Selasa, 31 Desember 2013

Post Absurd Malam Terakhir 2013

Wohoooo~ ketemu lagi sama gue cewek-tukang-galau-yangkalau-sekalinya-lagi-strees-langsung-menggila

YEAAAAH THAT'S MY NAME DUDEEEEEE.

Jadi.... ini postingan di akhir tahun. Ntah, gue juga nulisnya ogah-ogahan, yang penting rasa cinta aku ke kamu ngga pernah ogah-ogahan #apeu

Talk about 2013. Whoaaaah gue ngga bisa banyangin kalau gue bakalan ngerasain tahun yang paling paling paling hebat menurut gue. Kapan lagi coba gue ngerasain yang bener-bener namanya first love, depresi yang berkepanjangan dan dilupakan sama temen sendiri. KAPAN LAGI? SAMPAI VAATU MENGALAHKAN RAAFA PADA KONVERGENSI HARMONIK SELANJUTNYA? ATAU SAMPE TENZIN BISA MEDITASI DAN MASUK KE DUNIA ROH? HAH? ATAU NANTI SAMPE MAKO PUTUS DARI ASAMI DAN JADI PACAR GUE? HAAAAAAAAAAAH GUE MENGGILA.

Maaf, tadi abis nonton Korra. Jadi gini. btw katanya book 3 baka keluar Maret. WHOAH YEKALI GUE HARUS NUNGGU. GUE UDAH CAPEK NUNGGU. NUNGGU DOI BUAT MAIN KE SINI AJA GUE HAMPIR GIVE UP. GIMANA NUNGGU EPISODE BARUNYA KORRA? HAAAAAAH ARRRHHH OH YESSS TERUS GITUUUUU AAAAAH.

Tiba-tiba gue pengen jadi Ainun. Setia amat deh ya doi sama Pak Habibie. Entah ini cuman gue doang atau gimana, gue kalau denger ceritanya Habibie Dan Ainun, jadi inget Mr. Fredrickson sama istrinya. Ceritanya sama loh. Si cowoknya yang ditinggal meninggal sama si  cewek, dan ceritanya juga sama-sama tentang terbang-terbangan!!! Kebetulan? Atau jangan-jangan............. KONSPIRASI? :O

Okay, gue makin ngaco.

btw gue lagi kangen sama orang nih. tapi gengsi. gengsi bilang kangen. yaudah. yaudah..... yau..... YA GUE KANGEN TAPI GENGSI. KENAPA GENGSI HARUS ADA? KENAPAAAAA?

'Gengsi ada karena perempuan telah tercipta'.

Quote yang sangat menyentuh ya.

Ohiya.... baru-baru ini gue lagi seneng ngestalk temen gue. Gue liat status fbnya. Kayaknya doi setiap bulan punya pacar baru deh. Wah gampang banget ya..... sedangkan gue...... ya...... berkencan dengan handphone dan laptop. Miris nasib hidupku ini, Ma.

Gue heran. Kenapa temen gue itu laku banget. Padahal body gue lebih caem dari doi. Nevermind. Just nevermind.

Mungkin alasan gue jomblo itu...... gara-gara kelakuan gue deh. Kelakuan gue emang bisa dibilang abnormal. Ditambah lagi temen-temen gue yang..... ya.... sepertinya mereka harus dibawa ke psikiater.

But....... WHY CABE-CABEAN PUNYA PACAR?
sedangkan anak innocent macam gue dan temen-temen ngga.
Why... why....

Gue prediksiin status gue. Dua tahun kedepan gue bakal jomblo. Gue yakin itu. Gue berpegang teguh sama keyakinan gue bahwa gue bakal jomblo dua tahun. Semua itu karena.... karena... karena......... KEJADIAN WAKTU STUDY TOUR.

Oh, God. Gue kesetanan kayaknya waktu itu. Untung aja doi gue udah pindah, kalau belum, pasti doi baka nyesel kenal gue.

Udah ah. Ini makin ngelantur aja.

Byeee! Happy New Year, Everyone!

Senin, 30 Desember 2013

Kaleidoscope 2013



"Give me highs, give me lows, Give me thorns with my rose
I want everything
When you laugh, when you cry,
If you're sober or high, I want everything
Give me love or hate,You can bend me 'til I break
Give me fire, give me rain, I want joy with my pain
I want your fears, your hopes,
The whole kaleidoscope
With you"

The Script - Kaleidoscope

Whoaa ngga kerasa ya tiba-tiba udah di penghujung tahun 2013 aja. Perasaan kemarin baru aja ngerayain tahun baruan sambil telpon-telponan sebentar sama dia, hampir setahun yang lalu ya. Time flies so fast, guys. Gue bersyukukr banget pernah hidup di tahun ini. Menurut gue, tahun 2013 mungkin bisa dibilang titik balik kehidupan gue. Gue udah ngerasain semuanya di tahun ini. Thank God.

Best year ever. Yes, although i got hurt, pain, happiness but I enjoy it. All we have is this moment. Tomorrow is unspoken, yestreday is history. Mungkin 2013 ngga seperti apa yang gue duga, tapi 2013 bener-bener ngasih gue pelajaran, pelajaran yang baru, yang ngga pernah gue dapet di tahun-tahun berikutnya. 

Kalau misalkan gue ditanya, Mau balik ke tahun apa? gue bakal jawab, 2013.

Too memorable.

Well, we're gonna start from....

Sabtu, 28 Desember 2013

Masih merasakan dingin yang sama, layaknya satu tahun kemarin.
Masih merasakan rasa yang sama, layaknya satu tahun kemarin.
Masih merasakan hangatnya hadirmu, layaknya satu tahun kemarin.
Tapi sayangnya, aku merasakan kesunyian di malam ini.
Harusnya ada kamu yang dulu selalu mengisi waktuku setiap saat.
Bukan, bukan maksudku untuk memaksa, Aku hanya rindu kamu.

Jumat, 27 Desember 2013

The Script, Band Galau yang Maskulin

Wohoooo, akhirnya gue bisa ngeblog dengan tenang tanpa memikirkan kuota yang bakal abis. Akhirnya akhirnya................

Well, kali ini gue mau nyeritain tentang Band galau yang anti menye-menye. Yak! Siapa lagi kalau bukan The Script? Wohooooooo~


Selamat Hari Ibu, Mama!

SELAMAT HARI IBU, MAMA!

Hahaha, iya, ini postingan emang udah telat banget, tapi.... who cares? mhehehe.

22 Desember 2013.

Lagi liburan di Jogja. Kapan lagi punya waktu buat liburan bareng-bareng kayak gini? Bapak sibuk, Mama sibuk, ditambah gue yang sekarang bener-bener sibuk ngurusin sekolah, pr, plus organisasi yang capeknya bikin plus plus. Ya, walaupun perjalanan ke Jogja ngaretnya sampe 26 jam, that's okay lah. Baru kali ini gue sama keluarga bener-bener ngerasain yang namanya ngehabisin satu hari penuh lebih dua jam bareng-bareng. Gimana ngga? Farhah sama Fani selalu pulang sore gara-gara sekolahnya fullday school, bapak yang sibuk sama kerjaannya dan mama yang selalu sibuk dengan pasien lahirannya. Iya, jadi anaknya bidan itu..... agak  ngebatin.

And yes... we don't want to waste our precious time, so..... jadilah gue sekeluarga liburan. Yeay!

Di Jogja sana, gue (secara tidak disadari) ngerayain hari ibu. Gue baru ngerasain yang namanya the power of mama itu ya... pas waktu di Jogja kemarin. Gue ngga ngerti kenapa Mama bisa sekuat itu ngehadapin nonok-nonok berisik yang tukang ribut.


She called it 'Wanita Berkalung Sorban'

Rabu, 25 Desember 2013

Me, Just Me.


Do you know who is she? Oh, you knew who she is.
Oh, you knew her stories too? 
Well, do you know what she has been through? No? 
So, shut the fuck up, Jerks.

Aku, Kamu, dan 24 Desember 2012



                   Aku mencoba untuk membuka kedua mataku. Sedikit demi sedikit aku membukanya, tapi ini sangatlah berat.bangun pagi di hari libur memang sangat sullit dilakukan. Kalau saja hari ini aku tidak mempunyai acara, aku akan terus menerobos tidurku sampai pukul sebelas nanti.
                Aku melompat dari tempat tidur, mengambil handuk dan menyiapkan makanan. Aku lakukan semua itu sendiri. Seandainya mama ada di sini bersamaku, aku tidak perlu  repot-repot untuk bangun sepagi ini. Tapi kenyataannya seluruh keluargaku sedang pergi ke Bandung untuk menjenguk nenekku yang sedang berjuang untuk melawan penyakit parahnya.seharusnya aku ikut dengan mereka, tapi karena acara ini, orang tuaku menyarankan agar aku mengikuti kegiatan PMR hari ini.
                Ya, pelantikan PMR. Entah aku harus bersemangat atau merasa tegang. Kenapa acara ini dilaksanakan pada hari libur?
                Aku memeriksa kembali atribut yang harus aku kenakan nanti. Pita nyawa kuning, enam pita kuning yang menggantung di ujung kerudungku, name tag berwarna kuning yang aku kaitkan dengan peniti jumbo di sisi kiri kerudungku, serta makanan-makanan yang harus aku bawa-yang pasti akan dicek pada saat evaluasi nanti.
                Mentari kini menunjukan sinarnya. Burung-burung berterbangan sembari bermain awan. Waktu telah menunjukan pukul setengah tujuh tepat. Aku sudah berada di dalam Sekolah Hijau yang sangat megah. Sesuai perjanjian; seluruh peserta harus datang ke sekolah selambat-lambatnya pukul enam lebih empat puluh lima menit. Setidaknya aku mempunyai sisa waktu lima belas menit untuk menenangkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pelantikan ini tidak akan seseram yang kamu pikirkan, Nid.

Selasa, 17 Desember 2013

The One That Got Away


        “Rafa, beri aku sedikit ruang untuk menulis. Kamu terlalu makan tempat dan berhenti menggangguku!” Aku terus saja mengomel pada Rafa. Aku sedang menyelesaikan tugasku tapi Rafa terus menggangguku. Ya, Rafa adalah teman sebangkuku. Hampir tiga bulan ini aku duduk dengan Rafa. Posisi tempat duduk di kelasku memang diatur sedemikian rupa dan sialnya setiap ada pembagian tempat duduk aku selalu dipasangkan dengan Rafa. Memang menyenangkan duduk dengan Rafa, kata-kata jenaka yang selalu keluar dari mulutnya benar-benar membuang penatku akan hiruk pikuk tentang sekolah, tapi terkadang dia sangat menyebalkan. Dia orang yang sangat jail di kelas. Aku tidak akan luput menjadi salah satu korbannya. Huh, dasar Rafa.

            Lima bulan yang aku habiskan dengan Rafa membuatku semakin nyaman saja berteman dengannya. Dia selalu ada di saat aku membutuhkannya dan begitu pula denganku, selalu siap membantunya  apabila dia membutuhkanku. Sipit adalah panggilan lain yang aku berikan kepada Rafa. Aku memanggilnya sipit karena matanya memang sipit dan apabila ia tersenyum, tiba-tiba matanya menghilang. Rafa memang keturunan Tionghoa, maka dari itu dia mendapatkan mata sipitnya.

            “Berhenti memainkan kerudungku, Sipit! Berhenti menggangguku. Aku sedang sibuk mengerjakan tugasku, Rafa!!!” Aku makin geram, tetapi semakin aku kesal, semakin dia menjadi. Aku tidak dapat menampung emosiku. Aku benar-benar marah, akhirnya aku meninggalkan Rafa.

            “Yah… ada yang pundung nih..” goda Rafa. Walaupun aku pindah tempat duduk, tetap saja Rafa menggangguku. Dasar jahil. Aku menatap mata sipitnya dengan kesal. Rafa masih saja menggodaku.

            “Sudahlah, sebesar apapun kamu mencoba marah denganku, kamu tidak akan benar-benar marah padaku.” Ah, Rafa! Aku benci kamu! Kenapa aku tidak bisa marah kepadamu disaat aku benar-benar kesal denganmu? Sihir apa yang kamu punya? Rafa… Rafa…

            “Kamu benar. Aku tidak bisa marah ke kamu. Huh.” Aku menatap matanya dan ternyata mata cokelatnya dapat mengembalikan moodku yang telah hilang.

            “Ya sudah. Aku akan berhenti mengganggumu. Kerjakan saja dulu tugasmu lalu kita ke kantin. Aku akan menraktirmu es krim.” Rafa akhirnya berhenti menggangguku.

            “Oke, Rafa! Serius? Aaaaah terima kasih!” aku cubit pipi cabinya dan melanjutkan tugasku.

            “Iyaa, Erika! Sudah sudah, berhenti mencubit pipiku!” katanya sambil melepaskan cubitanku dari pipinya. Pipinya memang menggemaskan, makanya aku sering mencubitnya. Jangan bosan-bosan, ya, jika hampir setiap hari jariku selalu mencubit pipimu, Rafa hehe.

Nasib Si Gadis Suram


Coba kau lihat ke arah Gadis Suram itu.
Oh, kau tidak dapat melihatnya? Tentu saja.
Coba kamu perhatikan baik-baik.
Ada seorang Gadis Suram di bawah tumpukan kenangan usang itu.
Gadis itu terlalu bodoh dan membiarkan dirinya tertimbun oleh kenangan masa lalu.

Perhatikan baik-baik rupanya.
Matanya sembab, ada lingkaran hitam disekelilingnya. Sepertinya dia mengangis terlalu lama. Lihat matanya, sembab dan merah.
Kulitnya pucat. Sepertinya dia mati rasa.
Dia tampak berantakan. Apakah ada yang peduli? Tidak.

Perhatikan dia baik-baik.
Apakah kamu dapat menebak sifatnya? Terlihat jelas.

Gadis Suram itu terpuruk.
Keegoisan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu egois untuk melihatmu menggenggam tangan yang beku milik orang lain.

Gadis Suram itu terpuruk.
Keserakahan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu serakah ingin memiliki segalanya tentang kamu.

Gadis Suram itu terpuruk.
Kebodohan yang membuatnya seperti itu.
Dia terlalu bodoh untuk mengeluarkan bulir-bulir air mata yang Ia biarkan mengalir begitu derasnya.

Tubuhnya melebam.
Ia terpukul atas kepergian orang yang begitu sangat berarti di hidupnya.
Tubuhnya remuk.
Ia terhantam bola beton besar yang berisi kenangan.

Apakah kamu dapat melihat kedalamnya?
Jauh, jauh sekali di dalam jiwanya terdapat kepingan hati yang kini sudah remuk redam.

Hati Gadis Suram itu bak sebuah kaca.
Mudah pecah dan tidak akan dapat disatukan lagi walaupun dengan perekat yang paling kuat sedunia
.
Pernah satu kali Ia berpikir bahwa kepingan hatinya ada sebuah puzzel.
Ia mencoba merangkainya kembali.
Menyatukannya untuk menjadi kesatuan yang utuh.
Kemudian dia berlari dan berteriak,

'Dimana kepingan terakhirku?'

Hilang. Kepingan terakhirnya hilang.
Atau lebih tepatnya pergi.

Ia marah. Ia lempar puzzel itu.
Untuk kebeberapa kalinya, hatinya hancur lagi seketika.

Gadis Suram itu memang bodoh.

Apakah kamu meyadarinya?
Ada sebuah kolerasi antara Gadis Suram itu dengan Aku.

Atau lebih tepatnya, Aku adalah Si Gadis Suram itu.

Aku Versus Si Perempuan Beruntung


Mereka bilang, kamu adalah mesin pembuat tawa.
Aku tahu hal itu, itulah hal yang pasti kamu bawa.
Seluruh kelas tertawa kepas karenamu.
Seperti apa yang pernah kamu lakukan dulu.

Andai aku ada di posisi mereka.
Menikmati seluruh hal bodoh yang kau lontarkan.
Kemudian kita tertawa lepas.
Membiarkan tawa kita menguap bersama udara dan menghepas.

Mereka bilang, permainanmu di lapangan sangat ciamik.
Mungkin hal itu yang pernah membuatku berpikir bahwa kamu menarik.
Dengan sigap kamu menghalau serangan dari lawan.
Kemudian berdiri gagah di depan gawang dengan tatapan menantang.

Andai aku ada di posisi mereka.
Menikmati seluruh gerak-gerik tumbuhmu yang lincah dalam memeluk bola.
Kemudian bersorak keras dan mengagungkan namamu.
Seperti apa yang pernah aku lakukan dulu.

Perempuan beruntung itu bilang, kamu adalah yang terbaik.
Kamu adalah orang yang selalu membuatnya tertawa.
Kemudian dia berpikir bahwa kamu adalah Sang Pelukis Hari.
Ya, Perempuan Beruntung itu benar.
Andai aku ada di posisi perempuan yang beruntung itu.

Aku tidak akan menyia-nyiakanmu.
Memegangmu erat dan tak ingin aku lepaskan.
Tetapi mengapa kamu bertingkah seolah-olah seperti pasir?
Semakin aku erat menggenggammu, semakin kamu menghilang. Semakin kamu pergi. Semakin kamu habis.

Ada beberapa pertanyaan yang berlarian di benakku.

Apakah Perempuan Beruntung itu tahu bahwa merah adalah kebanggaanmu?

Apakah perempuan beruntung itu tahu bahwa permen karamel berlapis cokelat adalah pelengkap harimu?

Apakah perempuan beruntung itu membuatmu merasa ada di atas awan ketika kamu sedang berada di titik jenuh kehidupan?

Apakah perempuan beruntung itu melantunkan seluruh nada-nada Sang Maestromu?

Apakah perempuan beruntung itu telah menggantikan jemariku yang dulu pernah aku sematkan di antara sela-sela jemarimu?

Andai aku adalah Si Perempuan Beruntung itu.
Yang akan selalu sangat merasa beruntung untuk memilikimu.



Desember, 2013.
Masih mengubur rindu yang semakin hari, semakin mengembang.