Jumat, 19 Desember 2014

Pertanyaannya bukan, "Bagaimana aku melalui tahun demi tahun."
Tapi, "Bagaimana aku bisa melewati Desember ke Desember lainnya."

(Crazy) Photoshoot

Selamat malam di Bulan Desember!
Besok bagi rapot.
Tapi w ngga peduli.
hehe.

APA KABAR, DUDEEEEE?!
udah lama ngga ngeblog asli deh sampe lupa gimana caranya nulis. udah kaku banget heuheu. Udah ngga pernah galau lagi jadi udah lupa buat nulis...................... tapi boong. Ya galau mah kadang doang..... ya mungkin ngga sesering dulu.......... yha. Nevermind.

Enam bulan sudah berlalu dan gue punya temen baruuuuuu. Yah lumayan lah, ngga kayak waktu dulu kelas sebelas. Setidaknya ada orang yang sepemikiran sama gue hehe. seneng banget. Yaaa walaupun drama SMA  masih terus ada selama gue masih di smanda tapiiiii w ga peduli HAHAHAHAHA.

Pengen cepet-cepet lulus aja terus kuliah, selesai kuliah nikah sama arsitek, terus have a trip ke Eropa atau ke Maladewa. Yha...... siapa yang nggak mau ya......

I'm tired of these bullshits. UN, annoying friends, conflicts, highschool dramas, etc.

Tapi seenggaknya gue punya temen yang super duper a6 abiz, hacep abiz. mantap abiz dah pokoknya.

Abis Photoshoot kemarin, beraza model dah wkwkwkwk.

Jadi ceritanya gini, pada suatu hari Ica ngajakin gue buat do the beauty photoshoot dan gue jadi objeknya yang di foto. gue bilang objek soalnya gue bukan model. jadi anggap saja gue ini objek buat difoto ((( OBJEK ))) dan kebetulan gue punya temen yang bisa dibilang jago tentang urusan make up. Sebut saja Aydin cimid cimidku dari SMP. Yang rumahnya sering tak berantakin HEHEHEHE. Sorry, Din.

Dan kabar baik tentang Aydin.
Doi ngga perlu mikirin SNMPTN atau SBM, ataupun UN karena doi udah fix banget ngelanjutin kuliah di Esmod. Gue ngga terlalu ngerti soal Esmod, tapi katanya itu sekolah tentang fashion-fashion gitu deee. Ikut seneng ya, Din!

Lanjut.

Jadi sebelum photoshoot si objek foto dimake-up dulu.....

Nih behind the scene-nya :

Jumat, 28 November 2014

After all these months

5 bulan lagi UN.
yeay.
Doain masuk Fakultas Teknik Sipil ITB, atau ya.... semoga diizinin kuliah di luar. Aamiin hehe
Belong to Janda Kembang naw.
ehehehe.





Have a great life, everyone!

Selasa, 28 Oktober 2014

Bohemian Rhapsody [Queen cover] - jreng!

Sebuah Akhir

Selamat malam, Kamu.

Ya, masih untukmu,

Masih ingat ketika aku mengatakan bahwa menggantikanmu adalah hal terberat dalam hidupku?
Ketika kau menyarankanku untuk mencari "rumah" baru untuk disinggahi.
Ya, awalnya sangatlah sulit. Apalagi saat itu duniaku masih berkutat dengan Kamu.
Bagaimana bisa?

"Cari yang baru", katamu.
Hampir satu tahun aku mencoba memahami apa yang kamu katakan itu.
Sulit. Sangat sulit.
Berat. Begitu berat.

Sebuah cerita pasti mempunyai akhir, iya kan?
Sepertinya aku hampir selesai membaca buku ini.
Hampir aku membuka halaman terakhir--walaupun terkadang aku masih membuka halaman-halaman sebelumnya untuk memastikan bahwa aku mengerti kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf yang ada di dalam buku ini.
Tunggu sebentar lagi.
Aku akan mengakhiri buku ini.

Tidak mengakhiri semuanya.
Tidak begitu saja aku tutup buku ini.
Tetap kusimpan di dalam rak.
Tak akan aku biarkan hilang.

Tidak akan aku biarkan semua tentang kamu hilang begitu saja.
Aku masih menyimpan draft lama darimu.
Hampir semuanya.

Aku biarkan cerita lama bermain di dalam pikiranku.
Begitupun kamu yang dulu pernah mengisi mimpi burukku.

Seperti apa katamu, hanya saja hampir,
Hampir aku mempunyai sesuatu yang baru.
Terima kasih atas saranmu.
Maaf jika aku terlalu menjengkelkan.




Cirebon, 28 Oktober 2014





Dari aku, untuk kamu.
Semoga kamu bahagia selalu.

Sabtu, 28 Juni 2014

#DareOrDie

Liburan ngapain aja? paling tiduran, baca buku, nulis, ngestalk, chatting, makan, minum dan.......... bobo. begitulah siklusnya sampe beberapa minggu ke depan. Bosen woy bosen parah. W harus ngapain......

Sampai pada suatu hari....... Ica menawarkan sebuah permainan yang cukup menantang kepada gue dan aydin.

Ini dia

JENG JENG JENG


Terinspirasi dari permainan Truth or Dare, tapi bedanya di sini ngga ada truth. Jadinya Dare or Die. Ye kali siapa juga yang mau mati, jadi mau ngga mau kudu ngelakuin dare DAN KAMPRETNYA Ica dapet giliran pertama buat ngasih Dare ke gue sama Ayu. Matek udah matek gue. ICA ALREADY KNEW MY WEAKNESS. Iya, bangke emang anak itu.

Lanjut, gue dapet dare kudu nyium buah.


Bangke emang. Bangke.

Udah tau gue kaga suka buah, jangankan nyentuh megang aja gue takut woy.

Tapi, karena gue adalah orang yang menyukai tantangan, gue harus melaksanakan dare itu '.')9

Jadi, kalau misalkan besok-besok ada postingan absurd yang isi videonya orang kejang-kejang atau ngelakuin hal aneh lainnya, maklumi saja.

Kamis, 26 Juni 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 8]

            Nadia  : Masih ingat?
            Ken     : Tentang apa?
            Nadia  : Rumah makan cepat saji itu.
            Ken     : Semoga masih.

            Tugas seni tidak hanya menyita jam pulang sekolah dan tenagaku, tetapi juga menyita hari Mingguku. Bayangkan saja, hampir setiap hari Minggu aku dan teman kelompokku menghabiskan waktu di sekolah. Toh itu untuk latihan koreografi ataupun membuat properti untuk pentas nanti. Melelahkan, bukan?

            Padahal hari ini aku dan Ken berencana untuk makan siang di sebuah restoran cepat saji yang terletak di Jalan Kartini. Tapi sebelumnya, aku dan Ken harus kerja kelompok dengan kelompok kita masing-masing.

            Ternyata tidak terlalu memakan banyak waktu. Aku dan Ken pamit kepada teman-teman dan kemudian langsung menuju ke sebuah restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami.

            Ken memarkirkan motornya, sedangkan aku menunggunya di seberangnya dan kemudian kami masuk ke dalam restoran itu bersama. Menunggu antrian dan memesan beberapa makanan.

            “Kamu mau pesan apa, Nad?” tanya Ken.

            “Aku mau McFlurry,” jawabku. Kemudian aku memberikan satu lembar uang ketas dua puluh ribuan.

            “Ngga usah. Biar aku aja yang bayar,”

            “Eh, serius? Thank you, Ken! Hehehe.”

Kisah yang Terlupa [Bagian : 7]

          “Bagian apa yang akan kamu presentasikan?” tanya Ken seraya menghampiri mejaku dan duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah kiriku.

            “Filum Echinodermata. Kelas Holothuroidea,” jawabku.

            “Sudah hafal tentang ini?”

            “Tidak sepenuhnya,”

            Ya, pelajaran biologi. Klasifikasi kingdom animalia. Aku ditugaskan untuk mempresentasikan tentang Holothuroidea. Aku memang bukan pengingat yang ulung. Lagi-lagi ketika aku mencoba untuk menghafalnya, aku selalu melewatkan beberapa hal tentang Holothuroidea ini.

            Mencoba menghafalnya lagi. Sedikit mencontek ke kertas kecil yang berisi ringkasan tentang kelas Holothuroidea yang sudah aku persiapkan sejak kemarin malam. Aku hampir menyerah.

            “Sini kertasnya,” kata Ken. Aku memberikan kertas itu kepada Ken.

            Ken menyuruhku untuk mengatakan apa saja yang aku tahu tentang Holothuroidea. Aku mencoba untuk mengingatnya semampuku.

            “Oke. Holothuroidea termasuk ke dalam Filum Echinodermata..” jelasku.

            “Iya, lalu?” Ken memancingku untuk melanjutkannya.

            “Memiliki cirri tubuh simetris…. Emm… simetris… simetris apa sih, Ken? Aku lupa hehe,”

            “Simetris bilateral,” Ken mengingatkanku.

            “Nah itu!”

Jumat, 20 Juni 2014

"Kamu. Kamu orang yang telah lama pergi, tapi kenapa malah aku yang merasa mati?"

Detroit On Vacation [Part 2]

Ini late post yang bener-bener late post.

Tapi sebelumnya, saya minta doa kalian untuk Papahnya Huri-temen 5 tahun saya-yang telah berpulang ke rahmatullah. Semoga amal dan ibadahnya diterima oleh-Nya dan diberikan tempat yang selayaknya dan semoga beliau juga diterima di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal alamin.

Apapun yang terjadi, Huri ngga boleh sedih. Insya Allah saya bakal ada buat Huri. Keep strong, Hur. Tuhan ngga bakal ngasih cobaan di luar kemampuan hambanya. Sedih pasti, tapi jangan sampai berlarut-larut, ya! Semua orang sayang Huri!

Keep strong, Hur!

Oke, balik lagi ke liburannya DETROIT. Mau mulai dari mana ya... bingung nih hehe. 

Oke dari sini saja.

Pada suatu hari, Huwel ulang tahun. Huwel ulang tahun dikerjain Bu Neneng abis-abisan. Mampus lu, Wel! Mampus!!! Huwel satu-satunya anak kelas yang suka mukulin orang, anak-anak pada ngadu ke Neneng-Sensei bahwa Huwel pernah mukulin semua anak kelas, jadi Bu Neneng nyuruh Huwel buat minta maaf ke seluruh anak kelas satu-satu. Ulangi, satu-satu.

Tak berapa lama kemudian, Zera juga ulang tahun. Hebat ya, eh ngga deng biasa aja.

Jadi mereka berdua melakukan fusion!

Bergabung untuk bayarin anak IPA 3 makan-makan!!!!!!!

SEMOGA HUWEL DAN JERA PANJANG UMUR \o/

Kalem, Nid.

Hari minggu kita semua langsung caw. Saya sama Shiddiq boncengan naik motor. Sisanya naik mobil dan beberapa sisanya dibonceng oleh anak cowo yang bawa motor.

Di bonceng Shiddiq lumayan asik. Eh, boong deng.

Kayak konvoi. Motor banyak banget ditambah mobil dua. Mantap.

Pas hampir sampai di tempat makan, kita berhenti sejenak dan melihat-lihat pemandangan yang ada di daerah Cikalahang. Keren banget, Men!


Jumat, 25 April 2014

DETROIT On Vacation

Wohooooo kelas 11 mana suaranyaaaaaaaaaaaaaah?

Nice. Pasti rame dah.

Kata kakak kelas saya, nikmatilah masa kelas 11 kalian. Berfoya-foyalah. Ngga apa-apa. Keburu kelas 12 ntar sibuk UN. Dan saya percaya dengan omongan kakak kelas saya itu, iyalah, buktinya doi sekarang jadi anak ITB.

Untuk itu saya mulai foya-foya semenjak kelas 11.

Ngga sepenuhnya foya-foya juga sih. Belajar kalau lagi seneng pelajarannya. Matematika, contohnya.

Dan ya... pas kemarin kelas 12 sibuk Try Out dan UN, kami (baca : kelas 11 (Anak XI IPA 3 (Baca : DETROIT (Distric Metro of Science Three))) berfoya-foya!!! Heal yeah! \m/

Iya, sekarang saya ada di IPA 3. Jarang saya ceritain ya? Iyalah. Awalnya saya pikir kelas IPA 3 ngga akan bisa kompak kayak gini, ternyata bisa banget. Asalkan ada pencetusnya.

KENAPA RASA NYAMAN DATENGNYA PAS AKHIR SEMESTER? KENAPAAAAA ;A;

Awalnya saya sama Komala bener-bener ga peduli sama kelas ini. Komala masih ngarep sama KERAPU-nya dan saya masih ngarep sama FAMOUS dan ngarep doi juga. Tapi setelah didekati dengan perlahan-lahan, ternyata seru juga kok. Ngga sih. Maksudnya lumayan seru. Hehe, maap, ya, Crew.

Nah, pas kemarin libur yang seharsnya hampir seminggu. Iya, hampir. Ngga seminggu juga, soalnya ada harpitnas dua hari. Jadi waktu libur kemarin DETROIT ngadain acara.

Awalnya cuman anak cowo doang yang punya acara. Iya, mereka mau futsal. Yang cewe juga pengen ikut-maksud 'ikut' di sini bukan mau ikut futsal, ya, tapi mau ikut olah raga. Dan Restupun mencetuskan bagaimana kalau kita badminton aja? Oke. Permintaan di-iya-kan.

Besoknya saya pamit sama mama mau badminton sama anak kelas di Apita. Mama bilang kelas saya kok ganjen banget, baru aja sehari liburan udah sok-sok-an main badminton, di Apita pula. Mama bilang mending saya di rumah aja soalnya cucian numpuk. Oh saya langsung saja menolak ajakan mama untuk mencuci baju bersama.

Orang Indonesia mana sih yang ngga ngaret, guysss? Sebagai warga Indonesia yang baik, saya membudayakan itu. Janjian jam 9, dateng jam setengah sepuluh lebih. Jadilah main badmintonnya cuman sebentar soalnya lapangan udah di-booking cuman sampe jam sepuluh.

Tapi seru kok walaupun badmintonnya cuman sebentar hehe



Selasa, 15 April 2014

Lagu Galau yang Bener-Bener Sadis [Part : 1]

Hai! Gue bakal ngasih tau lo semua lagu-lagu yang bener-bener bisa bikin lo galau kemudian lo menggelinjang. Ya, gue emang tukang galau. Punya skill galau. Selalu dengerin lagu-lagu galau yang ujung-ujungnya bakal bikin gue diem, kemudian tiba-tiba gue nangis. Alay bingitsss.

Selain galau, lagu-lagu berikut juga easy-listening. So, enjoy!

Cekidot!!!

1. Lost - Katy Perry

Lagu ini menceritakan seorang perempuan yang benar-benar lagi tersesat, dia ngga punya apa-apa. Dia tau jalan pulang, tapi tetep aja tersesat. Kayaknya lagu ini nyeritain masa lalu Katy yang dulu pengen hidup bebas dan kemudian dia pergi ke kota besar. Emang hidup ngga akan mudah kalau lo melaluinya sendirian. Waktu Katy pindah, dia ngga punya apa-apa. Dia bener-bener ngerasa tersesat di sebuah kota besar yang kejam.
"Have you ever been so lost?
Known the way but still so lost
Another night waiting for someone to take me hom
Have you ever been so lost?"


2. Wish You Were Here - Avril Lavigne


Bener-bener lagi butuh seseorang, tapi orang tersebut ternyata udah pergi. Rasanya pengen ngulang masa-masa yang dulu dihabiskan sama seseorang tersebut. Mungkin inilah arti lagu Wish You Were Here. Berharap dia ada di sini, bermain dengan waktu, dan...... terlalu galau untuk dilanjutkan


"All those crazy things we did
Didn't think about it, just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
Damn! Damn! Damn! 
What I'd do to have you here, here, here
Damn! Damn! Damn! 
What I'd do to have you near, near, near"

Jumat, 11 April 2014

Hebatnya Para Stalker

Bentaran... Iya, mau ngebahasa para stalker. Maaf maaf aja ye kalau ada yang tersinggung hehe.

Entah perasaan gue aja atau emang kenyataannya, gue ngerasa akhir-akhir ini gue seneng banget nge-stalk orang. 'Stalk' di sini ngga termasuk ke dalam stalk yang sampe ngebuntutin orang kemana dia pergi ya. Stalk-nya gue ya.... itu... hanya lewat media sosial aja.

Gue seneng ngestalk! Walaupun awalnya bikin atit ati tapi ujung-ujungnya puas hehe.

Gue lagi seneng ngestalk toh itu temen gue, temennya temen gue, pacarnya temen gue, pacarnya adiknya temen gue, gebetan temen gue, semuanya deh. Masalahnya : Sekali aja lo nge-stalk orang, lo bakal keterusan dan faktanya emang gitu.

Gini deh. Misal ya, lo ngestalk temen lo, kemudian tiba-tiba ada tweet yang menarik perhatian lo dan kemudian lo kepo sama isi tweet tadi, lo jadi penasaran setengah mati. Sungguh mati aku jadi penasaraaaan~~~

Oke, serius. Nah setelah muncul rasa penasaran, lo bakal nyari sumber-sumber yang berhubungan dengan tweet tadi. Otomatis lo bakal ngestalk orang lain dan orang lain lagi dan orang yang lainnya lagi.

Gue benci ngakuin ini tapi, emang bener : Ngestalk itu seru.

Dibilang stalker handal juga nggak. Pencapaian gue selama ini ngestalk adalah gue bisa tau segala informasi tentang doi-nya doi. Hehehe.

Selasa, 08 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 6]

          Kamu ingat disaat kamu bercerita tentang kedepresianmu? Disaat kamu membenci proses akan sebuah hasil. Disaat kamu menginginkan sesuatu dan melupakan proses. Tapi.. bagaimana bisa?

          “Ingat, Tuhan saja menciptakan manusia butuh proses, masa’ kita sebagai hambanya tidak ingin berproses? Itu namanya menentang Tuhan. Ingin menandingi Tuhan. Dan kita tidak akan bisa menandingi Tuhan.” Aku merasa sedikit menggurui.

            Kamu sadar. Aku tersenyum lega. Katakan semua yang ada di pikiranmu, Ken. Jika itu adalah hal yang menyenangkan, ceritakanlah. Aku akan menjadi pendengar setiamu. Dan jika itu adalah hal yang mengganggu hidupmu, ceritakanlah. Kita akan mencari jalan keluarnya. Bersama. Ingat, aku menyayangimu bukan ‘karena’ melainkan ‘walaupun’.

            Nadia  : Malam itu. Kamu menceritakan segalanya.
            Ken     : Itulah yang aku rasakan dulu.
            Nadia  : Be ‘Us’ against the world?
            Ken     : Be ‘Us’ against the world.      
                                 
            Masa sulit pertama kita. Februari. Malam itu, seperti biasa, aku dan kamu berkomunikasi melalui telepon genggam dan tiba-tiba saja kamu mengirimkan suatu pesan yang benar-benar membuat air mataku terjatuh sampai-sampai membanjiri hampir setengah bagian kasur.

Sabtu, 05 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 5]

14 Januari 2013

Seperti biasa, aku terseok-seok berjalan ke kamar mandi dan menggigil karena dinginnya air yang aku pakai untuk mandi. Udara sangat dingin walaupun sepertinya matahari sedang hangat-hangatnya. Tempat tinggalku memang aneh.

            Upacara Senin. Sebuah rutinitas—rutinitaskah?—sekolahku. Semua murid wajib mengikutinya, termasuk aku—anggota PMR yang nantinya berjaga di belakang barisan peserta upacara. Sial, aku dapat barisan di belakang kelas X, barisan tepat dimana matahari benar-benar terasa terik. Kutundukkan kepalaku yang memerah ini karena terbakar matahari pada saat JUMBARA kemarin.

            Upacara berjalan sekita tiga puluh menit. Sebelum upacara dibubarkan, aku dan teman-teman PMR-ku diberi kesempatan untuk maju ke atas mimbar untuk menyerahkan piala yang kami dapat kemarin untuk sekolah.

            Pernahkah aku se-bahagia ini? Tidak.

            Evaluasi pagi rasanya tidak ada apa-apanya bagiku, tidak seperti biasanya dimana aku sangat malas untuk dievaluasi pagi, kali ini aku sangat bersemangat menjalani hari.

            Aku gendong tasku dan bergegas menuju ruang kelas. Ternyata aku dapat tempat duduk di bagian belakang. Lebih tepatnya sangat-sangat di belakang. Barisan terakhir. Aku taruh tasku dan duduk di kursinya.

            Sekonyong-konyong aku terbelalak, ternyata benar. Teman satu bangkuku adalah Ken. Matilah aku. Plis jangan awkward, dong.

            Memaksakan diri agar dapat mencairkan suasana berujung pada kelucuan tingkah kita berdua yang kaku.

            Nadia  : Apakah saat itu kamu dapat merasakannya?
            Ken     : Merasakan apa?
            Nadia  : Jantungku. Berdetak makin kencang di setiap detiknya.
            Ken     : Memang seharusnya begitu, bukan?
            Nadia  : Jangan bodoh. Itu semua karena ulahmu.
            Ken     : Dan untuk kejadian selanjutnya?
            Nadia  : Sssttt… Spoiler!

            Atmosfer kelas benar-benar berbeda. Perasaanku saja atau memang benar begitu keadaannya ya? Ah, mungkin perasaanku saja.

Kisah yang Terlupa [Bagian : 4]

Semua orang punya cita-cita. Begitupun kamu, yang sangat ingin menjadi dokter bedah dan dijuluki ‘Dokter Tangan Tuhan’ ataupun ingin menjadi pengacara seperti Hotman Paris yang begitu kayanya sehingga dapat membeli banyak mobil sport. Aku hanya tertawa dan terheran-heran jika mendengar semua cita-citamu. Ken Foundation juga. Kamu akan membuat Ken Foundation yang bertujuan untuk membantu daerah-daerah yang sedang kesusahan. Kemudian cerita itu berganti dengan cerita tentang cita-citaku yang ingin sekali menulis sebuah novel best-seller yang nantinya orang banyak akan setidaknya menyempatkan diri untuk membaca sinopsisnya. Novel itu akan sangat menginspirasi orang banyak karena novel yang aku buat kisahnya akan berasal dari cerita perjalanan hidupku yang aku modifikasi dan orang-orang akan menyempatkan waktunya dan berkunjung kepadaku dan menceritakan masalahnya, karena aku akan menjadi psikolog di kemudian hari.

Ada satu cita-citaku yang sempat kamu remehkan. Iya, aku dan cita-cita animatorku. Entah dulu aku yang gila atau apa. Beraninya aku menaruh animator di daftar cita-citaku.

Yang pasti kita berdua mempunyai mimpi. Otomatis hidup kita juga mempunyai harapan. Aku dan Ken senang sekali apabila kita berbicara tentang masa depan kita masing-masing. Merancang masa depan, seolah-olah kita dapat meramal apa yang akan terjadi di hari setelah hari ini, besok, ataupun beberapa tahun ke depan

          Nadia  : Baiklah ‘Dokter-Tangan-Tuhan’, apakah engkau dapat menyembuhkanku?
          Ken     : Menyembuhkanmu dari apa? Penyakit vertigomu?
          Nadia  : Bukan, tapi menyembuhkan hatiku yang sudah terlajur remuk berkeping-keping karena kamu                        harus pergi dan aku menantangmu untuk menyembuhkanku kembali.
           Ken   : Maaf, sepertinya anda harus ke dokter sebelah.

***
            Semester baru. Bulan baru, begitupun tahun. Apakah tahun ini akan ada sesuatu yang baru juga? Siapa tahu?

Kisah yang Terlupa [Bagian : 3]

            Desember! Apakah kamu masih mengingat Desember kita, Ken? Iya, walaupun kamu lebih dulu pergi ke kota asalmu, tapi komunikasi antara kita berdua tidak pernah terputus. Sumetra dan Jawa. Yang berbeda provinsi dan tentu berbeda pulau juga.

            Kamu di sana asyik merayakan hari yang penuh keberkatan dan kedamaian bersama dengan keluargamu, sedangkan aku berada di rumah dan sendirian karena keluargaku harus pergi menjenguk nenekku dan aku akan mengikuti pelantikan eksktrakulikuler. Rasanya aku suntuk berdiam diri di rumah, tapi setidaknya ada kamu, Ken, yang selalu menemaniku di setiap malam.  Walupun hanya sebatas kata-kata yang kamu kirim, aku bahagia.

            Sampailah aku di hari pelantikan. Rasanya…. Deg-deg-an! Semua atribut aku persiapkan sendiri. Lelah memang, tapi setidaknya ada kamu yang menyemangatiku pada pagi harinya.

            Apakah kamu tahu apa yang hendak aku katakan pada pagi itu?

            “Terima kasih, Tuhan, banyak terima kasih karena Engkau telah memberiku teman seperti Ken,”

            Maksudku, siapa yang tidak senang apabila diberi teman yang cocok oleh Tuhan? Maka dari itu aku sangat mensyukurinya.

            Tidak mudah bagiku dan teman-teman angkatanku untuk mendapatkan syal kuning ini. Kami harus berjuang mati-matian. Hujan dan terik matahari—saat itu cuaca tidak dapat diprediksi—tidak kami hiraukan. Tujuan kami satu, mendapat ridho dari Tuhan melalui syal kuning ini.

Jumat, 04 April 2014

Welcome Back, Pin!

Mulai ceritanya dari mana ya.... em... bingung saya. Masalahnya banyak banget cerita yang bakal saya ceritain. Oke, mulai dari sini aja.

Pada suatu hari di akhir Bulan Maret, saya mendapatkan sebuah kabar, iya kabar. Kabar yang menyatakan bahwa temen lama saya, Kevin, Si Maskot BS-nya X9 bakal main ke Cirebon. Saya senang bukan main dan saya jingkrak-jingkrak di kamar (kalimat terakhir hanya kiasan belaka ya, saudara-saudara)

Bentaran, kenapa bahasanya terkesan kaku sekali yah.....

Iya, kalau ngga salah doi dateng waktu hari sabtu. Wah, FAMOUS (baca : Family of Sepuluh Sembilan (X9))  harus cepet-cepet bikin acara nih. Mumpung ada Si Epin. Iya, doi dulu sekolah di smanda tapi doi harus pindah. Sedih ya? Ngga ah biasa aja.

Koar-koar di grup line. FAMOUS ngga sabar nih buat hangout bareng. Masalahnya X9 itu kelas yang paling sepik se-jagat raya. Iya, waktu masih di X9, setiap mau bikin acara pasti ujung-ujungnya omong doang.

Mana? Katanya mau foto-foto, temanya kalau ngga black and white, ya, jogging. TAPI MANA? SEPIK DOANG.

Hih, sepik mele, ngga aus?

POKOKNYA FIX X9 HARUS BIKIN ACARA. FIX! GAMAU TAU.

Iya, harus, soalnya saya ngga sabar mau ketemu Kepin. Kangen hehehehe.


Hari minggunya saya memutuskan buat pergi ke McD. Sendirian. Iya, sendirian. Bukan, bukan karena saya jomblo jadi saya ke McD sendirian. Saya pergi seorang diri gara-gara saya mau ngelarin PR Nihon-go yang bejibun dan pengen nulis. Kalau dikerjain di rumah pasti ngga akan kelar gara-gara adik saya pasti ngeganggu terus. Jadilah saya pergi ke Mcd sendirian. Dipertegas, Sendirian.

Pergi sendirian menurut saya bukanlah salah satu hal yang buruk. Saya saranin ke kalian buat hangout sendirian, ngga ngajak temen-temen. Lumayan serulah. Makan sendiri, mesen makanan sendiri, compong juga sendiri dan ujung-ujungnya kalian bakal mikir kalau kalian itu mandiri abis. Kalian juga bakal berpikir bahwa kalian itu An Independent Person. Nice. Dengan jalan-jalan sendirian kalian juga bakal makin sayang sama diri sendiri.

Ngga deng boong, saya keluar sendirian gara-gara temen-temen saya lagi pada di Majalengka soalnya lagi ada acara PASKIB.

Sedih ngga sih? Ngga ah, biasa aja.

Setelah ngelarin PR B. Jepang, saya lanjut nulis ditemenin sama laptop dan satu porsi McFlurry. Surga dunia lah. Inspirasi saya mengalir begitu saja ketika saya makan makanan yang manis-manis. Tapi, cokelat emang yang paling nomor satu sih. Selain makanan yang manis, inspirasi juga dapat muncul ketika saya lagi..... ya... membuang sisa zat makanan (baca : defikasi) atau bahasa kasarnya b*ker. Tapi emang bener sih, coba deh kalian pergi ke kamar mandi, terus nongkrong beberapa menit disitu. Lumayan loh, kalian dapet double-double manfaatnya. Selain mengeluarkan sisa makanan, kalian juga dapat mengeluarkan banyak inspirasi ketika kalian sedang mengeluarkannya.

Paragraf yang tadi sangat tidak penting yah.

Oke, lanjut.

Setelah kurang lebih satu setengah jam saya memutuskan untuk pulang. Nah, ngga lama kemudian, Oboy nelpon saya...

Oboy :"Heh dimana?"
Nida  : "Di jalan. Kenapa?"
Oboy :"Balik lagi ke McD. Buru."

Dan.... saya pun akhirnya nurut buat balik lagi ke Mcd. Mumpung belum terlalu jauh dan saya terlalu bete untuk menghabiskan hari minggu di rumah.

Sesampainya di Mcd, ada seseorang yang teriak-teriak dari atas.....

"Woy, kampung!!!"

Iya, bener. Siapa lagi kalau bukan Kevin. 

Udah 8 bulan pindah dan doi masih manggil saya 'Kampung'. Ngga ngerti deh beneran.

Saya samperin mereka bertiga (Oboy, Rahmat, Kevin) terus duduk. Sesaat kemudian gue diomong...

"Ngapain lu ke sini? Pulang aja."

Rasanya saya mau nimpuk kepalanya Kevin. 

Gue perhatiin Kevin. Dari atas sampe bawah. Rambutnya. Rambutnya beda. Wakakakakak. Gayanya sekarang bener-bener kayak anak gaul abis. Pokoknya lebih bersih ketimbang waktu dulu pas doi masih sekolah di smanda. Nice.

Kamis, 03 April 2014

Does she watch your favorite movies?
Does she hold you when you cry?
Does she let you tell her all your favorite parts when you've seen it a million times?
Does she sing to all your music while you dance to "Purple Rain? "
Does she do all these things, like I used to?


Will she love you like I loved you?
Will she tell you everyday?
Will she make you feel like you're invincible with every word she'll say?

Can you promise me if this was right:
Don't throw it all away?
Can you do all these things?
Will you do all these things?
Like we used to.



And I bet.... She does.

Selasa, 01 April 2014

VITAMIN C - Graduation (Friends Forever)


Baaaah lagu ini buat temen-temen saya yang bisa dibilang sekarang udah jauh, toh itu jarak, atau jauh gara-gara keadaan (baca : sibuk sendiri-sendiri) 
Buat Majay, Limbad, Lia, Oka, Gine, Ajeng, Opal, Wanu, semuanya. Dan khususnya buat Si Batur Sampah kesayangan, Kevin. Buat semua-muanya pokoknya.


And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won't be coming back

No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day
Cause we're moving on and we can't slow down

These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
And we would get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels


As we go on, We remember
All the times we had together
And as our lives change come whatever
We will still be Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
And this is how it feels



La, la, la, la:
Yeah, yeah, yeah
La, la, la, la:
We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us around?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly

Minggu, 30 Maret 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 2]

Satu hari, dua hari, satu minggu, empat minggu, satu bulan lebih satu minggu… akhirnya! Akhirnya kamu dapat menebak kodeku! Yes!

            Tapi dengan terpecahkannya kode yang aku berikan kepadamu itu tidak menjamin harapanku akan segera terkabul.

            Tunggu, harapan apa yang aku maksud?

            Iya, aku mengaku. Aku berharap ada ikatan lain selain ikatan pertemanan.

            Setiap malam. Hampir setiap malam, seperti biasanya aku dan kamu selalu saling mengirimkan pesan teks, akan tetapi pesan teks yang kali ini berbeda. Pesan teks yang sekarang mengandur unsur ‘harapan’ di dalamnya.

            Ternyata tanpa aku duga-duga. Malam itu, tengah malam, kita berdua mengaku kalau kita mempunyai rasa yang sama. Kenapa tidak dari dulu saja kita seperti ini? Saling mengakui tentang perasaan satu sama lain.

            Ada masalah lain. Aku sadar bahwa aku tidak akan bisa menjadi hal lebih dari teman dengan Ken. Ada tembok besar yang menghalangi. Kenapa? Kenapa? Kenapa?

            Harusnya aku sadar bahwa aku yang kecil ini tidak akan bisa merobohkan tembok besar itu, tapi aku nekat. Aku kikis tembok itu—karena aku pasti tidak akan pernah bisa merobohkan tembok itu—sedikit demi sedikit, memastikan jika ada sedikit kesempatan untuk menerobos masuk walaupun hanya dari celah terkecil sekalipun.

            Dasar teman iseng. Pasti ada saja pengganggu di antara kita. Anak laki-laki itu—Si pencinta olah raga—membeberkan apa yang sedang terjadi diantara kita. Aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu, mulutnya seperti anak perempuan yang selalu mengumbar gosip sana-sini.

            Jadilah seantero kelas tahu apa yang sedang terjadi di antara kita. Jadilah kita berdua canggung. Jadilah kita dua orang yang pasif di dunia nyata dan sangat aktif di dunia per-pesan teks-an. Jadilah kita…. Bukan apa-apa.

            Aku diam. Kamu diam. Hanya ada kesunyian di antara kita. Loh, kenapa kita seperti ini? Padahal sebelumnya kita itu bagaikan Tom dan Jerry yang tidak akan pernah bisa akur dan selalu ribut setiap saat. Kamu mengejekku, aku balas ejek. Kamu memukulmu, aku balas pukul. Taruhan bola yang berujung dengan kebab yang kamu berikan pada saat latihan seni budaya sore itu. Aku ribut, kamu lebih ribut, kita berdua ribut di saat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, jadilah kita di hukum oleh guru. Menjelaskan tentang perundang-undangan yang ada di Indonesia. Aku dan kamu yang selalu mendapat kelompok yang sama, entah ketika kelompok itu ditentukan oleh guru ataupun tidak. Aku dan kamu yang dulu tidak pernah terpisahkan.

            Lalu apa yang terjadi sekarang? Hening. Keheningan menaungi kita berdua.

Jumat, 28 Maret 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : I]

Hai, Ken! Apa kabar?

            Well, selamat malam, Ken. Sekali lagi, apa kabar? Pastinya baik—dan semoga akan semakin baik di setiap harinya. Amin!

            Oh, ya, apakah kamu ingin tahu bagaimana kabarku sekarang? Oh tidak? Tapi kamu harus tahu. Aku tidak mau tahu, kamu harus tahu bagaimana kabarku atau keadaanku sekarang. Harus! Oke, kamu yang memulai pertanyaan. Tetap tidak mau? Baiklah, tapi aku memaksa. Aku buat dialog imajiner ini, agar—setidaknya secara tidak langsung—kamu menanyakan kabarku.

               Ken     : Apa kabarmu?
            Nadia  : Apa pedulimu? Toh kamu juga tidak akan peduli kan?
            Ken     : Iya, aku tidak peduli, tapi ini kan dialog imajiner buatanmu.
            Nadia  : Oh, iya, aku lupa. Sampai dimana tadi?
            Ken     : Apa kabarmu, Nadia?
            Nadia  : Kabarku? Seperti biasa. Aku tidak baik.
            Ken     : Loh kenapa?
            Nadia  : Pikir saja sendiri.
            Ken     : Aku tidak tahu.
            Nadia  : Kamu ini ya, masih saja tidak peka. 

            Berhenti! Aku tiba-tiba saja merasa seperti orang gila. Berbica kepada diri sendiri, kemudian menanyakan kabarku ke diriku sendiri. Harusnya ada kamu, Ken, biar aku tidak melakukan hal gila yang seperti tadi lagi. Mengada-adakan sebuah percakapan.

            Aku melakukan hal gila tadi karena aku…. Aku rindu kamu, Ken.
            Haha! Gila kan? Iya, aku gila dan akan selalu begitu.

Udah gatel mau ngeblog cerpen terakhir tentang doi, dan ya, postingannya bakal kepotong-potong, soalnya kalau di ms. word udah makan 21 halaman dan ini juga belum kelar, soalnya bisa dibilang ini baru awal-awal cerita ._.

Bukan, ini bukan cerbung, tapi karena cerpennya menurut saya bakal panjang banget, jadi mending dipotong-potong aja, biar orang ngga terlalu sepet matanya pas baca postingan saya hehe.

Ngga peduli seberapa jeleknya tulisan saya, lebaynya tulisan saya, ngga peduli banget. Yang penting saya suka nulis, saya suka cerita tentang segala sesuatu, dan saya berpikir bahwa dengan nulis, saya bisa menuangkan semua yang ada di pikiran saya yang absurd ini. 

Ngga perlu apresiasi atau pengakuan atas tulisan saya, tapi jujur, saya suka kalau tulisan saya dibaca sama orang. Cukup dibaca. Setidaknya orang minimal tau hal-hal apa aja yang ada di pikiran saya. 

Cerpen kali ini berjudul : "Kisah yang Terlupa

Iya, judulnya mainstream banget. Tapi i don't really give a damn ya hehe. 

Spoiler dikit, bakal banyak interpretasi lagu di cerpen saya kali ini dan bisa dibilang ini cepen yang bener-bener based on the true story. 

Dan saya janji ini adalah tulisan terakhir saya tentang "Doi" ataupun tokoh utama yang bernama "Ken".

Akhir kata, semoga kalian suka dengan cerpen ini. Hehe.

See ya!

Sabtu, 22 Maret 2014

SPECTRUM 2014

Mungkin bisa dibilang SPECTRUM terakhir ya, soalnya tahun depan nggak akan bisa foya-foya lagi soalnya udah kelas 12...

Iya, abis uts langsung caw ke seklah tercinta, spensa. Ngga terlalu seru sih, tapi lumayan, bisa melepas penat hehehe










Senin, 17 Maret 2014

Untuk Kamu, Perempuan Nomor Satu.

Ralat, ‘Nomor-Satu-Baginya.’ ‘-Nya’ disini merujuk siapa? Tentu saja dia—laki-laki yang telah pergi jauh dan meninggalkan banyak kenangan di dalam diriku begitu saja.

            I don’t know exactly who you are, but, congratulation!

            Aku tidak tahu siapa dirimu, aku bahkan tidak pernah melihat dirimu secara nyata. Tapi aku dapat menebak, kamulah perempuan itu. Perempuan penggantiku yang sangat beruntung karena dapat menghabiskan waktunya bersama Dia. Bagaimana rasanya menjadi milik Dia? Sangat menyenangkan, bukan?

            Jangan khawatir. Aku tidak akan mengganggumu. Aku tahu kamu? Dari mana? Temanku. Temanku yang membeberkan semuanya. Iya, temanku juga bahkan tidak tahu siapa dirimu, tetapi mereka tahu siapa perempuan beruntung yang dapat mencuri hati Si Dia.

            Hanya beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Beberapa hal, agar Kamu dan Dia dapat bahagia. Iya, aku akan bahagia jika aku melihat Dia bahagia. Walaupun hal yang membahagiakan Dia akan menggoreskan luka di dalam diriku.

            Satu hal yang umum : Tolong buat dia bahagia.

Selasa, 11 Maret 2014

[Review] Bohemian Rhapsody - Queen



Well, sebelumnya gue mau cerita tentang awal mulanya gue tau lagu ini.

Jadi semua ini berasal dari.......... Bapak gue.
Iya, bapak gue salah satu penggemar Queen. Bisa dibilang #QueenGarisKeras.

Pada suatu  malam, doi nyanyi. Awalnya gue ga peduli beliau nyanyi apaan. Gue kira itu lagu tentang Mama, atau Ibu atau hal-hal yang berhubungan dengan kasih sayang antara Ibu dan anak. Soalnya doi nyanyi dipart 
"Mama.... just killed a man."
"Mama... life is just begun."
"Mama.... uuuu."

Gue awalnya ngga kepo sama lagu itu sampai pada suatu hari gue dengerin lagu itu secara keseluruhan.

Sehabis gue denger Bohemian Rhapsody, gue diem. Gue speechless. Kemudian teriak,
"God, this is amazing,"

Cerdas. Satu kata buat Papap Freddie. 

Lagu ini ngga ada chorusnya dan bener-bener aneh.

Dilihat dari strukturnya, lagu ini terdiri dari Intro, Ballad, Gitar solo, Opera, Hard Rock, dan Outro. Kemudian nada dari lagu ini sendiri.... ah gausah ditanya lagi. Keren banget. Walaupun agak kaget karena perubahan nadanya bener-bener drastis, tapi bagi gue--kaum awam yang ga ngerti musik--ini keren banget.

Selanjutnya mari kita bahas tentang liriknya. Aneh? banget. Banyak yang bilang ini lagu isinya tentang konspirasi, apalah, apalah, tapi Freddie dia asal naro lirik, se-pasnya aja sama nadanya. Bahkan sampai Freddie meninggalpun ngga ada yang tau maksud dari lagu ini. Misteri lagu ini terkubur bersama jasad Freddie.

Kenapa sih harus dirahasiain? Kepo gue.

Ini sih menurut gue ya, yang bener-bener ngga terlalu paham tentang musik atau apapun, tapi gue mencoba buat sedikit 'menerjemahkan' arti di balik lagu ini. Here we go....

Intermezzo

Oh, hai! Lama nggak nge-blog ya. Sebenernya saya... saya... lagi nulis cerpen, biasa, based on a true story. Dan mungkin ini bakal jadi cerpen yang bisa dibilang terpanjang buat saya. Ya... sebenernya ga ngarep ada yang baca juga sih....... tapi buat melepas penat aja. Ngisi waktu libur panjang dan................. pengen cepet-cepet move on. HAHAHAHA. Udah ah.

Minggu, 23 Februari 2014

Tentang Pedihnya Berada di Kesunyian

              Rasanya baru kemarin aku sedang berada di puncak kesenangan hidup, tapi ternyata itu sudah 61 minggu yang lalu. Kenapa waktu berjalan cepat? Sedangkan stalagmite tumbuh begitu lama? Kenapa semua berubah begitu cepat? Dan kenapa pula ‘rasa’ ini rasanya lama sekali pergi?

                Diam sejenak di dalam keheningan. Mencoba berpikir kembali kenapa aku seperti ini. Kenapa bisa aku berada di dalam kesendirian? Padahal 61 minggu yang lalu aku mempunyai segalanya. Teman, Dia, dan seluruh perasaan gembira yang membuat aku lupa diri. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Temanku entah kemana. ‘Dia’ mungkin sudah lupa, dan semua perasaan gembira itu kini lenyap ketika awan abu-abu menyerbu.

                Kemana temanku? Oh, ya, mereka masih ada di sekitarku. Apakah mereka peduli kepadaku layaknya mereka peduli padaku seperti dulu saat kita masih bersama-sama? Mungkin tidak. Lagi pula apa peduli mereka? Toh aku ini hanya secuil hal yang pernah lewat di dalam hidupnya. Ya, hanya lewat. Untuk apa aku tinggal di dalam hidupnya? Aku tidak penting. Aku tidak berharga. Aku sampah.

                Apakah mereka masih mau menganggapku teman? Mungkin tidak. Jikapun jawaban itu ‘Ya’, hal yang paling pasti adalah : Mereka hanya menganggapku teman apabila mereka membutuhkan sesuatu—yang mungkin bisa aku lakukan untuk mereka. Merasa dimanfaatkan? Itu hal biasa. Semua orang seperti itu. Tidak ada orang yang mau merugi, maka manfaatkanlah orang di sekitarmu—walaupun itu akan membuat orang tersebut menderita.

                Sedikit menyesal menjadi orang baik di lingkungan sekitar. Maksudku, sekalinya kamu menjadi orang baik, orang-orang akan menggapmu aneh. Menjadi orang baik tidak menyenangkan. Ya, sekalinya kamu menjadi orang baik, orang tidak akan pernah sungkan untuk memanfaatkan kebaikanmu, menguras kebaikanmu, dan jika mereka telah puas, mereka akan meninggalkanmu. Kemudian, BAM! Kamu akan berpikir bahwa kamu adalah orang yang sangat bodoh segalaksi karena telah berbuat baik.

                Bukan, bukan maksudku mengatakan bahwa berbuat baik itu hal yang buruk. Berbuat baik itu perlu, tapi… kalian harus melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu. Lihat lingkungan sekitar. Apakah mereka benar-benar menerima kebaikanmu atau malah memanfaatkan kebaikanmu.

                Satu lagi, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Atau diri sendiri. Aku merasa… aku tidak akan pernah lagi seratus persen percaya dengan orang lain—kecuali Bapak dan Mama. Akupun meragukan diriku. Aku juga mulai meragukan ‘diriku’. Bagaimana bisa? Ya, aku sering sekali membohongi diriku sendiri. Apakah aku adalah seseorang yang bisa diberi kepercayaan? Kenyataannya tidak. Aku berani membohongi diriku sendiri, apa lagi orang lain.

Kamis, 13 Februari 2014

14, Siapa Peduli?

"H-3" celetuk seorang anak di sebuah grup chat, kemudian kamu sepertinya bingung dan bertanya,
"H-3?"

Sialan. Anak itu berusaha memancing emosiku.

"Oh hahaha. Baru paham apa itu H-3," tiba-tiba kamu berkata seperti itu.

Aku tertawa kecil. Haha, ternyata kamu masih mengingatnya. 14.

---

Chat dua hari yang lalu masih terbayang di otakku. Entah aku yang berpikir terlalu jauh atau aku memang orang bodoh yang masih menginginkan semua tentang 14 terulang kembali.

14, tanggal yang setiap bulan kita tunggu. Apa spesialnya? Akupun tidak tahu, tapi seingatku dulu, aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu Si 14.

Satu tahun lebih satu bulan, seharusnya. Tapi kenyataannya? Lupakan.




Semoga kamu masih mengingat 14 yang sekarang, sama
halnya seperti 14 sebelumnya yang pernah kamu nanti-nanti.

Sabtu, 01 Februari 2014

Sepenggal Kisah dari Mahasiswa ITB

                Hari ini sekolah gue, SMANDA Cirebon lagi ngegelar Uniday. Gue belom begitu ngerti tentang acara ini, tapi gue sempet-sempetin dateng ke acara ini. hehe.

                Sebenernya acara ini khusus buat anak kelas 12, jadi alumni SMANDA yang udah masuk ke perguruan tinggi yang ternama dikumpulin jadi satu dan kemudian sharing-sharing tentang universtitas dan jurusan yang diminatin. Mereka (para alumni) bertugas memberikan informasi dan meningkatkan semangat belajar khususnya para Mas/Mba kelas 12. Ternyata bener, alumni SMANDA emang hebat-hebat.

                Sepulang sekolah, gue, Komala, dan Aul pergi ke ruangan-dulunya kantor guru- yang sekarang jadi tempat digelarnya uniday. Gue kepo sama univ-univnya mas/mba alumni. Ya, walaupun ruangannya nggak terlalu besar, tapi cukup buat menampung stand-stand perwakilan dari universitas para alumni. Dan ya…… stand yang gue pertama kali kepoin adalah ITB.

                ITB, siapa juga sih yang ngga pengen masuk ke perguruan tinggi negeri yang namanya udah tersohor dan telah mencetak insan-insan muda berbakat yang kemampuannya ngga usah ditanya lagi. Gue bener-bener mau masuk ITB. Sumpah, tapi gue masih ragu buat ngambil fakultas apa. Awalnya gue mau masuk ITB gara-gara bapake itu alumni ITB. Doi selalu cerita tentang masa kuliahnya yang kedengerannya seru abis. Mulai dari cara belajarnya bapak yang dulu bener-bener ekstra- dulu bapak harus jaga lapak di pasar, soalnya setiap pagi bapak harus bantu mbah putri jualan di pasar- prestasinya di bidang olahraga basket, kemudian gara-gara itu bapak jadi cowok kece, cerita tentang masa-masa ospeknya yang bener-bener seru dan katanya waktu itu bapak adalah peserta yang paling diingat gara-gara sering bikin jengkel panitia, cerita bapak waktu dulu belajar dari jam sepuluh sampe jam dua malem, terus nyempetin diri buat sholat malem dan ketiduran di atas sajadah. Katanya pas tidur, doi mimpi lagi ujian dan ngerjain ujiannya lancar banget, besoknya bapak ujian. Soalnya cuma 2-3 soal, tapi dikasih waktu tiga jam. Saking apanya…. Eh ternyata katanya soal yang keluar itu ngga jauh beda sama soal yang bapak kerjain waktu di mimpinya. Sakti banget. Bapak juga selama SD, SMP, SMA, dan kuliah ngga pernah ngeluarin biaya, beasiswa saban tahun. Mengingat dulu bapak harus makan satu telor ceplok berlima, bikin gue merinding denger ceritanya. Salut buat Almarhum orang tuanya bapak yang bener-bener ngedidik bapak buat jadi orang yang tahan banting dan selalu ingin terus bekerja keras sampe-sampe bapak bisa sekolah di ITB.  Rasanya pengen banget jadi bapak. Doi bener-bener inspiratif.


Cowok paling kiri dulunya atlet basket yg paling kece

Rabu, 15 Januari 2014

For The First Time - The Script [Interpretasi]


Kate

            Tik.. tok.. tik.. tok.. suara detik dari jam tua pemberian mamaku terus berbunyi. Setiap detiknya semakin mengguncang telinga. Suara lolongan anjing di luar sana juga makin membuat suasana menjadi lebih mencekam. Aku masih terjaga walaupun Sang Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Matt belum juga terlihat batang hidungnya. Harusnya Matt sudah berada di rumah sejak pukul sembilan tadi, tapi sepertinya ia sedang pergi ke bar lokalnya untuk minum sepulangnya ia dari tempat kerja.

            Matt adalah sesosok pria sempurna bagiku. Tidak ada lagi nomor dua setelah Matt. Aku dan Matt sudah dua tahun hidup bersama. Tidak mudah memang menjalin kehidupan nyata di dunia yang kejam bagi dua insan yang tidak begitu banyak memiliki pengalaman. Seberat apapun itu, aku dan Matt akan melawan segala hal terburuk sekaligus. Bersama.

            Aku berpindah posisi dari ruang keluarga ke dapur. Menghangatkan satu panci sup ayam yang sudah sedari tadi aku siapan untuk Matt. Aku mengira Matt akan pulang tepat waktu dan menghabiskan makan malam bersama di balkon rumah yang sudah aku tata sedemikian rupa, ternyata tengah malam sudah lewat. Aku kubur dalam-dalam harapan makan malam bersama Matt.

            Sebenarnya Matt belum benar-benar mendapat pekerjaan yang tetap. Dia masih pergi kesana-kemari untuk mencari pekerjaan yang dirasa cocok untuknya. Matt adalah orang yang tidak mudah putus asa. Dia akan melakukan hal apa saja yang menurutnya pantas untuk kita berdua dapatkan. Dia segalanya bagiku.

            Aku menelpon Matt untuk memastikan apakah ia akan kembali ke rumah sederhana nan mungil ini atau ia akan bermalam di rumah temannya, tapi tak ada satupun panggilanku yang ia hiraukan. Aku khawatir dengannya. Baru kali ini ia belum juga pulang di saat hari hampir pagi Apapun yang terjadi, tolong jaga Matt, Tuhan. Aku benar-benar membutuhkannya sekarang juga.

Matt

            Aku memegang sebotol wine di tangan kananku serta tembakau di tangan kiriku, kemudia sesekali aku menghisap tembakau itu dan mengeluarkan asapnya dari kerongkonganku. Rasanya pahit, tidak enak, dan benar-benar menyiksa saluran pernapasanku. Aku bukanlah pemabuk. Aku pergi ke bar biasanya hanya satu bulan sekali, itu juga aku selalu mengajak Kate, istriku untuk minum-walaupun pada akhirnya Kate hanya meneguk air putih. Dia sangat anti dengan minuman yang membakar kerongkongan ini. Tapi pada kali ini, aku benar-benar mabuk berat.