Selasa, 18 Juni 2013

Curahan Hati Nadia

Aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Hari ini aku dan teman-temannku harus berkumpul di rumah Rani untuk mempersiapkan segala hal yang harus dibawa pada hari kamis, hari kedua OSPEK. Ya, OSPEK terkahir di masa putih abu-abu, kalau saja aku tidak mengikuti acara ini, aku akan menyesal, karena OSPEK kali ini adalah salah satu acara yang menguji kekompakan kelas dan kedisiplinan kami dalam dalam satu tahuin ini.

Aku dan Dinda sudah janjian untuk pergi ke rumah Rani bersama. Aku tunggu Dinda di tempat biasa dimana kita bertemu jika ingin pergi bersama, tak lama kemudian aku melihat seorang gadis yang memakai kerudung biru dan berbaju ungu, ya, itu Dinda.

"Hai, Din," Sapaku.
"Oh, hai, Nadia!" Dinda balik menyapa.

Kamipun langsung menaiki kendaraan umum yang dapat mengantar kami pergi ke rumah Rani. Dua puluh lima menit kemudian kami sampai di rumah Rani.


"Hai, Rani, maaf kami telat, aku belum mengetahui letak rumahku sebelumnya." Aku meminta maaf karena aku agak ngaret sepeluh menit dari waktu yanng sudah disepakati.
"Iya, tidak apa-apa, Nad. Ayo masuk!" ajak Rani. Akupun langsung memasuki rumah Rani dan membuka laptopku.

"Tugasmu sekarang membuat artikel tentang kelas dengan Asha ya, Nad." kata Rani ibu lurah kelas kami. Dalam kegiatan OSPEK, setiap kelas harus mempunyai bapak dan ibu lurah yang mempunyai tanggung jawab untuk mengurusi kelas. Pada kali ini Rani mendapat kepercayaan menjadi bu lurah dan Kurnia menjabat sebagai pak lurah.

Aku dan Asha membuka lembar kerja di laptopku dan berflashback ria  mengingat semua kejadian yang pernah kami alami di kelas X. Satu demi satu kami  jelaskan tentang anggota kelas kami. Mulai dari Fatah, Dhika, Ita sampai absen terakhir,  Putri. 

Sambil aku menulis artikel tentang kelas, aku juga sedang menunggu seseorang. Ya, menunggu, seperti itulah yang biasa aku lakukan; menunggu seseorang. Tidak lain dan tidak bukan Ken, ya, Ken. Kemana Ken? sudah pukul satu Ken tidak datang. Kemana dia?

Aku lanjutkan menulis tentang artikel kelas dengan Asha. Kami sangat menikmatinya, terkadang kami tertawa lepas saat mengingat sesuatu yang lucu dari kelas kami.

"Eh, nanti hari Kamis kayaknya ada tiga orang yang tidak ikut OSPEK." Kata Rani.
"Loh, siapa saja, Ran?" tanyaku.
"Hani, Dhika dan Ken sepertinya tidak bisa ikut, Nad." jawab Rani.
"Hah? Ken? Kenapa Ken tidak bisa ikut?" tanyaku lagi.
"Dia mau ngurusin sekolahnya, dia kan mau pindah sekolah, Nad." kata Rani.

"....Dia kan mau pindah sekolah, Nad." kata-kata yang aku benci itu keluar dari mulut Rani. Ya, Ken akan pindah sekolah dan kemungkinan dia tidak ikut OSPEK pada hari Kamis nanti. Ah, Ken, kenapa secepat itu?

"Loh, dia ngga ikut OSPEK sampai Kamis? Jadi, bagaimana dengan tepak makanku?" tanyaku. Kebetulan Ken meminjam tepak makanku kemarin dan ketika aku mendengar bahwa Ken tidak akan masuk Kamis nanti, aku mengkhawatirkan tepak makanku, karena jika tepak makanku hilang, matilah aku kena marah mama.
"Kamu mengkhawatirkan tepak makanmu atau orang yang meminjam tepak makanmu? haha." celetuk Amir.
"Aku mengkhawatirkan tepak makanku. Sungguh." 

Tapi di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku juga benar-benar memikirkan tentang Ken. Ken, kenapa harus pergi? Aku ingin lebih lama lagi denganmu walaupun hanya sebagai teman biasa, tapi aku benar-benar mensyukuri itu.

Tanpa sadar air mataku berjatuhan membasahi bantal yang ada di ruang tamu rumah Rani. Teman-teman menatapku dengan tajam, sepertinya mereka juga merasakan apa yang aku rasakan; ditinggal oleh orang yang aku sayang. 

"Sudahlah, Nad, jangan menangis. Aku juga tahu rasanya kok." Dinda mencoba menenangkanku, tapi semakin mereka menenangkanku semakin  aku ingin terus menjatuhkan air mataku sebanyak-banyaknya. Aku seperti ini karena hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku melebam sendiri.

Aku masih menulis artikel tentang kelas, sampailah aku pada absen 21, absennya Ken. Aku tak bisa kuasa membendungkan  air mata ini. Aku curahkan semua apa yang ada di pikiran dan otakku. Semuanya tentang Ken, mulai dari matanya, senyumnya, kelakuannya dan lain-lain. Rasa sedihku semakin menjadi saat aku tahu sebentar lagi dia akan meninggalkan Kota Udang ini. 

Aku sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan artikel kelas ini. Aku langsung meminjam laptop temanku untuk menjamahi timeline twitter Ken. Aku lihat tweets-nya dari berbulan-bulan yang lalu. Bulan-bulan di saat kami berbagi keceriaan bersama. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mata ini. Aku menagis sejadinya. Aku merindukanmu, Ken. Jika saja ada mesin waktu, aku ingin mengulang hari-hari itu sampai aku muak dan siap untuk kamu tinggalkan, tapi aku tahu itu adalah hal yang mustahil. Seandainya kamu tahu begitu beratnya aku untuk melepaskanmu, Ken. Seandainya kamu dapat menghitung volume air mata yang aku tampung ini. Seandainya kamu dapat melihat diriku yang tidak ingin kamu pergi, Ken. Life must go on, Nad. Bangun, seka air matamu dan jangan berlarut-larut. Raganya memang pergi, tapi kenangannya akan bersemayam dipikiranmu yang abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar