Rabu, 25 Desember 2013

Aku, Kamu, dan 24 Desember 2012



                   Aku mencoba untuk membuka kedua mataku. Sedikit demi sedikit aku membukanya, tapi ini sangatlah berat.bangun pagi di hari libur memang sangat sullit dilakukan. Kalau saja hari ini aku tidak mempunyai acara, aku akan terus menerobos tidurku sampai pukul sebelas nanti.
                Aku melompat dari tempat tidur, mengambil handuk dan menyiapkan makanan. Aku lakukan semua itu sendiri. Seandainya mama ada di sini bersamaku, aku tidak perlu  repot-repot untuk bangun sepagi ini. Tapi kenyataannya seluruh keluargaku sedang pergi ke Bandung untuk menjenguk nenekku yang sedang berjuang untuk melawan penyakit parahnya.seharusnya aku ikut dengan mereka, tapi karena acara ini, orang tuaku menyarankan agar aku mengikuti kegiatan PMR hari ini.
                Ya, pelantikan PMR. Entah aku harus bersemangat atau merasa tegang. Kenapa acara ini dilaksanakan pada hari libur?
                Aku memeriksa kembali atribut yang harus aku kenakan nanti. Pita nyawa kuning, enam pita kuning yang menggantung di ujung kerudungku, name tag berwarna kuning yang aku kaitkan dengan peniti jumbo di sisi kiri kerudungku, serta makanan-makanan yang harus aku bawa-yang pasti akan dicek pada saat evaluasi nanti.
                Mentari kini menunjukan sinarnya. Burung-burung berterbangan sembari bermain awan. Waktu telah menunjukan pukul setengah tujuh tepat. Aku sudah berada di dalam Sekolah Hijau yang sangat megah. Sesuai perjanjian; seluruh peserta harus datang ke sekolah selambat-lambatnya pukul enam lebih empat puluh lima menit. Setidaknya aku mempunyai sisa waktu lima belas menit untuk menenangkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pelantikan ini tidak akan seseram yang kamu pikirkan, Nid.
                Aku berjalan menelusuri lorong kelas sepuluh sembari membaca materi-materi yang telah aku dapat dari seniorku. Materi yang mungkin akan menjadi bahan evaluasi. Tenang. Akhirnya aku menemui ketenangan di sekolah yang tidak pernah tidur ini.
                Aku duduk di pembatas kelas di depan X5. Aku membuka tasku dan meraih ponselku yang aku taruh dalam-dalam di tas. Akhirnya aku mendapatkannya. Layar ponsel hitam gelapku berkedip, menandakan ada pesan teks yang masuk. Aku segera membukanya.
                Ternyata beberapa menit yang lalu mama menelponku, tapi aku tidak mendengar dering dari handphone ini. Satu lagi, ada sebuah pesan teks yang aku terima. Aku buka pesan teks itu,
“Semangat ya mengikuti kegiatan PMR hari ini! Sukses, Jav!”
                Aku lihat siapa pengirim pesan teks ini. Kevin, ya, Kevin. Teman baikku yang baru aku kenal enam bulan belakangan ini. Dia adalah satu-satunya temanku yang menyemangatiku-walaupun dia memanggilku dengan sebutan “Jav”. Jav adalah panggilan baruku. Ntahlah, mungkin ini semua karena username twitterku yang bernama nidanidav, dan kemudian dia memanggilku Dav dan diplesetkan menjadi Jav. By the way, aku gunakan nama Dav untuk nametagku, karena nama Nid sudah ada yang memakainya. Ya, Nidya, temanku yang memakai nama Nid.
                Aku benar-benar terharu. Baru kali ini aku mendapatkan seorang teman yang mendukungku dalam berorganisasi, khususnya dalam PMR.
                “Aaaah iyaaa. Aamiin. Thanks, Sipitttttttttt.” Balasku aku memanggilnya Sipit. Dia layak mendapatkan panggilan seperti itu karena dia benar-benar memiliki mata yang benar-benar sipit.
                Satu per satu teman-temanku akhirnya datang juga. Seniorku sudah berkumpul sejak pukul enam pagi tadi. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh. Kami dikumpulkan di halaman depan sekolah dan menaiki mobil yang akan mengantar kami ke tempat dimana kami akan melangsungkan kegiatan ini.
                Perjalanan ini akan memakan waktu satu setengah jam. Aku duduk di bagian depan mobil, sebelah supir. Tempat itu dapat memuat dua orang. Aku dan Alvin-satu-satunya anak laki-laki yang mengikuti kegiatan ini-duduk bersama.
                Sepanjang perjalanan aku dan Alvin membicarakan tentang bebatuan. Ya, hampir di sepanjang perjalanan yang kami lihat hanyalah pengerajin batu. Itulah topik pembicaraanku dengan Alvin. Nampak kepolosan terlukis di wajahnya oleh ucapan yang dia keluarkan.
                Akhirnya sampai juga kami di sebuah hutan terbuka. Kami melangsungkan seluruh kegiatan dengan menelusuri seisi hutan itu. Sejuk… ya… sangat sejuk. Sesekali aku dan teman-teman seperjuangan menyanyikan yel-yel.
                ***
                Sepertinya kami sudah berada di akhir acara. Perebutan syal kuning yang sudah diberi cap di belakangnya adalah acara puncaknya. Semua peluhku, lara, keringat akhirnya terbayar sudah dengan syal yang telah terikat gagah di kerahku. Dengan bangga aku nyatakan : Aku sudah resmi menjadi anggota PMR. Terima kasih, Tuhan.
                ***
                Di sepanjang perjalanan pulang aku dan teman-temanku tidak ada habisnya membicarakan bagaimana serunya acara pelantikan  yang telah kami lalui tadi. Senang, memang, berbagi cerita dengan teman seperjuangan. Bersakit-sakit bersama dan kemudian mencicipi manisnya sebuah perjuangan.
***
                Langit biru gelap kini menutupi langit Cirebon. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Aku langkahkan kakiku menuju depan gerbang sekolah. Kemudian naik kendaraan umum yang akan membawaku pulang ke rumah.
                Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan diri. Kembang tujuh rupa yang senior banjur kepada angkatanku menempel di baju dan tasku, aku segera membersihkannya. Setelah itu aku rebahkan diriku di kasur. Berterima kasih kepada Tuhan, walaupun tidak ada keluargaku di sini, tapi aku bisa melewati ini. Melewati hari pelantikan yang aku takuti.
                Aku mengutak-atik handphoneku. Ah, ternyata ada pesan teks yang masuk. Aku buka pesan teks itu. Aku tersenyum bersyukur. Terima kasih telah memberiku teman sebaik Kevin, Tuhan. Terima kasih telah memberiku apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan. Ya, aku benar-benar membutuhkan teman semacam Kevin. God knows best. Thank God I’m Full.

“Edeh ya yang udah resmi jadi anak PMR :D”


***

                Yes, it was one year ago, but i still remember gimana rasanya waktu Desember tahun kemarin. Coba aja mesin waktu bener-bener ada. I'd go back to December all the time. I'm sorry for remembering those memories. I'm sorry for wanting you here, with me, with those freaking text messages. I'm sorry for missing you, Kevin. Yes, You are the best thing that ever been mine. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar