Kamis, 01 Agustus 2013

Hi, backstabbers!

Selamat pagi. Selamat hari pertama di Agustus.

Aku dedikasikan seluruh kata-kata ini untuk kalian yang sudah terlalu peduli mengurusi hidupku.

                Sebenarnya aku menulis kata-kata ini bukannya tanpa alasan. Aku lelah dengan dunia. Sungguh. Seandainya aku dapat mengatur dunia, aku akan mengaturnya.
                Terbangun dengan mata kering yang disebabkan oleh air mata yang jatuh dengan derasnya  pada kemarin malam. Aku tidak menangis, aku hanya sakit hati. Wajar kan kalau aku mengeluarkan air mata karena sakit hati? Tentu saja. Mau marah? Ke siapa? Bukankah itu hal yang wajar yang dilakukan oleh setiap perempuan apabila ia merasa disakiti? Karena perempuan hanya bisa memendam, tidak dapat mengungkapkan. Toh jika mereka mengungkapkan, siapa yang akan peduli?
***
                Mereka bilang menjadi berbeda itu perlu. Mereka bilang perbedaan itu indah—asalkan kita masih berada di dalam aturan yang berlaku. Tapi, kenapa ketika aku mencoba untuk menjadi pribadi yang berbeda dari orang banyak, aku malah dicibir? Apakah itu yang dinamakan kebebasan akan perbedaan? Omong kosong.
               Mereka bilang jadi diri sendiri itu perlu. Mereka bilang jangan sampai kita menjadi orang lain. Tapi, kenapa ketika aku menjadi diriku sendiri, aku di olok-olok? Apakah aku salah untuk menjadi diriku sendiri?
             Ketika aku menjadi orang lain, aku dicemooh. Aku menjadi orang lain juga karena kalian. Kalian tidak dapat menerimaku apa adanya, makanya aku mencoba untuk menjadi orang lain--mungkin dengan menjadi orang lain, aku dapat diterima.
               Lalu aku sadari. Aku ini hidup untuk Tuhan, bukan untuk kalian. Aku hidup dengan caraku sendiri. It’s okay, if you all can’t accept me for who I am, toh, ini jalanku, bukan jalan kalian. Kalian tidak mempunyai hak untuk memaksakan seseorang untuk mengikuti jalan kalian. Kita mempunyai cara masing-masing untuk bertahan hidup. Kalaupun kalian memaksaku untuk mengikuti jalan yang telah kalian buat, aku tidak akan mengikutinya. Untuk apa memilih jalan yang gelap jika aku sudah punya jalan sendiri yang lebih terang?
             Kalian hanya tidak dapat mengenaliku lebih dalam. Memang cover depanku sangatlah buruk, tapi… aku juga punya hati—dan hati itu tidak busuk. Bukannya aku membenci kalian, tapi sadar, please. Kalian bilang bahwa kalian gentle, tapi apa? Apakah itu yang dinamakan gentle apabila mencemooh seorang perempuan dibelakangnya? Apakah itu yang dinamakan gentle apabila kalian selalu men-judge seseorang walaupun kalian tidak tahu orang tersebut secara keseluruhan? Kalian bukan seorang laki-laki, tapi banci.
           Kalaupun kalian tidak suka denganku, kenapa kalian selalu berbicara di belakangku? Apakah dengan membicarakanku di belakang akan merubah sikapku? Tidak, bodoh. Kalian gentle kan? Kenapa kalian tidak berbicara saja di depan mukaku dan mengatakan seluruh kejelekanku? Karena backstabbing itu tidak berguna, yang ada malah akan membuat kalian menjadi lebih kesal dan kesal. Aku lebih menghargai orang yang mencemoohku di depan muka, daripada kalian yang mencibirku di belakang. Saat ini aku memproklamasikan bahwa kalian itu banci, homo.
        Terima kasih telah menilaiku dari luar dan menjadikanku sebuah bahan untuk kalian candakan. Setidaknya aku telah membuat kalian tertawa puas, iya kan? Kalian pikir aku tidak tahu? Sadar, perempuan itu perasa. Entah itu tersurat ataupun tersirat, perempuan mengerti artinya.
Maaf jika aku tidak bisa mengubah diriku menjadi orang yang kalian inginkan. Aku hanya hidup untuk diriku dan Tuhan. Silahkan saja jika kalian ingin terus men-judge segalanya tentang aku, tapi ingat; kalian bukan Tuhan, jadi aku tidak peduli apa yang akan kalian katakan. Aku akan menuruti kalian apabila kalian adalah Tuhan, tapi ingat; Tuhan maha Esa dan Tuhan tidak sekejam kalian. Dikemudian hari kalian juga akan lelah dan berhenti.
           Segala ejekan kalian membuatku lebih termotivasi. Lebih termotivasi untuk menjalani hidup yang lebih baik. Aku belajar banyak dari kalian. Terima kasih. Aku bersyukur karena ternyata masih saja ada orang yang peduli dengan segala tingkah lakuku. Hanya satu pesanku; Don’t judge the book from its cover.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar