomor tiga di depan meja guru.
“Loh, kamu tidak sholat Jum’at?” tanyaku pada laki-laki yang berambut cepak itu.
“Saya non-muslim.” Jawabnya dan seketika aku merasa bodoh.
“Oh, maaf haha.” Benar-benar aku merasa bodoh.
Kembali ke permasalahan tadi, aku benar-benar tidak ingin Ken pergi. Terlalu cepat, Semesta. Untuk apa kata-kata pertemuan itu jika akhirnya akan ada ‘Selamat tinggal’? aku lebih berharap akan ada “Sampai jumpa” karena di dalamnya terkandung harapan suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.
“Amin, Nad. Terima Kasih, ya.” Seperti biasa, singkat.
Aku biarkan air mata ini jatuh membasahi kasur dan membiarkan udara malam ini menusuk tulangku. Aku tidak peduli dengan perutku yang sudah meronta-ronta untuk diisi. Bagaimana bisa aku melepaskan orang yang aku sayang untuk yang kesekian kalinya?  Untuk apa kamu buang-buang air mata sebanyak ini, bodoh? Walaupun kamu menangis sampai meraung-raung itu tidak akan merubah segalanya. Takdir tetap di tangan Tuhan. Mencoba untuk merubahnya? Tidak, aku hanya ingin semuanya terjadi begitu saja tanpa aku ubah dan dengan kehendak Tuhan. Mata ini sudah terlalu berat, rasanya mataku ini adalah sebuah awan cumolus nimbus yang sudah sangat berat menampung uap air dan siap untuk ditumpahkan. Apakah akan terjadi badai? Tidak ada yang tahu.
Jika kamu pergi, siapa yang akan membuat senyumku mengembang lagi? Jika kamu pergi, siapa yang akan menyemangatiku ketika aku merasa tertekan? Jika kamu pergi, siapa yang akan mendengarkan semua kicauan yang tidak berguna ini? Aku butuh kamu, Ken.
Baru aku sadari, semua yang aku takutkan, kini sudah menjadi kenyataan. Suatu hari aku pernah melihat ke sebuah lubang, entah apa tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongku dari bibir lubang itu. Aku terjatuh. Aku terjatuh terlalu dalam. Di lubang itu tidak ada cahaya sedikitpun. Sangat menyakitkan memang, aku jatuh dan ini sangat sakit. Tiba-tiba aku melihat secercah cahaya. Cahaya itu menghangatkan dan sangat terang sehingga aku dapat melihat lebih luas keadaan  lubang ini. Lubang ini tidak begitu buruk. Lubang ini sangat nyaman. Aku berpikir aku akan tinggal di sini untuk beberapa saat, tapi apakah ini akan mudah apabila suatu hari nanti aku harus merangkak naik dari lubang ini? Itu tidak akan mudah, aku butuh waktu yng lama. Pada akhirnya, aku sudah jatuh terlalu dalam.
Ini sulit, Ken. Sangat sulit untukku. Bagaimana bisa aku mendapatkan hal yang lebih baik jika aku telah mendapatkan yang terbaik? Kamu yang terbaik dan bagaimana bisa aku membiarkan kamu pergi, Ken. Seandainya mesin waktu benar-benar ada, aku ingin mengulang semuanya. Semuanya yang telah kita perbuat dan mengulangnya sampai aku puas dan dapat melepasmu dengan tenang.
Aku takut kamu terlalu sibuk mencari tangan, sedangkan aku di sini sudah lama menjulurkan tanganku. Aku takut, Ken.
***

Hari ini adalah hari terakhirnya di sini. Berat rasanya mengucapkan ucapan selamat tinggal dan aku lebih berharap kata-kata itu tidak pernah ada.
Aku kenakan baju terbaikku untuk hari ini. Hari ini aku dan Ken akan mengadakan semacam perpisahan kecil-kecilan. Entahlah apakah aku akan kuat dengan hari ini. Aku berharap hari ini tidak pernah ada, karena aku benci perpisahan.
Aku ikat tali sepatuku dan melangkah pergi melewati pintu rumah. Aku segera pergi ke tempat yang telah kita sepakati sebelumnya.
Sesampainya aku di tempat itu, aku melihat Ken dengan sweater abu-abunya, seperti biasa, mungkin itu adalah sweater kesayangannya. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku tak sanggup untuk mengakui bahwa inilah akhir dari ceritanya.
Kami pergi membeli tiket dan menonton sebuah film. Sepertinya kami sedang mengulang kembali apa yang pernah kita lakukan pada hari minggu waktu dulu. Aku benar-benar merindukan hal ini. Merindukan hari itu, merindukan rasa dingin yang begitu menusuk di dalam bioskop dan tentu saja merindukan jemari Ken.
Kami habiskan dua jam bersama di dalam bioskop itu. Ken mengantarkan aku pulang dengan sepeda motornya. Di tengah perjalanan aku meminta Ken untuk berhenti sebentar di depan sebuah pabrik tua yang sudah tidak beroperasi lagi.
Aku segera turun dari motor Ken dan berlari kecil menuju teras pabrik tua itu, Ken menyusul di belakang.
“Kenapa kamu memintaku untuk berhenti di sini, Nad?” tanya Ken.
“Ken, aku hanya ingin mengungkapkan semuanya di sini. Menurutku ini sudah waktunya.” Kataku sambil menatap mata cokelatnya dalam-dalam.
“Ken, aku benar-benar berpikir bahwa ini terlalu cepat. Aku ingin lebih lama lagi denganmu. Berteman denganmu adalah hal yang terbaik menurutku. Kamu berbeda dari yang lain Ken dan ya, rasa itu, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku belum pernah merasakan rasa sayang yang begitu kuat terhadap seseorang tapi denganmu semuanya berbeda. Aku sudah terlajur sayang sama kamu, Ken. Pasti akan susah untuk melupakan apa yang telah kita lakukan satu tahun ini. Pasti akan susah menggantikan posisimu dengan yang lain, Ken. Bagaimana tidak, kenangan itu terlalu kuat. Aku benar-benar tidak siap untuk membiarkan kamu pergi. Kamulah yang terbaik. Karena orang sepertimu pasti akan susah untuk ditemukan. Kamu langka. Kamu candu, Ken. Jangan heran jika kamu menemukan perempuan yang sebegitu sayangnya sama kamu dan jangan heran jika perempuan itu aku, Ken. Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak berharap banyak, aku hanya ingin kamu tidak melupakan apa yang telah kita lakukan bersama selama ini. Sampai berjumpa lagi, Ken. Aku sayang kamu.” Aku keluarkan semua apa yang ada di pikiranku. Aku ungkapkan semua perasaanku padanya.
Aku masih tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ken sekarang, mukanya begitu datar setelah aku jelaskan semuanya dan tiba-tiba Ken memeluk tubuhku.
 Pelukan itu, begitu hangat. Begitu nyata. Aku balik memeluknya. Aku tumpahkan air mataku di pundaknyanya. Sangat nyaman. Rasanya aku tidak ingin melepaskan ini. Aku hirup dalam-dalam aroma tubuhnya, aku mabuk. Aku benar-benar tidak ingin semua ini berakhir.
Ken melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan jarinya. Dia berusaha untuk menenangkanku. Air mataku berhenti mengalir dan aku berpikir aku sudah siap melepaskan Ken.
Aku bilang pada Ken bahwa aku bisa pulang ke rumah dengan kendaraan umum, jadi Ken tidak perlu repot-repot untuk mengantarkanku pulang. Sebelum aku naik kendaraan umum, aku tatap matanya lekat-lekat. Mungkin inilah hari terakhirku untuk melihat Ken. Tanpa ucapan selamat tinggal, aku tinggalkan Ken dan motornya sedangkan aku naik kendaraan umum dan pulang ke rumah.
Hati kecilku berteriak. Selamat tinggal, Ken. Sampai jumpa lagi. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan merindukanmu.
***

Cirebon, 14 Juli 2013.
Untukmu, Ken si kelinci abu-abu.
Hai, Ken! Apa kabar? Bagaimana keadaanmu saat ini? Pasti lebih baik dari biasanya, aku harap begitu. Bagaimana kabar Jakarta? Pasti sangatlah ramai. Bagaimana dengan teman barumu? Apakah mereka sama seperti teman lamamu? Aku harap seperti itu. Apakah kamu merasa nyaman di sana?
Satu bulan tidak berjumpa, haha, aku pikir aku merindukanmu, Ken. Sekarang tidak ada lagi yang selalu mengejekku dengan gaya khasmu. Sepi, tidak ada kamu, hari-hariku sepi. Aku merasa aku kehilangan orang yang benar-benar bisa membuat hari-hariku berwarna. Tidak ada lagi candaan yang biasa kamu buat saat jam pelajaran berlangsung. Tidak ada lagi orang yang aku perhatikan selama pelajaran berlangsung. Entahlah, aku merasa kehilangan semua itu.
Aku butuh kamu. Satu hari sama dengan satu tahun tanpamu. Tahukah kamu betapa aku membutuhkanmu saat ini? Saat kamu tidak ada, seluruh hatiku merindukanmu. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, merasakan rindu yang terlalu menyiksa batin. Aroma tubuhmu, senyummu, jemarimu, aku butuh itu. Segala sesutu yang telah kita lakukan selalu menghantui pikiranku pada malam hari dan membuatku terjaga. Memori itu terlalu kuat untuk tumbuh, logikapun dia kalahkan.  
Aku rasa ini sudah cukup. Aku tak sanggup lagi untuk menulis dan mataku pedih untuk membaca ulang surat ini. Salam rindu dariku, Ken. Jaga dirimu baik-baik. Aku tunggu gelar ‘Dokter Tangan Tuhan’ itu, Ken. Keep in touch, please. Aku sayang kamu.
Tertanda,

Aku, sebagian kecil hidupmu.

2 komentar:

  1. There's no reasons why we fall in love with someone, but its from God and He send it to our hearts. the differents means nothing when we fall in love. blind,deep,sucks and its love.

    BalasHapus
  2. #bahkan perapianpun kalah hangatnya dengan jemarimu. Sudahlah, lupakan.#
    WOW :D

    BalasHapus