Rabu, 15 Januari 2014

For The First Time - The Script [Interpretasi]


Kate

            Tik.. tok.. tik.. tok.. suara detik dari jam tua pemberian mamaku terus berbunyi. Setiap detiknya semakin mengguncang telinga. Suara lolongan anjing di luar sana juga makin membuat suasana menjadi lebih mencekam. Aku masih terjaga walaupun Sang Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Matt belum juga terlihat batang hidungnya. Harusnya Matt sudah berada di rumah sejak pukul sembilan tadi, tapi sepertinya ia sedang pergi ke bar lokalnya untuk minum sepulangnya ia dari tempat kerja.

            Matt adalah sesosok pria sempurna bagiku. Tidak ada lagi nomor dua setelah Matt. Aku dan Matt sudah dua tahun hidup bersama. Tidak mudah memang menjalin kehidupan nyata di dunia yang kejam bagi dua insan yang tidak begitu banyak memiliki pengalaman. Seberat apapun itu, aku dan Matt akan melawan segala hal terburuk sekaligus. Bersama.

            Aku berpindah posisi dari ruang keluarga ke dapur. Menghangatkan satu panci sup ayam yang sudah sedari tadi aku siapan untuk Matt. Aku mengira Matt akan pulang tepat waktu dan menghabiskan makan malam bersama di balkon rumah yang sudah aku tata sedemikian rupa, ternyata tengah malam sudah lewat. Aku kubur dalam-dalam harapan makan malam bersama Matt.

            Sebenarnya Matt belum benar-benar mendapat pekerjaan yang tetap. Dia masih pergi kesana-kemari untuk mencari pekerjaan yang dirasa cocok untuknya. Matt adalah orang yang tidak mudah putus asa. Dia akan melakukan hal apa saja yang menurutnya pantas untuk kita berdua dapatkan. Dia segalanya bagiku.

            Aku menelpon Matt untuk memastikan apakah ia akan kembali ke rumah sederhana nan mungil ini atau ia akan bermalam di rumah temannya, tapi tak ada satupun panggilanku yang ia hiraukan. Aku khawatir dengannya. Baru kali ini ia belum juga pulang di saat hari hampir pagi Apapun yang terjadi, tolong jaga Matt, Tuhan. Aku benar-benar membutuhkannya sekarang juga.

Matt

            Aku memegang sebotol wine di tangan kananku serta tembakau di tangan kiriku, kemudia sesekali aku menghisap tembakau itu dan mengeluarkan asapnya dari kerongkonganku. Rasanya pahit, tidak enak, dan benar-benar menyiksa saluran pernapasanku. Aku bukanlah pemabuk. Aku pergi ke bar biasanya hanya satu bulan sekali, itu juga aku selalu mengajak Kate, istriku untuk minum-walaupun pada akhirnya Kate hanya meneguk air putih. Dia sangat anti dengan minuman yang membakar kerongkongan ini. Tapi pada kali ini, aku benar-benar mabuk berat.


            Aku hisap tembakau yang berbalut semacam kertas putih yang sebelumnya aku bakar dahulu. Rasanya paru-paruku benar-benar sesak dan ini membuatku sangat sulit bernafas. Maklum, ini kali pertamaku menghisap benda sialan ini. Temanku menyuruhku untuk menghisap ini.

            “Ayolah, Matt! Hisap terus tembakau itu, kemudian keluarkan asapnya tepat di depan muka boss sialan itu,” ucap Ed setengah sadar. Ed adalah temanku. Dia sedang mabuk berat, sama sepertiku.

            Kami berdua baru saja melamar kerja dan kami ditolak. Kemudian kami berdiri diantara kerumunan pengangguran yang mempunyai mimik frustasi di wajahnya. Kami adalah bagian dari mereka. Kemudian Ed mengajakku untuk melepas stress di bar lokal, tapi kami malah kebablasan.

            Sebotol wine dan udara yang sangat dingin di luar memang perpaduan yang sangat sempurna. Membiarkan dingin menyelimutiku dan kemudian rasa dingin itu terkalahkan oleh cairan wine yang menghangatkan. Sensasinya sangat menyenangkan.

            Ponselku bergetar. Aku melihat ada puluhan panggilan masuk yang tidak aku jawab. Ternyata panggilan dari Kate. Ah, lupakan, lagipula aku hanya pergi sebentar untuk melepas penat. Aku bersumpah akan kembali ke rumah sebentar lagi.

            “Permisi, Sir, sepertinya anda tertidur cukup lama,” tiba-tiba ada suara laki-laki yang membangunkanku. Ternyata bartender yang melayaniku tadi membangunkanku. Ah, pukul berapa ini? Aku berjanji pada Kate tidak akan pulang telat.

            Aku mengambil mantelku yang aku gantungkan di sebuah tiang khusus untuk menyimpan mantel dan topi yang tersedia di bar itu. Membiarkan Ed tertidur pulas di meja bar dan meninggalkannya. Kemudian memacu mobilku untuk kembali ke rumah.

            Setibanya aku di rumah, sesosok perempuan muncul dan kemudian memelukku erat. Kate memelukku.

            “Aku khawatir,” rengeknya.

Kate

            Aku memeluknya erat. Rasanya aku ingin terus seperti ini agar kejadian hari ini tidak terulang kembali.

            “Maafkan aku, ya. Aku benar-benar sedang mengalami masa sulit, Kate. Sebagai pria, aku merasa tidak pantas jika aku tidak mendapatkan pekerjaan dan memenuhi seluruh kebutuhan kita berdua,” Matt kemudian menghapus air mataku yang terlanjur deras menuruni pipiku.

            Aku mengambil satu mangkuk sup hangat yang telah aku siapkan tadi, kemudian memberikannya kepada Matt. Matt sepertinya masih dalam pengaruh minuman. Aku lebih baik menyuapinya.

            “Buka mulutmu, Matt,” dia menganga, aku memasukkan satu persatu suapan sup bening ke dalam mulut Matt.

            “Terima kasih, Kate,” ucap Matt.

            Kemudian kami pergi ke kamar tidur dan beristirahat. Selamat malam, Jagoan. Selamat malam, Matt.

Matt

            Kate membuat simpul dasi di antara kerah bajuku dan mengecup keningku.

            “Kau tampak gagah, Matt.”

            “Begitupun kamu dan akan seperti itu seterusnya,” aku membalas kecupannya.

            “Good luck!” ucapnya.

            Aku tidak mengerti mengapa Kate begitu sabarnya menghadapi aku yang benar-benar tengil ini. Jika aku menjadi Kate, aku lebih baik meninggakan rumah ini dan mencari pria yang lebih baik dari Matt.

            Aku melangahkan kakiku dengan doa di setiap langkahnya. Aku melihat Kate melambaikan tangan ke arahku. Aku balas memlambaikan tanganku. Terima kasih, Tuhan telah memberiku wanita sesempurna Kate.

Kate

            Aku membereskan seisi rumah. Tidak akan aku biarkan debu kotor mengotori istanaku yang sudah aku bangun susah payah bersama Matt. Mengelap kaca-kaca pada jendela dan membersihkan debu yang menempel pada figura yangn memuat fotoku dengan Matt.

            Aku mengelap peluhku. Duduk sebentar di sofa ruang keluarga. Aku melihat sekeliling, memastikan jika saja ada hal yang terlewat untuk dibersihkan. Mataku tertuju pada sebuah benda yang lumayan besar berwarna hitam yang elegan. Aku tatap dalam-dalam benda itu. Piano Matt yang telah usang adalah objek yang sedang aku perhatikan.

            Aku beranjak dari sofa dan menghampiri piano hitam yang sudah lama sekali Matt tidak memainkannya. Aku menghapus debu yang berada di atas papan tuts kemudian menekannya sesekali. Aku rindu dentingan piano dari jemari Matt. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku  mendengarkannya. Dentingan piano Matt sangat khas. Memanjakan telinga siapa saja yang mendengarnya.

            Aku buka lembaran kertas yang berisi tangga nada lagu yang biasa Matt mainkan. Mataku tertuju pada sebuah lembaran yang berisi lagu For The Fisrt Time milik The Script. Lagu itu mempunyai kenangan tersendiri untuk kami.

            Di saat masa tersulit yang pernah kami lewati, selalu lagu itu yang kami dengar. Kemudian keadaan mencair seperti sedia kala. Dan mungkin… aku dan Matt saat ini sedang melewati masa sulit sekarang. Sungguh, sejujurnya aku tidak kuat akan keadaan ini. Matt yang 180 derajat berubah serta kegilaan yang menguasai otakku selalu menghasutku untuk menyerah saja.

            Aku bahkan tidak tau mengapa aku dan Matt bisa-bisanya masuk ke dalam situasi yang benar-benar menekan jiwaku. Apakah ini cobaanmu, Tuhan? Seseorang, tolong kami, karena kami sedang melakukan hal yang terbaik. Berusaha agar semuanya baik-baik saja seperti sedia kala, tapi ini sulit rasanya.

            Aku mengambil gitar putihku yang terletak di pojok ruangan dan memetik dawainya. Menyanyikan lagu kenangan sembari mengucurkan air mata,

            “But we both know how, how we’re gonna make it wors when it’s hurts
            When you pick yourself up you get kicked in the dirt
            Trying to make it works, but man these times are hard,”

Matt

Gaya hidup buruk ini mulai menjadi kebiasaanku. Aku mampir sebentar ke bar lokalku bersama Ed. Aku gagal lagi hari ini. Kapan aku mendapatkan kesempatan, Tuhan? Tolong bantu aku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kate.

            Aku hanya minum sedikit wine hari ini dan kemudian membeli dua wine murah lainnya untuk aku bawa ke rumah.

            Rasanya berat kembali ke rumah tanpa membawa kabar bahagia tentang pekerjaan baru. Aku malah membawa petaka untuk Kate karena aku pulang dengan keadaan mabuk-tidak begitu mabuk sebenarnya- dan aku membawa dua botol wine yang sangat ia benci.

            Aku mengetuk pintu rumah. Tak ada jawaban. Pantas saja, waktu teah menunjukkan pukul satu dini hari. Sepertinya Kate marah denganku. Wajar saja kalau dia bersikap seperti itu. Aku memang benar-benar telah membuatnya kecewa.

            Aku terobos pintu rumah. Ternyata pintu tidak terkunci. Aku masuk ke dalam rumah. Tidak seperti biasanya, rumah benar-benar berantakan karena sampah tissue berserakan dimana-mana. Tentu saja ada yang salah di sini, sampai tiba-tiba ada dua bibir mungil yang bersentuhan dengan bibirku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menerima ini. Hangat. Aku tahu benar siapa pemilik bibir ini.

            “Kate,” aku melepaskan ciuman itu.

            “Hai, Matt,” Kate terisak. Aku tatap dalam-dalam matanya yang hitam dan sembab.

            “Maafkan aku. Bahkan ketika aku sebagai pengangguran, aku dipecat. Aku bukan pria yang bertanggung jawab, Kate,” tanpa disadari, bulir-bulir air mata keluar dari mataku.

            “Lupakan itu, Matt. Menghabiskan waktu bersamamu saja, aku sudah sangat bahagia. Mari kita mulai dari awal lagi. Melupakan kegilaan yang terjadi belakangan ini,” rengek Kate.

Kate

            Matt menyodorkanku dua buah botol wine. Aku bergegas ke dapur dan membuka botolnya. Membuang isi satu botol penuh wine dan mengisinya dengan air putih. Aku tidak suka wine. Itu menyiksa kerongkonganku. Kemudian aku kembali keruang tamu dan memberi Matt wine miliknya.

            Malam itu kami bersenang-senang tanpa memikirkan hari esok. Kami melakukan hal-hal yang hampir belakangan ini jarang kami lakukan. Aku melihat senyuman di wajah Matt walaupun air mata sebentar lagi akan jatuh dari pipinya.

            Aku meminta Matt untuk memainkan pianonya. Dentingannya masih sama. Lagu For The First Time lagi-lagi menjadi pereda sakit yang kami miliki. Aku berdiri di sebeah Matt dan bernyanyi,

            “But we’re gonna start by drinking old cheap bottles of wine
            Shit talking up all night
            Doing things we haven’t for a while, a while yeah
            We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years
            We just now got the feeling that we’re meeting
            For the first time.”

            Ya, rasanya baru seperti kemarin kita bertemu, kemudian berkenalan dan jadilah kita yang begini adanya. Rasanya seperti baru bertemu untuk yang pertama kalinya.

            Matt dan aku bersenandung,

            Oh, these time are hard, yeah they’re making us crazy
            Don’t give up on me, Baby..”

            Iya, tolong jangan menyerah pada “Kita” yang telah kita bangun susah payah. Jikapun itu terjadi, tolong dengar lagu ini, Matt.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar