Jumat, 05 Juli 2013

Tentang "Kita' dan Kenangan di Dalamnya


Juni 2013

Cahaya lampu yang begitu terang membangunkanku dari dunia mimpi yang aku lewati sepanjang malam.  Aku membiarkan tubuhku melekat pada benda yang memiliki sihir yang begitu kuat sehingga aku enggan beranjak dari benda ini. Membiarkan seluruh anggota tubuhku tersadar dari mati suri yang begitu cepatnya.
Liburan yang sangatlah panjang memberiku kesempatan untuk membalas dendamku akan bangun pagi yang sudah menjadi rutinitasku. Hampir setiap pagi aku bangun diatas pukul delapan pagi. Siapa yang peduli jika aku bangun agak siang karena hari ini adalah hari libur dan aku memiliki hak untuk menikmatinya.
Libur tanpa liburan, ya mungkin itulah yang bisa aku gambarkan untuk satu minggu ini dan dua minggu ke depan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain bermalas-malasan di dalam istanaku yang seperti kapal Black Pearl yang dihancurkan oleh kraken. Tidak ada kata liburan pada libur kali ini.
Seharian penuh aku habiskan seluruh liburanku di dalam kamar ini. Berkencan dengan laptop dan ponselku pada siang hari dan telingaku dimanjakan oleh lagu-lagu yang ada di dalam ponselku pada malam hari. Tunggu dulu, jangan lupakan novel! Aku tidak bisa hidup tanpa buku yang kadang berisi cerita fiktif yang aku harap bisa terjadi di dunia nyata. Terkadang aku berpikir bahwa novel hanyalah tulisan yang berisi bualan yang dibuat para novelis untuk memenuhi hasrat para pembacanya yang haus akan imajinasi dan mungkin aku adalah salah satu korbannya—yang masih membaca novel dan mengharapkan ceritanya menjadi kenyataan.
Berbicara tentang novel, akhir-akhir ini aku sadari kalau hampir seluruh bacaanku sudah habis sedangkan  libur masih dua minggu lagi. Kebetulan momku hendak pergi ke toko buku untuk membeli buku resep, jadi aku memohon untuk dibelikan novel oleh mom.

“Novel apa, Nad?” tanya mom. Mom memang tidak mengerti tentang novel, lagipula dia tidak terlalu suka membaca, jadi wajarlah dia tidak mengerti tentang novel atau bacaan lainnya.
“Cari saja di bagian best seller atau tanya ke penjaga toko untuk novel yang menarik.” Jawabku.
“Baiklah.” Kata mom seraya menutup pintu rumah dan pergi ke toko buku.
Satu jam… dua jam… dua setengah jam aku menunggu dan akhirnya mom datang juga. Ah syukurlah, apa yang dia dapatkan ya? Semoga novel yang benar-benar menarik untuk dibaca.
Aku menyambut mom dari depan pintu rumah. Mom menyerahkan plastik putih yang berisi buku padaku. Aku membuka plastic itu dan meraih benda yang ada di dalamnya. Isi plastik itu adalah sebuah novel. Novel yang memang asing bagiku, dengan penulis yang asing pula, tetapi aku tidak asing lagi dengan judul novel itu. The Host.
***
Oh, Tuhan, kenapa harus The Host? Gumamku dalam hati. Mungkin kalian akan heran, mengapa aku seperti ini padahal melihat novelnya saja aku merasa asing.
Tidak ada yang tahu dan mungkin tidak ada yang mau tahu bahwa judul novel itu mengingatkan aku pada sesorang. Seseorang yang dulu pernah memberi warna dalam hidupku. Seseorang yang dulu berarti untuk hidupku. Sesorang yang selalu melukiskan sebuah senyuman di wajahku. Sesorang yang tidak akan ada habisnya jika aku ceritakan ke kalian. Seseorang itu adalah Ken.

7 April 2013.

Masih ada semangat pagi hari ini. Di minggu yang cerah ini aku harus pergi ke sekolah karena ada urusan dengan teman kelompok seni budayaku. Seperti biasa, tugas seni budaya memang selalu menyita hari minggu kami. Hampir setiap minggu kami berkumpul untuk memperbincangkan seluruh persiapan untuk seni budaya. Tugas kali ini adalah teater.  Kelompok kami berencana untuk membuat konsep hari ini.
Aku ikat rambut panjangku dan melangkahkan kakiku keluar rumah. Menunggu angkutan umum yang dapat mengantarku untuk pergi ke sekolah. Saat aku sedang menunggu, ponselku berbunyi. Ternyata sebuah pesan yang aku  terima. Pesan teks dari Ken ternyata.
“Hari ini jadi ‘kan, Nad?” isi pesan teks itu.
“Lihat nanti saja ya, Ken, aku khawatir jika kerja kelompokku belum selesai. Nanti aku kabarin lagi deh.” Balasku.
“Oke.”
Selain kerja kelompok, aku juga berencana akan menonton film di bioskop bersama Ken hari ini. Ini adalah kali pertamaku menonton film berdua dengan teman laki-lakiku dan asal kamu tahu saja, ini membuat kupu-kupu yang ada di dalam perutku melayang dan melayang.
***
“Nadia dan Hani cari cerita yang menarik ya.” Perintah Rani. Aku dan Hani mengiyakan.
Setelah sekitar dua puluh menit Hani menemukan cerita yang lumayan menarik untuk dibawakan pada saat kami tampil teater nanti.
“Bagaimana kalau yang ini saja, Ran?” Hani menyodorkan laptopnya dan memperlihatkan sebuah cerita yang akan kami bawakan nanti ke Rani.
“Oh, boleh juga. Jadi gimana nih, guys? Setuju ya ceritanya yang ini saja?” usul Rani.
Kami mengiyakan.
Setelah aku menyelesaikan tugasku bersama Hani, aku menghapiri Dinda yang kebetulan sedang duduk sendiri di sebuah bangku.
“Din…” sapaku sambil menghampirinya.
“Eh, Nadia, ada apa, Nad?” jawabnya.
“Jadi gini… aku ingin bertanya… Kamu pernah nonton sama Fathah, ngga?” tanyaku.
“Nonton? Di bioskop? Oh, pernah dong hehe.”
Ternyata dia pernah nonton dengan Fathah. Fathah adalah ketua murid kelas kami yang sudah dua bulan ini menjadi kekasihnya Dinda.
“Lalu.. bagaimana perasaanmu pada saat itu? Apa saja yang kamu lakukan pada saat itu?” aku mulai melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya agar nanti saat aku menonton film dengan Ken tidak canggung.
“Ya… aku senang. Menonton film.” Jawabnya.
You don’t say.
“Oh, iya, di dalam bioskop kan dingin. Nad. Kamu bawa jaket tidak?” Dinda mengingatkan.
Ah, jaket. Aku lupa membawanya. Dasar bodoh. Aku sudah menyiapkan jaket ke sayanganku pada pagi itu dan lupa membawanya. Jaket itu tertinggal di sofa ruang tamu. Bodohnya aku!
“Aku lupa membawanya, Din. Aku meninggalkannya di sofa. Aduh, jadi bagaimana? Aku alergi dingin, Din.” Aku khawatir. Ya, benar-benar membenci dingin. Jika aku sudah kedinginan, tubuhku akan memerah dan merasakan sensasi gatal yang sangatlah luar biasa.
“Tenang saja, Ken pasti membawa jaket kok, Nad. Dia pasti meminjamkannya kepadamu. Hehe, sukses, Nad.” Dinda menepukkan telapak tangannya di pundakku.
“Oke, terima kasih banyak, Din!”
***
Jam dinding di kelasku sudah menunjukan jarum pendek dan panjangnya tepat di angka dua belas. Ken mengirimkanku pesan. Dia memberitahuku bahwa dia sudah ada di dalam tempat pembelian tiket.
“Tunggu sebentar, aku hampir selesai. Tidak lama lagi kok.” Balasku.
Aku meminta izin kepada teman-temanku karena aku tidak bisa mengikuti kerja kelompok ini sampai selesai. Untung saja teman-temanku mengerti dan memakluminya.
Aku segera menuju tempat dimana Ken berada. Oh, tidak, hari mendung dan sepertinya akan hujan. Aku benar-benar akan mendapatkan serangan dari udara dingin ini.
Aku menaiki escalator dan menuju tempat Ken berada. Aku biarkan mataku mencari keberadaan Ken. Ah, akhirnya aku dapat melihatnya dan begitupun Ken yang melihat kehadiranku.
“Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama, Ken.” Aku meminta maaf padanya karena aku agak ngaret lima belas menit.
“No prob, Nad. Kamu mau nonton film apa?” tanyanya.
“Entahlah.”
Setelah beberapa menit memilih film akhirnya kami sepakat untuk menonton film The Host.
“Biar aku saja yang bayar, anggap saja ini traktiran ulang tahunku kemarin.” Kebetulan tanggal empat April kemarin adalah hari ulang tahun Ken.
Dasar Ken, padahal aku sudah menyiapkan uangku untuk aku bayar sendiri. Haha, terima kasih, Ken.
Aku dan Ken menuju ruangan dimana kami akan menonton film The Host.
“Ambil ini, kamu simpan ya.” Ken memberiku dua tiket berwarna agak keemasan yang bertuliskan The Host itu. Aku menyimpannya di dalam tasku.
Di dalam ruangan itu sama seperti isi bioskop yang lainnya. Gelap dan sangat dingin. Ah, kenapa harus dingin sih? Aku benar-benar benci akan dingin.
Menit demi menit aku habiskan waktuku bersama Ken dengan menonton film. Sesekali Ken mengajakku berbicara sedikit. Lagi-lagi udara dingin menembus kulit. Aku benar-benar tidak tahan. Aku gosokan kedua telapak tanganku agar aku mendapatkan sedikit kehangataan, tapi itu benar-benar percuma.
“Kamu kedinginan?” tanya Ken. Aku mengangguk. Ken menawarkan jaket abu-abunya.
“Kalau aku yang memakai jaket ini, kamu bakal kedinginan tidak?” aku ragu untuk meminjam jaketnya, karena aku tidak mau Ken ikut terkena udara yang benar-benar dingin ini.
“Ya.. aku tidak tahu, Nad.” Ucapnya. Aku menolak memakai jaketnya. Jadilah aku benar-benar tersiksa oleh udara dingin ini.
Sepertinya Ken tidak tahan dengan sikapku yang sedari tadi terus menggosokan kedua tanganku dan akhirnya dia menawarkan telapak tangannya.
“Mungkin bisa sedikit menghangatkanmu.” Aku selipkan jari-jari tangan kananku ke telapak tangan Ken dan dia benar, ini agak membantu. Sesekali dia mengusapkan jemarinya ke tanganku. Entah mimpi apa yang aku dapat semalam. Rasanya… hangat dan benar-benar membunuh udara dingin.
Hari itu.. benar-benar seperti apa yang aku baca di novel. Rasanya ini adalah sebuah mimpi. Ku hirup dalam-dalam aroma tubuh Ken. Ah, memabukkan. Aku benci untuk mengatakan ini, tapi… aku benar-benar menyayangimu Ken.
***
Akhirnya film yang berdurasi lebih dari satu setengah jam itu selesai. Kita berdua langsung keluar dari bioskop itu dan udara dingin sepertinya sedang membalaskan dendamnya.
“Terima kasih ya, Nad. Akhirnya aku bisa jalan sama kamu. Haha.” Kata Ken. Aku melihat ada sebuah senyuman mengembang diwajahnya. Manis sekali.
“Iya, terima kasih juga ya, Ken.” Jawabku.
Kami harus berpisah karena sore ini aku akan ada acara keluarga. Ken menawarkanku untuk mengantarkanku pulang, tapi aku menolaknya.
Terima kasih Tuhan dan selanjutnya, terima kasih, Ken.
***
Dan semoga kalian mengerti mengapa aku agak sensitif apabila mendengar dua kata itu, ya, ‘The Host’ dan parahnya lagi mom membelikan novel ini kepadaku. Aku harus apa? Membacanya tapi aku tahu bahwa aku akan berflashback ria atau menyia-nyiakan novel ini?
Aku baca lembar demi lembar. Seluruh kenangan itu bangkit kembali. Kenangan tujuh April yang benar-benar sangat menyiksa batinku saat aku membaca novel ini benar-benar menyakitkan, apalagi ketika aku membaca kalimat-kalimat ini :
You. Are. Not. Leaving. Me”
“You and I wont lose each other, I will always find you again. No matter how well you hide. I’m stoppable.”
“You have to see that.. that I can’t stay. You must see that.”
“If I was given the choice between having the world back and having you, I wouldn’t be able to give you up. Not to save five billion lives.”
“I love you,” I whispered. “Don’t say that like you’re saying goodbye.”
“Something I’ve never seen in all my lives. I’m staring at.. hope.”
“The universe will be darker place without you.”

Semua kata-kata itu mengingatkanku akan hari minggu yang mendung itu, tapi aku harus menyadarinya. Itu sudah berlalu. Sekarang mulailah hidup yang baru.
Tapi semakin aku berusaha untuk move on, semakin aku merasa ada sesuatu yang janggal. Semakin aku merasa sepi. Semakin aku berpikir ini benar-benar menyiksa. Semakin benar-benar aku merindukannya. Aku benci dengan keadaanku yang sekarang. Aku benar-benar benci.
The Host ini aku lahap selama empat hari, waktu yang cukup singkat untuk membaca buku yang isinya cukup tebal. Entah karena aku terlalu bersemangat untuk flashback atau memang ceritanya benar-benar menarik, tapi yang aku dapat dari buku itu adalah; aku rindu Ken.
***
Liburan yang benar-benar tidak berkesan ini aku habiskan di kamarku dengan ponselku yang cukup menunjang kehidupanku mungkin untuk dua minggu ke depan. Hari sudah mulai malam. Burung hantu mengeluarkan suaranya. Para jangkrik bernyanyi tiada henti. Aku sangkutkan headset putihku ini ke telingaku. Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, tapi siapa yang peduli? Toh aku bisa bangun siang besok. Aku masih terjaga dan lagi-lagi udara dingin menyelinap memasuki selimut yang cukup tebal ini.
Udara dingin ini mengingatkanku akan Ken. Ah, lagi-lagi Ken. Kenapa harus Ken? Aku benci di saat seperti ini. Di saat aku harus merasakan kerinduan yang begitu mendalam kepada orang belum tentu merindukanku atau orang yang mungkin sudah tidak peduli lagi akanku. Sudahlah. Lupakan, Nad.
Tiba-tiba pemutar musik yang ada di ponselku memutarkan lagu ‘Back to December’. Sialan. Lagi-lagi lagu ini. Aku benci. Kenapa harus lagu ini? Tuhan, kalau saja aku bisa menahan ini. Aku tidak kuat menahan godaan ini. Kenangan yang begitu kuatnya membuatku terjaga malam ini. Kenangan yang tumbuh begitu kuat membuatku menumpahkan bendungan air mata yang sudah ku tahan sedari tadi. Andai saja kamu tahu apa yang aku rasakan, Ken. Merindukanmu. Andai saja kamu merasakannya juga, Ken. Omong kosong, itu mustahil.
***
8 Desember 2012

Aku rebahkan seluruh tubuhku ke permukaan benda yang sangat empuk ini. Aku biarkan seluruh otot-ototku beristirahat sejenak. Aku sudah cukup muak untuk mempelajari materi untuk tes besok apalagi memikirkan tentang ekskul yang memaksaku untuk terus mengikuti kegiatan yang akan mereka lakukan. Aku benar-benar lelah akan hidup ini. Aku ambil ponselku, ternyata ada sebuah pesan teks dari Ken.
“Hai, Nad,” sapanya melalui pesan teks itu. Ken adalah teman curhatku. Dia selalu ada ketika aku membutuhkannya. Dia teman yang baik dan seru. Kata-kata yang ia keluarkan dari mulutnya selalu mebuatku tertawa.
“Hai juga, Ken.” Balasku. Kami selalu seperti ini setiap malam semenjak September lalu. Aku curhat tentang Dika dan dia curhat tentang Fasha. Kami sangat terbuka satu sama lain dan entah mengapa aku merasa nyaman dengannya. Apa yang terjadi? Entahlah. Kita hanyalah dua orang manusia dalam naungan yang bisa disebut pertemanan. Tapi semakin hari dia selalu membuatku semakin nyaman. Apa maksudnya, Ken?
Setelah lama kita saling membalas pesan teks, tiba-tiba dia mengirimkan sebuah pesan teks yang benar-benar membuatku bisu tak dapat berbicara apa-apa.
“Aku suka kamu, Nad.” Isi pesan teks itu. Ya, Tuhan, dugaanku benar, aku harus jawab apa? Aku juga ada sedikit rasa dengannya, apalagi aku merasa nyaman apabila bersamanya, tapi… apa yang telah Engkau rencanakan, Tuhan?
“Jujur aku juga suka sama kamu, Ken..” jawabku.
***
Setelah hari itu kami semakin canggung saja. Jangankan untuk berbagi tawa, berbicara saja aku enggan. Entah mengapa, tapi apa maksud dari semua ini?
Hari demi hari kami semakin canggung saja, sampai akhirnya liburan tiba dan dia pergi mengunjungi tempat keluarganya yang berada di luar Jawa, sedangkan aku harus berdiam diri di rumah karena sebentar lagi aku akan dilantik di dalam ekskulku.
Besok adalah hari pelantikan. Aku benar-benar lelah mempersiapkan semuanya. Mulai dari atribut yang harus dipakai sanpai makanan yang harus aku bawa. Aku terlalu berpikir berlebihan, karena itu aku mendapatkan lelah yang berlebih.
Aku naik ke atas ranjangku untuk beristirahat karena aku benar-benar lelah menyiapkan segalanya. Hampir saja aku memejamkan mataku, ponselku berbunyi.
“Semangat untuk hari pelantikan, Nad! Selamat malam!” isi pesan teks itu. Aku lihat siapa pengirimnya, ternyata Ken. Betapa pedulinya dia padaku. Terima kasih, Ken.
Hari pelantikan tiba. Pagi sekali aku sudah berada di sekolah yang kemudian aku dan teman-temanku akan pergi bersama ke tempat dimana kita akan dilantik. Aku hirup dalam-dalam udara pagi dan…. Ponselku berdering. Ken lagi haha.
‘Selamat pagi, Nad! Semangat ya! Sukses!’ isi pesan teks itu. Ah, Ken aku benar-benar terharu. Kamulah orang setelah orang tuaku yang menyemangatiku sampai sebegitunya. Terima kasih sudah menyemangatiku, Ken.
Acara demi acara pelantikan aku lewati bersama teman-temanku. Aku tidak berharap banyak hari ini, yang penting aku dilantik dan akhirnya aku bisa menikmati libur panjangku. Hanya ada satu kata di dalam benakku; lelah. Rasa lelah yang aku punya mungkin memang terbalas dengan adanya syal kuning yang menandakan aku sudah resmi dilantik. Terima kasih, Tuhan, kerja kerasku akhirnya membuahkan hasil.
Akhirnya acara selesai sudah, aku dan teman-temanku pulang ke rumah masing-masing. Dengan bangganya aku tunjukan syal kuning ini kepada keluargaku. Akhirnya aku dapat menempuh ini.
Aku taruh segala macam barang bawaanku di kamar dan membongkar isi tasku. Aku raih ponselku yang berada cukup dalam di tasku. Aku buka ponselku dan Ken mengirim sebuah pesan teks.
“Cieee, yang sudah resmi dilantik haha.” Dia adalah temanku yang pertama yang memberiku selamat. Aku bahagia. Terima kasih, Tuhan.
***
Aku habiskan akhir tahun ini bersama Ken, walaupun kami terpisahkan oleh jarak, tapi kami tetap berkomunikasi sepanjang hari. Kami habiskan bulan Desember bersama. Desember yang indah.
Pada suatu malam aku mengajak Ken untuk bermain truth or dare. Aku hanya iseng, sungguh, tidak ada maksud lain.
“Hai, Ken! Truth or dare?” isi smsku pada Ken. Ken menjawab,
“Truth.”
“Baiklah…  beritahu aku siapa orang yang kamu suka! Haha.” Ken harus berkata jujur akan ini.
“Umm… haruskah, Nad?” tanyanya.
“Iya, haha. Kamu harus menjawabnya Ken!” desakku.
“Baiklah… dia kamu, Nadia.” Ken mengaku.
***
Januari 2013

Semester baru. Bulan yang sangat banyak rasa. Di bulan ini organisasiku mengikuti sebuah lomba yang mengharuskan anggotanya ikut dan kami mendapatkan dispen. Jadi selama tiga hari aku tidak masuk sekolah.
Hari pertama lomba cukup melelahkan. Cukup membuatku agak bosan karena ponselku yang biasa aku pakai untuk berkomunikasi dengan Ken benar-benar mati total. Aku harus bagaimana? Aku sekarat jika sehari saja aku tidak berkomunikasi dengannya dan pada akhirnya aku mengaku… Ken, kau candu.
Aku benar-benar ingin berkomunikasi dengannya. Entah apa yang terjadi di dalam hatiku ini. Apakah ini yang dinamakan rindu? Jika iya, mengapa harus Ken orang yang aku rindukan?
Akhirnya aku dapat mengisi ulang baterai ponselku dan bisa berkomunikasi dengan Ken. Ah, akhirnya. Aku lega. Berkomunikasi denganmu saja membuatku bahagia. Walaupun hanya sebentar saja tapi aku benar-benar merasa senang.
***
14 Januari 2013

Hari ini hari Senin. Aku dan teman-temanku sudah selesai dengan lomba. Peringkat dua yang bisa kami dapat dan akhirnya pada saat upacara bendera di sekolahku, anggota ekskul kami dipersilakan maju ke depan dan menerima sebuah piala. Aku benar-benar sangat bangga.
Setelah upacara aku dan teman-teman masuk ke kelas. Melakukan rutinitas seperti biasa. Belajar, belajar dan belajar. Lagipula memang itu kan kewajiban kita sebagai siswa?
Tidak seperti biasanya pelajaran geografi senin ini ternyata kosong. Guru geografi absen karena ada keperluan. Beliau memberi kami tugas. Teman-teman sekelasku mengerjakan tugasnya sesekali bersenda gurau dengan yang lainnya.
Aku sudah selesai dengan tugasku jadi aku memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Dini, teman akrabku. Aku duduk di kursi sebelah kanan. Aku menikmati perbincangan kami yang mungkin hanya kami yang mengerti. Tapi entah mengapa tanganku tiba-tiba dingin. Ada sesuatu yang aneh hari ini.
“Nad…” tiba-tiba saja ada yang memanggilku. Aku kaget. Kelas seketika hening. Ada apa ini? Aku menoleh ke arah belakang dan ternyata ada Ken. Sejak kapan Ken berada di situ?
“Eh, Ken.. ada apa Ken?” aku benar-benar canggung. Seluruh penghuni kelas melihat ke arahku dan Ken. Hey, seseorang tolong jelaskan apa yang terjadi di sini!
“Jadi… gini, Nad. Aku mau ngomong serius.” Kata Ken. Sepertinya dia ingin membicarakan hal yang benar-benar serius, tertulis jelas di raut mukanya.
“Ada apa Ken?” tanyaku.
“Nad.. kamu tahu kan kalau aku suka sama kamu… Kamu mau jadi pacar aku tidak?” penjelasan yang sangat singkat dari Ken benar-benar membuatku keringat dingin. DEGG!! Apa yang harus aku jawab? Aku benar-benar ingin karena aku memang sudah nyaman dengannya, tapi bagaimana dengan segala perbedaan itu? Ah, lupakan saja dulu tentang itu. Jalani saja.
“Ya, Ken. Aku mau.” Jawabku.
***
Kembali lagi ke dunia yang nyata. Dimana waktu memang nyata. Dimana kenangan hanyalah hal yang tabu.
Jika saja aku membiarkan nafsuku keluar, aku akan menelponmu dan menangis sekencangnya agar kamu tahu sebegitu beratnya aku melepaskanmu pergi. Jika saja aku biarkan egoku menguasai pikiran yang kacau ini, aku ingin kamu terus bersamaku, tanpa ada orang lain lagi. Kalau saja aku membiarkan sifat kekanak-kanakanku keluar, aku akan mempertahankanmu layaknya anak kecil yang sedang mempertahankan lollipopnya yang akan direbut orang.
Kamu tidak akan tahu bagaimana aku terjaga setiap kali memori itu tumbuh dengan cepat dan kuatnya. Kau tidak akan tahu bagaimana sakitnya jadi aku. Tanpa sepatah katapun. Aku tahu, tidak akan ada ucapan ‘selamat tingga’ karena aku meyakini di suatu hari nanti atau di kehidupan lain nanti aku akan bertemu denganmu lagi dengan pemikiran yang berbeda.
Pada akhirnya aku harus merelakan kamu pergi dan kamu memang benar-benar pergi, bukan? Tidak ada yang tinggalkan di sini, kecuali kenangan itu. Kenangan yang abadi. Kenangan yang indah akan tetapi jika aku mengingatnya lagi, itu menyakitkan.
Beruntunglah kalian yang masih bisa melihat ‘dia’ walaupun yang kalian lihat hanyalah sebatas punggugnya, sedangkan aku? Melihat bayangnya saja aku tidak mampu apalagi meraih bayangnya. Aku tahu sebentar lagi mungkin aku akan dilupakan, tapi jujur saja, aku lebih baik ditinggalkan atau digantikan daripada aku harus dilupakan. Karena dilupakan itu adalah hal yang sangat buruk.
Aku hanya mampu menuliskan kata-kata ini karena aku benar-benar tidak dapat mengungkapkannya kepadamu. Jika saja kamu memberikanku ruang untuk berbicara sejujur-jujurnya, aku akan berkata segalanya. Segalanya yang aku rasakan sampai sekarang ini dan semua itu adalah; aku masih menyayangimu, tapi aku sudah letih untuk mengejarmu. Aku merindukanmu, tapi aku sudah muak melihat bantalku basah karena menangisimu ketika aku benar-benar tidak dapat menampung bendungan rindu itu. Aku rindu kamu, Ken. Sadari itu.
Cukup bagiku. Aku sudah berjanji kepada diriku bahwa ini adalah tulisan terkahir tentang kamu. Aku tidak akan menuliskan apa-apa lagi tentangmu dikemudian hari. Beri aku rasa penyesalan apabila aku menuliskan sesuatu lagi tentangmu. Hukum aku dengan rasa rindu yang begitu menyakitkan itu. Aku pantas mendapatkannya. Selamat malam, Ken. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar