Selasa, 17 Desember 2013

The One That Got Away


        “Rafa, beri aku sedikit ruang untuk menulis. Kamu terlalu makan tempat dan berhenti menggangguku!” Aku terus saja mengomel pada Rafa. Aku sedang menyelesaikan tugasku tapi Rafa terus menggangguku. Ya, Rafa adalah teman sebangkuku. Hampir tiga bulan ini aku duduk dengan Rafa. Posisi tempat duduk di kelasku memang diatur sedemikian rupa dan sialnya setiap ada pembagian tempat duduk aku selalu dipasangkan dengan Rafa. Memang menyenangkan duduk dengan Rafa, kata-kata jenaka yang selalu keluar dari mulutnya benar-benar membuang penatku akan hiruk pikuk tentang sekolah, tapi terkadang dia sangat menyebalkan. Dia orang yang sangat jail di kelas. Aku tidak akan luput menjadi salah satu korbannya. Huh, dasar Rafa.

            Lima bulan yang aku habiskan dengan Rafa membuatku semakin nyaman saja berteman dengannya. Dia selalu ada di saat aku membutuhkannya dan begitu pula denganku, selalu siap membantunya  apabila dia membutuhkanku. Sipit adalah panggilan lain yang aku berikan kepada Rafa. Aku memanggilnya sipit karena matanya memang sipit dan apabila ia tersenyum, tiba-tiba matanya menghilang. Rafa memang keturunan Tionghoa, maka dari itu dia mendapatkan mata sipitnya.

            “Berhenti memainkan kerudungku, Sipit! Berhenti menggangguku. Aku sedang sibuk mengerjakan tugasku, Rafa!!!” Aku makin geram, tetapi semakin aku kesal, semakin dia menjadi. Aku tidak dapat menampung emosiku. Aku benar-benar marah, akhirnya aku meninggalkan Rafa.

            “Yah… ada yang pundung nih..” goda Rafa. Walaupun aku pindah tempat duduk, tetap saja Rafa menggangguku. Dasar jahil. Aku menatap mata sipitnya dengan kesal. Rafa masih saja menggodaku.

            “Sudahlah, sebesar apapun kamu mencoba marah denganku, kamu tidak akan benar-benar marah padaku.” Ah, Rafa! Aku benci kamu! Kenapa aku tidak bisa marah kepadamu disaat aku benar-benar kesal denganmu? Sihir apa yang kamu punya? Rafa… Rafa…

            “Kamu benar. Aku tidak bisa marah ke kamu. Huh.” Aku menatap matanya dan ternyata mata cokelatnya dapat mengembalikan moodku yang telah hilang.

            “Ya sudah. Aku akan berhenti mengganggumu. Kerjakan saja dulu tugasmu lalu kita ke kantin. Aku akan menraktirmu es krim.” Rafa akhirnya berhenti menggangguku.

            “Oke, Rafa! Serius? Aaaaah terima kasih!” aku cubit pipi cabinya dan melanjutkan tugasku.

            “Iyaa, Erika! Sudah sudah, berhenti mencubit pipiku!” katanya sambil melepaskan cubitanku dari pipinya. Pipinya memang menggemaskan, makanya aku sering mencubitnya. Jangan bosan-bosan, ya, jika hampir setiap hari jariku selalu mencubit pipimu, Rafa hehe.


            Aku selesaikan tugaku secepat mungkin. Rafa menungguku dan sesekali membantuku jika aku mengalami kesulitan. Dia memang anak yang pandai, tapi kelakuannya tidak pernah mencerminkan bahwa dia anak yang pandai. Dia nakal tapi cerdas. Itulah satu hal yang aku kagumi dari dirinya.

            Kami selalu bersama. Pergi ke kantin bersama, duduk bersama, membuat onar bersama, dan mengahabiskan waktu bersama. Dia memang teman yang sempurna menurutku. Aku belum pernah mendapatkan teman yang seperti Rafa sebelumnya dan aku benar-benar bersyukur dapat bertemu dengannya.

            Akhirnya tugasku selesai juga. Aku segera bergegas mengumpulkannya di meja guru. Rafa yang sedari tadi berada di sampingku menemaniku menuju ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, aku masuk dan meletakkan tugasku ke meja guru yang dituju. Setelah itu aku dan Rafa pergi ke kantin bersama.

            “Kamu duduk di sini saja, biar aku yang membawakan es krimnya.” Kata Rafa. Tidak lama kemudian dia hilang di kerumunan orang-orang yang berada di kantin. Lima menit kemudian aku melihat dua buah es krim di kedua tangannya.

            “Es krim cokelat. Favoritmu, kan?” tanya Rafa seraya menyodorkan es krim kepadaku.
            “Iya. Terima kasih banyak, Rafa!” ucapku sambil menerima es krim cokelat itu dari tangan Rafa.
            “Sama-sama, Erika. Anggap saja itu permintaan maafku atas kejahilanku.”
            “Ah, lupakan tentang kejadian itu haha.” Kataku sambil menjilat es krim cokelat yang lembut nan lezat ini.
            “Eh, Ka, aku ingin cerita. Boleh kan?”
            ”Aku siap mendengarkannya, Sipit!”
            “Jadi gini, Mamaku bilang aku harus gantung raket, karena jika tidak, kesehatanku akan terganggu.” Terlihat kekecewaan terpampang di wajahnya. Ya, dia adalah seorang atlet bulu tangkis yang hebat menurutku. Aku bertanya mengapa dia harus berhenti dari dunia bulu tangkis dan apa hubungannya dengan kesehatannya? Tapi dia malah tidak menjawab.
            “Oh, iya, Ka… ada sesuatu yang aku ingin katakan kepadamu.” Wajahnya kini berubah menjadi serius.
            “Ada apa, Sipit? Katakan saja.”
            “Ah, lupakan. By the way, es krim cokelatmu mengotori wajahmu.” Dia sepertinya ragu untuk mengatakan sesuatu kepadaku. Ada apa dengan Rafa?

            Aku membersihkan sisa es krim yang berada di wajahku dan kembali ke kelas karena bel tanda istirahat selesai telah berdering begitu kerasnya memasuki telinga. Aku dan Rafa berjalan berdampingan melewati lapangan basket. Jika orang-orang yang tidak tahu akan pertemanan kami mungkin akan berpikir bahwa kami ini adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak, dimana ada dia, di situ pasti ada aku.

***

            Aku rebahkan seluruh badanku ke kasur. Membiarkan otot-ototku meregang. Aku pulang agak sore hari ini karena ada kegiatan di sekolah. Capek memang, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji untuk mengabdi pada kegiatan itu. Rasanya aku ingin terus dijerat oleh kasur. Nyaman, sangat nyaman.

            Aku melepas kerudungku dan segera membersihkan diri. Setelah itu, aku jatuhkan kembali badanku ke benda yang sangat empuk ini. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku lihat ponselku, oh ternyata ada sebuah pesan teks.

            “Hai, Ka! Truth or dare?” isi pesan teks itu. Aku lihat siapa pengirimnya, ternyata Rafa.
            “Hai, Rafa! Hmm.. Dare!” jawabku.
            “Okay. I dare you to be my girlfriend for three days. Deal?” aku kaget luar biasa saat membaca isi pesan teks itu. Ide gila macam apa itu, Rafa? Aku kira ‘dare’ di sini adalah mempermalukan diriku di depan umum, tapi… dare macam apa ini?
            “Hey, bro. Hal gila macam apa lagi yang akan kamu lakukan, Rafa? Aku kira bukan dare yang seperti ini.”
            “Jadi mau ngga? Kalau kamu tidak berani, kamu payah!” balas Rafa.
            “Dasar, Sipit! Baiklah, karena aku bukanlah orang yang payah, aku berani melakukan itu!” aku terima tantangan Rafa. Lagipula berpura-pura menjadi kekasihnya bukanlah hal yang sulit, seperti apa yang sudah aku katakan; orang-orang pasti mengira kami adalah sepasang kekasih. Kami selalu pergi bersama, jadi itu bukanlah hal yang sulit.
            “Okay, sayang!” isi pesan teks dari Rafa.
            “Ih, apa-apaan sih, Sipit. Ngga lucuuuuu!” balasku.

***
            Hari demi hari aku lalui menjadi kekasih palsunya Rafa. Entah aku ini gila atau apa, semakin hari aku semakin nyaman dengannya. Nyaman yang lebih dari sekedar teman. Ada apa ini? Huh, jangan sampai kamu menaruh hati pada Si Sipit yang jahil itu, Erika! Aku mensugestikan diriku sendiri agar tidak terlalu nyaman dengan keadaanku selama tiga hari ini. Perhatian demi perhatian yang Rafa berikan kepadaku setiap hari membuatku semakin nyaman saja. Aku tidak ingin mempunyai sedikit saja rasa denganya, karena aku sadar diri, aku ini hanya teman. Sebatas teman dan tidak lebih.

            Aku mendirikan sebuah dinding untuk menguatkan diriku dari perhatian Rafa yang begitu kuatnya, tapi aku gagal. Dinding itu akhirnya rubuh dikalahkan oleh serangan yang bertubi-tubi dari Rafa.

            Akhirnya tantangan tiga hari itu selesai juga. Ada perasaan senang dan juga ada perasaan kecewa ketika aku tahu ini sudah berakhir. Senang karena aku sudah berhenti berpura-pura untuk menjadi kekasihnya dan kecewa karena aku takut Rafa tidak memberikanku perhatian yang seperti ia kasih pada tiga hari itu. Bukannya aku membutuhkan perhatian dari Rafa, tapi… ah, aku mengaku, aku menyayanginya.

            Dalam tiga hari itu, aku balas semua perhatian dari Rafa. Aku sekarang begitu peduli dengan Rafa, lebih dari peduli yang aku beri seperti hari sebelum tiga hari itu. Saat ini peduli dengan Rafa adalah sebuah kebiasaan, dan seperti yang kita ketahui; kebiasaan itu sulit untuk dihentikan. Aku benci untuk mengatakan ini. Aku ingin tiga hari itu terulang kembali. Aku ingin menjadi lebih dari sekedar teman dekatnya, menjadi perempuan yang selalu nomor satu untuknya, tapi itu tidak mungkin, mengingat kami adalah teman yang sangat dekat dan kami memiliki keyakinan yang berbeda. Aku tahu ini terlalu dini untuk dipikirkan, tapi jika saja aku benar-benar jatuh cinta padanya dan menjadi kekasihnya, aku tahu, suatu hari nanti kita akan berpisah. Berpisah karena perbedaan yang kami miliki. Aku hanya takut jika aku sudah mencintai Rafa begitu dalam, aku tidak mau kehilangannya. Tapi, sudahlah, biarkan waktu saja yang menjawabnya.

            Semakin hari aku semakin membenci diriku sendiri. Gejolak rasa yang terus menerus tumbuh semakin terus menyiksaku, tapi aku harus terus menahannya. Aku tidak ingin membiarkan diriku jatuh cinta kepada Rafa, tapi Rafa begitu hebatnya. Dia selalu memberiku segala perhatian itu. Aku terjebak dalam friendzone. Aku tahu itu.
***
            Hari sudah larut. Aku segera memejamkan mataku dan bersiap untuk mati suri dalam waktu yang sangat singkat. Di saat aku akan memejamkan mataku, ponselku bergetar. Mengisaratkan ada sebuah pesan teks yang aku terima. Entah apa yang telah terjadi, tapi tiba-tiba saja badanku menjadi mati rasa. Pantas saja aku mati rasa, pesan teks itu ternyata dari Rafa.

            “Erika, kamu sudah tidur?” isi pesan teks itu.
            “Semenit yang lalu aku baru saja mencoba untuk memajamkan mata.” Balasku.
            Menit demi menit aku menunggu balasan pesan teks dari Rafa tapi tidak kunjung datang juga. Mataku mulai berat, aku tidak dapat menahan rasa kantuk ini lagi. Selamat malam, dunia. Selamat malam, Rafa.
***
            Sekolah adalah rutinitasku selama hari Senin sampai Sabtu. Entah itu sebuah rutinitas atau sebuah kewajiban, aku tidak dapat membedakannya. Sekolah-belajar-sekolah-belajar. Selalu saja begitu.

            Aku letakkan tasku dan duduk di kursiku. Sesungguhnya aku masih mengantuk, tapi apa daya, aku harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Tidak lama kemudian Rafa datang.

“Maaf aku tidak membalas pesanmu kemarin. Aku hanya tidak ingin mengganggu jam tidurmu.” Rafa menjelaskan.

            Andaikan dia tahu kalau aku benar-benar sangat menginginkan pesan teks darinya. Kupu-kupu di dalam perutku tiba saja terbang dengan riangnya apabila aku melihat ada pesan teks dari Rafa.

            “Iya, tidak apa-apa kok.” Aku berubah menjadi orang yang munafk. Menjadi seorang pembohong yang begitu bejatnya karena aku telah membohongi diriku sendiri. Maafkan aku telah mendzalimi diriku sendiri, Tuhan.

            Rafa, Rafa, dan Rafa. Nama itu yang terus menerus berlarian di pikiranku. Entah apa yang terjadi saat ini, tapi… aku benar-benar tersiksa dengan keadaanku sekarang. Dilemma berat akan segala masalah yang menyangkut denganku dan Rafa. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa aku harus berada di dalam keadaan yang rumit ini?

            “Erika, pulang sekolah nanti jangan pulang dulu, ya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Rafa dengan raut wajahnya yang penuh misteri.

            Apa yang akan Rafa katakan ya? Apakah sebegitu pentingnya sehingga harus menunggu waktu pulang sekolah? Entahlah.
***
            Aku menunggu Rafa di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari pinggir lapangan basket. Kami sudah sepakat untuk bertemu di sini. Satu menit…dua menit… sepuluh menit aku menunggunya tapi batang hidungnya tetap tak terlihat. Kemana Rafa?

            Aku memasuki jemariku ke dalam saku seragam untuk meraih ponselku. Aku benci menunggu, makanya aku harus sesegera mungkin memberitahu Rafa kalau aku sudah berada di sini menunggunya.

            Mataku tiba-tiba saja tidak dapat melihat cahaya. Ada sesuatu yang telah menutupi mataku. Aku raba dan berusaha menebak-nebak sesuatu yang menutupi mataku itu. Aku rasakan sesuatu itu, sangat lembut… tunggu dulu! Ternyata ada dua telapak tangan yang berada di depan mataku. Aku berusaha menebak telapak tangan siapa itu, akhirnya aku sadari ternyata itu adalah telapak tangan Rafa. Aku dapat mengenalinya dari parfum yang ia pakai. Huh, dasar jahil!

            “Sipiiiiiit! Apa yang kamu lakukan?” aku mencoba melepaskan jeratan telapak tangan Rafa dan akhirnya aku dapat melihat kembali.
                "Truth or dare?!" Ternyata rafa masih belum puas akan permainan truth or dare kami yang kemarin.
            "Baiklah, dare!" Aku memberanikan diriku
"Okay, I dare you to love me." Tantang Rafa. Apa yang Rafa lakukan? Maksudku, Rafa menantangku untuk mencintainya? Aku memang mencintainya, tapi menurutku rasa cinta itu tumbuh terlalu dini untuk kita yang baru saja mencicipi masa putih-abu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin berpura-pura lagi, aku lelah untuk menutupi segala rasa yang aku punya itu dengan topeng. Itu sungguh menyiksa. Berpura-pura di saat aku bersungguh-sungguh. Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah sayang itu adalah cinta? Apakah tulus itu adalah cinta? Jika iya, aku jatuh cinta kepada Rafa karena aku menyayangi Rafa setulus hatiku. Aku harus apa? Berpura-pura dan membunuh diriku secara perlahan dengan mengubur dalam-dalam rasa itu? Atau mengakui kalau aku benar-benar mencintainya?
"No, Rafa. That's a truth." Aku mengaku. 
"Really?" Tanya rafa.
"Rafa, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini. Lima bulan kita bersama, semakin membuat diriku nyaman sekali denganmu. Kamu berbeda. Perhatian yang kau beri kepadaku setiap hari itulah yang menumbuhkan bibit-bibit perasan yang semakin hari semakin kuat, tapi aku adalah penakut yang takut kehilangan teman. Kamu memang teman yang sangat baik. Aku belum pernah menemukan seorang teman sesempurna kamu, tapi di sisi lain aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar pertemanan. Aku memang perempuan yang tamak yang menginginkan ini-itu tanpa ingin kubagi kepada siapapun. Aku ingin kamu. Hanya itu." Aku mengaku. Aku menjelaskan semuanya. Rafa hanya terdiam. 

Tolol! Kenapa kamu harus memberitahu hal-hal konyol itu kepada Rafa, Erika? Bagaimana kalau Rafa memang tidak mempunyai secuil rasa kepadamu? 

"Sebenarnya aku juga begitu, Erika. Maksudku, aku ingin kita itu lebih dari sekedar teman. Lebih dari sekedar berbagi canda dan tawa tapi juga berbagi cinta, tapi aku pikir itu adalah hal yang mustahil di saat aku menyadari ada tembok besar yang menghalangi kita. Aku tahu jika aku menghancurkan tembok itu aku akan menjadi seorang pendosa. Aku hanya ingin selalu bersamamu, apakah itu salah? Aku ingin menjadi laki-laki yang selalu ada untukmu. Aku ingin menjadi kekasihmu, hubungan pertemanan ini sangat menyiksa batinku yang serakah ini. Apakah kamu mau, Erika?" Akhirnya Rafa mengaku. Ternyata Rafa juga memiliki rasa yang sama terhadapku. Aku harus jawab apa? Aku ingin, tapi... lupakan tentang perbedaan untuk sementara. Aku benar-benar ingin menjadi kekasihnya. 
"Ya, aku mau Rafa." 
***
Hari demi hari kami lalui dengan sebuah hubungan yang begitu istimewa. Saling perhatian satu sama lain. Semakin hari aku semakin sayang dengannya. Terselip rasa takut apabila menyadari kami akan berpisah tidak lama lagi. Iya, berpisah. Aku sadar diri bahwa kami tidak akan bisa bersama selamanya. Maka dari itu aku habiskan waktu bersama Rafa seakan esok adalah hari terakhir yang kami miliki. Sosok seorang Rafa yang selalu ada di pikiranku. Apakah aku melakukan hal yang salah, Tuhan? 

Matahari hampir tergelincir menandakan waktu sore hampir berakhir. Aku dan Rafa masih saja berbagi tawa bersama. Kami adalah dua orang remaja yang sedang dimabuk cinta. Tidak peduli hari walaupun hampir senja, yang aku inginkan sekarang hanyalah bersamanya. 

            "Erika, apakah kamu percaya akan keabadian?" Tanya Rafa. 
            "Tidak sepenuhnya." Jawabku.
            "Loh, kenapa?" Tanyanya lagi. 
            "Sudah jelas. Keabadian itu tidak sepenuhnya ada. Lihat saja kita. Kita tidak akan abadi. Ini adalah dunia yang fana, Rafa. Hanya hari setelah kematian kitalah yang dapat disebut abadi." Aku menjawab. 
"Kalau kita tidak akan abadi, untuk apa kita sekarang dipersatukan?" Sebuah pertanyaan yang begitu menyayat hati meluncur dari mulut Rafa. 
"Mungkin Tuhan mempunyai sebuah rencana. Rencana yang lebih indah dari rencana kita. Tuhan membiarkan sesuatu terjadi dengan sebuah alasan. Rencana Tuhan menyatukan kita didasari oleh alasannya yang kuat, kita hanya harus melakukan sesuatu agar Tuhan percaya bahwa kita layak mendapatkan rencananya. Sebut saja rencana itu takdir. Aku tahu, segala yang Tuhan lakukan tidak akan sia-sia. Kita harus menjalani itu tanpa harus mengelak. Menjalankan apa yang telah Tuhan perintahkan pada kita, agar kita dapat sesuatu yang layak." Jelasku panjang lebar. 
"Lalu bagaimana dengan perbedaan yang kita miliki?" Lagi-lagi Rafa bertanya. 
"Tuhan memang satu, tapi Tuhan punya banyak nama dan aku yakin orang-orang di luar sana mempunyai caranya sendiri untuk menyembah Dzat Yang Maha Segalanya. Itu adalah hak asasi yang dimiliki manusia sejak lahir dan hak asasi itu adalah anugerah dari Tuhan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak seseorang, karena jika kita memaksa, sama saja kita menentang Tuhan. Aku meyakini orang-orang memiliki jalannya sendiri untuk menjalani hidupnya, hmm… dan perbedaan... ya aku tahu di zaman yang sudah modern ini mungkin sebagian orang sudah berusaha menyikapi segala perbedaan. Banyak orang di luar sana menyuarakan tentang perbedaan. Menjadi berbeda tidaklah begitu menyeramkan. Anggap saja semua omongan tentang perbedaan hanyalah omong kosong, di saat orang-orang dengan semangatnya meneriaki tentang indahnya perbedaan, ada banyak orang yang masih menganggap perbedaan adalah hal yang tabu. Menurutku perbedaan itu indah. Kita dapat saling berbagi melalui perbedaan. Perbedaan juga mungkin dapat menyatukan kita. Perbedaan banyak memberi pelajaran pada kita. Aku yakin itu." Aku berusaha mengeluarkan pendapat yang ada di otakku. 
"Kamu benar, Erika. Kalau saja aku mempunyai kesempatan untuk memilikimu lebih lama lagi, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Ku lihat mulutnya sedang mengumbar janji.
            "Janji tidak akan meninggalkanku? Omong kosong, Rafa. Sadari, kita tidak akan mungkin bersama. Kita akan berpisah suatu hari nanti." Aku meletakkan kepalaku ke pundak Rafa. Sangat nyaman. 
"Iya. Aku janji. Terserah saja jika kamu menganggap ini omong kosong. Aku salah satu orang yang percaya bahwa takdir itu dapat diubah. Percayalah." Rafa mencoba meyakinkanku. 
"Terserah kamu saja yang terpenting untuk hari ini adalah aku ingin terus bersamamu. Aku tak ingin kehilanganmu." 

Hari mulai gelap, aku kini kalap. Mama pasti akan memarahiku jika aku pulang terlalu sore. Rafa mengantarkanku pulang ke rumah dengan motor birunya. Senja yang indah. Aku berharap senja ini tidak pernah berakhir. 
***
Hampir satu tahun kami saling berbagi kasih. Perjalanan kami sampai saat ini mulus-mulus saja. Tidak ada hambatan yang berarti antara kita. Perbedaan yang kita punya hanyalah angin lalu, kami hanya memikirkan hari esok. Tidak peduli dengan omongan orang banyak yang terpenting sekarang adalah aku bahagia bersama Rafa. Aku ingin selalu bersamanya dan tidak ingin kehilangan dirinya.

Sudah dua hari ini Rafa tidak masuk sekolah. Tanpa surat izin dan pemberitahuan apapun. Pesan teks dariku tak dibalasnya. Aku berusaha untuk menghubunginya tapi tetap saja tidak bisa. Rafa kemana kamu? Tidak biasanya dia seperti ini. Tidak memberi kabar selama dua hari. Kabari aku, Rafa, walau hanya satu detik. Aku merindukanmu. 

        Rafa benar-benar menghilang. Tidak terdengar secuil kabar darinya yang singgah di telingaku. Aku mulai khawatir. Apakah dia baik-baik saja? Rafa aku butuh kamu. 

            Tiga hari sudah Rafa membiarkanku tersiksa dengan permainan liciknya itu. Menghilang begitu saja, padahal ulang tahunku akan jatuh dua hari lagi. Apakah dia sedang menjalankan sebuah rencana untuk mengerjaiku? Tidak mungkin, kalaupun ia sedang mengerjaiku dia tidak akan sampai absen untuk masuk sekolah. Rafa kamu kemana? Apakah kamu lupa bahwa dua hari lagi adalah ulang tahunku? Semoga kamu baik-baik saja. 

"Kamu kemana saja? Apakah kamu baik-baik saja? Sudah tiga hari ini kamu menghilang. Aku rindu kamu Rafa. Aku sakaw, kamulah satu-satunya obatku. Salam rindu dariku." Kurang lebih itulah isi pesan teks yang aku kirim ke nomor Rafa. Aku benar-benar tidak kuat hidup tanpanya. 
Satu jam.. dua jam... aku masih menunggu balasan dari Rafa, tapi ponselku tetap bersikukuh memberiku isyarat bahwa tidak ada pesan teks yang masuk. Hari sudah semakin larut, lebih baik aku tidur saja. Selamat malam, Rafa. 
***
Aku merasakan sebuah getaran. Ternyata getaran itu berasal dari ponselku. Aku tergesa-gesa mengambil ponselku dan berharap bahwa itu adalah pemberitahuan dari Rafa. Benar saja! Itu Rafa! Ah senangnya. 

"Hai, Erika! Maaf aku tidak memberimu sedikit kabar tentangku. Aku baik-baik saja. Oh iya, Erika, aku ingin memberimu sebuah dare, kamu mau melakukannya kan? Aku tahu kamu adalah seorang perempuan yang berani menghadapi tantangan haha. Okay, ini dia dare-nya : Aku menantangmu untuk hidup satu hari penuh tanpaku. Apakah kamu bisa? Aku yakin kamu bisa. Maafkan aku telah membuatmu khawatir. Tak ada maksud untuk membuatmu seperti itu. Baiklah, sekarang pukul lima pagi, aku mulai tantangan ini. Sampai bertemu di pukul lima pagi selanjutnya! Sayang kamu!" 

Ah, Rafa! Akhirnya kamu memberiku sebuah pesan teks. Tantangan lagi? Siapa takut! Lagipula aku sudah tiga hari ini terbiasa hidup tanpamu--maksudku, tanpa kabar darimu-- jadi aku yakin aku bisa. Lihat saja! 

***
Terbangun dari tidur lelapku yang amat singkat ini dan merasakan ada sesuatu yang kurang. Ah, tidak ada ucapan 'selamat pagi' dari Rafa, tapi siapa peduli? Aku kan memang sedang ditantang untuk hidup tanpa dirinya untuk sementara. Lihat saja, Rafa, tantanganmu akan aku penuhi. 

Detik demi detik aku lalui tanpanya. Tak melihat dirinya di sekolah dan tak mendengar secuil suaranya benar-benar membuatku sangat sekarat, tapi aku harus menahan diri. Aku harus membuktikan kalau diriku memang seorang perempuan yang kuat--walaupun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku benar-benar ingin melihat wajah Rafa. Aku memang perempuan yang munafik.

***
Aku terbaring lemah dan merasakan sesak di dadaku. Aku menyiksa diriku sendiri karena menerima tantangan yang telah Rafa berikan. Aku memang seharusnya sudah terbiasa dengan ini, apalagi Rafa pernah menghilang tiga hari tanpa kabar, tapi kali ini aku benar-benar merasa dunia ini tidak memiliki oksigen sama sekali. Sangat sulit sekali bernafas tanpa dirinya. Rafa, kenapa kau tega melakukan ini padaku? 
Kurebahkan diriku yang tak berdaya ke benda yang sangat empuk ini. Kubiarkan rasa sakit akan tantangan dari rafa menjalar ke seluruh tubuh. Aku nikmati rasa sakitnya. Rasanya aku ingin mati saja. Entah ada apa denganku hari ini, tapi jiwaku memang benar-benar tidak tenang. Aku biarkan mataku tertutup dan pergi ke alam tidur. 

Kulihat jam yang terletak di dinding kamarku. Ah, tepat pukul lima pagi. Aku benar-benar sudah menyelesaikan tantangan dari Rafa--walaupun bertubi-tubi cobaan datang kepadaku. Jiwaku masih tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal hatiku saat ini. Ada apa? Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi gejolak rasa tidak enak masih saja terus menggebu-gebu. 

"Rafa! Lihat aku! Aku masih hidup walaupun tanpamu! Aku sudah berhasil melewati tantangan yang kamu berikan kepadaku. Aku memang wanita yang selalu berhasil untuk menghadapi sebuah tantangan! Haha. Oh iya, apakah kamu ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku? Hehe. Sayang kamu!" Ku kirim pesan teks itu ke nomor Rafa. Hanya sekedar memberitahu bahwa aku sudah berhasil melewati tantangan yang Rafa berikan. 

Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Aku harus bergegas pergi ke sekolahku untuk menuntut ilmu. Kukayuh sepeda merah jambuku ini menuju ke sekolah. Sesampainya di depan sekolah, aku memarkirkan benda merah jambu itu di tempat parkir sepeda yang berada tidak jauh dari kelasku.

Rafa tidak masuk sekolah hari ini. Rafa kemana? Apakah dia baik-baik saja? Sudah hampir lima hari tidak masuk sekolah dan tanpa keterangan. Apakah kau ingat bahwa hari ini adalah hari spesialku? Enam belas tahun yang lalu aku lahir di hari ini. Apakah kau masih ingat? Aku tak butuh banyak hadiah, yang aku butuhkan adalah kehadiranmu, Rafa. 
***
Bel tanda sekolah telah selesai berdering dengan nyaringnya. Tak ada yang spesial di hari ulang tahunku yang ke enam belas ini. Hanya ucapan dari teman-temanku yang aku dapatkan hari ini. Aku memang orang yang tak pernah puas. 

Aku benar-benar mengkhawatirkan Rafa. Aku hubungi nomor Rafa, berharap dapat mendengar sedikit saja suarnya. Ternyata dia menjawab panggilanku! 

"Halo, Rafa! Apa kabar? Kamu kemana saja? Kamu sehat kan? Apakah kamu masih ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku?" Aku bicara tanpa jeda pada benda yang disebut ponsel ini. 
Tak ada suara yang aku dengar setelah aku menyelesaikan kalimat-kalimatku. 
"Halo? Rafa? Kamu dapat mendengarkanku kan?" Ucapku. 
Tetap tak ada respon.
"Rafa?" 
"Maaf, ini nak Erika, ya?" Kudengar suara seorang wanita yang membalas perkataanku. Suaranya terlihat sangat lemah. Lebih ke sebuah rintihan. Ada apa? Apa ini? 
"Iya, tante. Saya Erika. Rafanya ada tante?" Tanyaku khawatir. 
"Temui saya di Jalan Kamboja. Kau akan menemukannya." Tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Apa yang terjadi, Tuhan?
***
Aku melihat seorang wanita yang berada di ujung jalan. Rambutnya yang sudah memutih membuatnya semakin mencolok. Dia melambaikan tangan ke arahku seakan dia tahu bahwa aku adalah orang yang ia tuju. Aku parkir sepedaku dan menghampiri wanita itu. Matanya sembab, suaranya berat, wajahnya melukiskan kesedihan. Ternyata wanita itu adalah ibunya Rafa. Dia memberikanku sebuah amplop berwarna baby pink dan menyuruhku untuk membacanya. 
Cirebon, 14 Januari 2013. 
Hai, Erika! Apa kabarmu? Pasti kabarmu sangat baik. Maaf telah membuatmu khawatir selama ini, tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa sekarang aku benar-benar damai. Oh ya, jika kamu sudah membaca surat ini berarti kamu sudah berhasil melalui tantangan yang aku berikan kepadamu. Aku tahu kamu pasti bisa. Anggap saja itu adalah sebuah fase latihan, maksudku jika aku sudah tiada, maka kamu akan kuat menghadapi hari tanpaku. Tahan air matamu. Jangan tangisi aku. Aku berani bersumpah bahwa aku damai di sini. 
Maaf aku telah mengingkari janjiku untuk tidak meninggalkanmu. Tuhan sudah mempunyai rencana bahwa nafasku akan berakhir sekarang. Aku memang manusia yang hina yang tak bisa menepati janji, tapi aku yakin kita akan bertemu lagi di kehidupan setelah kematian. Kau bilang itu akan abadi, iya kan? 
Maaf aku tak pernah membicarakan tentang semua ini kepadamu, aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih. Aku hanya ingin menjadi alasanmu ketika kamu tersenyum. Aku benci melihat tetesan air mata yang mengalir dari matamu. 
Ragaku memang pergi, tapi kenangan yang kita buat akan abadi. Percayalah. 
Hari ini adalah hari ulang tahunmu, iya, kan? Maaf jika aku tak bisa menghadiri pesta ulang tahunmu. Aku sudah tidak bisa lagi menggapai dirimu. Selamat ulang tahun, Erikaku! Aku mencintaimu sampai nafas terakhirku. Pegang itu. Kamu yang terbaik. Semoga kita akan bertemu lagi di kehidupan yang selanjutnya.
Salam sayang, Rafa.

Mataku sudah tidak kuat lagi menahan bendungan air mata, lidahku kelu, nafasku tidak beraturan, jantungku berhenti sejenak. Aku terbelalak kaget setelah membaca surat itu. Surat dari sesorang yang telah berada di sisi-Nya dan merasa damai. Aku benar-benar tak percaya. 

"Tahan." Ujar wanita itu. 
Wanita itu selanjutnya menuntunku ke rumah duka. Kulihat wajah-wajah yang begitu terpukul atas kepergian orang yang mereka sayang. Aku dapat merasakannya. 

          Mataku tertuju pada sebuah peti yang sederhana, tidak terlalu mewah. Ku lihat seseorang yang berada di dalamnya. Seseorang dengan mata sipitnya terbaring dengan damai di dalam peti itu. Sepertinya Rafa benar, dia memang damai. Ku lihat sebuah senyuman yang samar-samar dari bibirnya. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku tumpahkan segala sakit yang aku rasakan saat ini melalui air mata. Aku seperti orang yang kesurupan. Meneriaki sebuah jasad yang aku yakini masih terdapat ruh di dalamnya,
 "Kamu hanya tertidur kan, Rafa? Jika iya, tolong buka matamu! Bangun dari mimpimu! Keluarkanlah gas karbondioksida dari hidungmu itu! Gerakan jantungmu, Rafa! Aku harap aku dapat mendengar detaknya lagi! Aku benci disaat yang seperti ini. Terkutuk kau! Beraninya meninggalkanku di saat aku sangat membutuhkan dirimu. Inikah yang aku dapatkan ketika aku sudah berikan segalanya untukmu? Apakah doa kita tidak terlalu kuat untuk melawan takdir? Kamu berjanji bahwa kamu tidak akan meninggalkanku! Bersamamu aku meniti masa depan, berharap itu bukanlah sebuah bualan. Tapi mengapa kini kamu pergi, Rafa?”
***
Aku meratapi sebuah gundukan tanah merah yang berada tepat di depan mataku. Tidak percaya akan takdir yang aku terima. Inikah hadiah yang aku dapatkan di hari ulang tahunku ini? Nafasku benar-benar sesak. Katakan bahwa ini adalah sebuah mimpi, Tuhan. Bangunkan aku dari mimpi ini.

Segala rencana yang aku buat dengan Rafa kini hanyalah sebuah angan-angan yang tidak akan mungkin terjadi. Aku benar-benar ingin dia kembali, apakah ini salah? Aku belum siap untuk menerima semua ini.

Aku seka air mata yang menuruni pipi merahku. Mengangkat kepalaku dan mulai menyadari apa yang terjadi. Selamat jalan, Rafa. Kamulah sang The one that got away. Aku tidak akan bisa melupakanmu. Doaku selalu menyertaimu. Sayang kamu, Rafa.

“In another life,
I would be your girl. We’d keep all our promises be “us” against the world.
In another life,
I would make you stay. So I don’t have to say you were the one that got away.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar