Senin, 13 Januari 2014

If You Ever Come Back - The Script [Interpretasi]


          Aku benamkan wajahku ke bantal merah jambu. Tidak peduli apabila bantal itu sudah basah sebasah-basahnya. Aku merasakan nyeri di dada. Tubuhku mati rasa, kaku, dingin sepertinya sedang menguasai. Rasanya aku ingin mati saja sekalian. Aku membeku di dalam sunyinya malam. Meringkuk di dalam selimut, mencoba mencari kehangatan. Sepertinya keadaan di luar sama kacaunya seperti aku. Awan menumpahkan air mata dan teriakannya, begitupun aku. Menangis sekencang-kencangnya, tidak peduli jika air mataku akan habis nantinya.

                Di luar sana, ada seorang laki-laki-yang aku kenal betul- yang akan memulai hidup baru di kota barunya. Ada sedikit rasa keberatan di bola matanya untuk meninggalkan teman-teman lamanya. Aku dapat melihatnya jelas walaupun dia tidak berada di sampingku. Entah apakah dia merasakan hal yang sama sepertiku atau tidak, yang pasti berat rasanya untuk melihat anak laki-laki itu pergi jauh dari hidupku.

                Aku dapat melihat bayangannya. Dia sedang berdiri menunggu kereta dengan menggenggam koper di sisi bagian kanan. Tak berapa lama kemudian kereta yang akan membawanya datang. Langkah kakinya berat. Dia seret kakinya walaupun itu adalah hal yang tak mudah untuknya. Rasanya aku ingin berteriak,

                “Berbalik! Jauhi kereta itu! Lepas kopermu dan kembalilah ke sini! Kumohon tetap tinggal,”


                Rasanya sia-sia. Aku bukan siapa-siapanya lagi. Aku tidak berhak menginginkan dia untuk tetap tinggal terus menerus di sini. Dia pergi.

                Masih menutup wajahku yang makin memerah dan basah karena air mata. Mencoba untuk menyembunyikan luka yang terlanjur terlukis diwajahku. Semuanya masih sama seperti saat kau tinggalkan aku. Aku masih merasakan ada yang hilang dari diriku, tapi aku tetap berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.

                Tapi kenyataannya adalah aku seorang pembohong di saat aku mengatakan, “Aku baik-baik saja.” Dan aku mengharapkan kehadiran dirimu di saat aku mengatakan hal itu.

                Maaf, aku teralu bodoh karena aku masih berpikir bahwa kamu masih ada di sekitarku. Maaf, aku masih berharap semoga orang yang duduk tepat di depan kanan mejaku masih kamu. Maaf, aku masih berharap kita masih bisa membuat origami burung itu. Maaf, aku masih melakukan hal yang biasa kita lakukan dulu, tapi kini rasanya hampa tanpamu.

                Harapan dari semua harapan adalah semoga kamu masih menyodorkan bahumu yang nyaman itu, kemudian berharap segala sesuatu yang buruk akan berakhir. Tapi sayang, semua harapan itu hanyalah hal yang fana.

                Mereka bilang, semua yang aku lakukan hanya membuang waktuku saja. Toh aku pasti tidak akan pernah terlintas di pikiranmu. Mereka bilang, kau tidak akan pernah kembali lagi. Harusnya aku berpikir seperti itu, tapi apa yang kamu harapkan dari Si Bodoh ini?

                Tapi, jika yang kau ingat adalah pertengkaran dan yang kau rindu adalah hal-hal kecil. Aku tahu kau berada di suatu tempat, maka ingatlah ini,

“I’ll leave the door on the latch, If you ever come back
There’ll be a light in the hall and key under the mat, If you ever come back
There’ll be a smile on my face and the kettle on
And It’ll be just like you were never gone
If you ever come back now”

                Mereka bilang dunia ini rata, tapi mereka salah. Aku berguncang, begitupun dunia. Jadi, apakah mereka masih menganggap dunia ini rata ketika makhluk di dalamnya sedang terguncang jiwanya?

                Aku membuka lebar-lebar pintu hatiku. Akan aku ambil semua resiko, kecuali resiko akan luka baru. Aku belum siap untuk mendapatkan itu.

                Semoga kamu mempunyai waktu untuk berunjung kembali. Aku rindu kamu, Vin.

13 Januari 2013,


Masih mengingat kejadian yang akan
terjadi esok pada tahun kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar