Minggu, 23 Februari 2014

Tentang Pedihnya Berada di Kesunyian

              Rasanya baru kemarin aku sedang berada di puncak kesenangan hidup, tapi ternyata itu sudah 61 minggu yang lalu. Kenapa waktu berjalan cepat? Sedangkan stalagmite tumbuh begitu lama? Kenapa semua berubah begitu cepat? Dan kenapa pula ‘rasa’ ini rasanya lama sekali pergi?

                Diam sejenak di dalam keheningan. Mencoba berpikir kembali kenapa aku seperti ini. Kenapa bisa aku berada di dalam kesendirian? Padahal 61 minggu yang lalu aku mempunyai segalanya. Teman, Dia, dan seluruh perasaan gembira yang membuat aku lupa diri. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Temanku entah kemana. ‘Dia’ mungkin sudah lupa, dan semua perasaan gembira itu kini lenyap ketika awan abu-abu menyerbu.

                Kemana temanku? Oh, ya, mereka masih ada di sekitarku. Apakah mereka peduli kepadaku layaknya mereka peduli padaku seperti dulu saat kita masih bersama-sama? Mungkin tidak. Lagi pula apa peduli mereka? Toh aku ini hanya secuil hal yang pernah lewat di dalam hidupnya. Ya, hanya lewat. Untuk apa aku tinggal di dalam hidupnya? Aku tidak penting. Aku tidak berharga. Aku sampah.

                Apakah mereka masih mau menganggapku teman? Mungkin tidak. Jikapun jawaban itu ‘Ya’, hal yang paling pasti adalah : Mereka hanya menganggapku teman apabila mereka membutuhkan sesuatu—yang mungkin bisa aku lakukan untuk mereka. Merasa dimanfaatkan? Itu hal biasa. Semua orang seperti itu. Tidak ada orang yang mau merugi, maka manfaatkanlah orang di sekitarmu—walaupun itu akan membuat orang tersebut menderita.

                Sedikit menyesal menjadi orang baik di lingkungan sekitar. Maksudku, sekalinya kamu menjadi orang baik, orang-orang akan menggapmu aneh. Menjadi orang baik tidak menyenangkan. Ya, sekalinya kamu menjadi orang baik, orang tidak akan pernah sungkan untuk memanfaatkan kebaikanmu, menguras kebaikanmu, dan jika mereka telah puas, mereka akan meninggalkanmu. Kemudian, BAM! Kamu akan berpikir bahwa kamu adalah orang yang sangat bodoh segalaksi karena telah berbuat baik.

                Bukan, bukan maksudku mengatakan bahwa berbuat baik itu hal yang buruk. Berbuat baik itu perlu, tapi… kalian harus melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu. Lihat lingkungan sekitar. Apakah mereka benar-benar menerima kebaikanmu atau malah memanfaatkan kebaikanmu.

                Satu lagi, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Atau diri sendiri. Aku merasa… aku tidak akan pernah lagi seratus persen percaya dengan orang lain—kecuali Bapak dan Mama. Akupun meragukan diriku. Aku juga mulai meragukan ‘diriku’. Bagaimana bisa? Ya, aku sering sekali membohongi diriku sendiri. Apakah aku adalah seseorang yang bisa diberi kepercayaan? Kenyataannya tidak. Aku berani membohongi diriku sendiri, apa lagi orang lain.

Kamis, 13 Februari 2014

14, Siapa Peduli?

"H-3" celetuk seorang anak di sebuah grup chat, kemudian kamu sepertinya bingung dan bertanya,
"H-3?"

Sialan. Anak itu berusaha memancing emosiku.

"Oh hahaha. Baru paham apa itu H-3," tiba-tiba kamu berkata seperti itu.

Aku tertawa kecil. Haha, ternyata kamu masih mengingatnya. 14.

---

Chat dua hari yang lalu masih terbayang di otakku. Entah aku yang berpikir terlalu jauh atau aku memang orang bodoh yang masih menginginkan semua tentang 14 terulang kembali.

14, tanggal yang setiap bulan kita tunggu. Apa spesialnya? Akupun tidak tahu, tapi seingatku dulu, aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu Si 14.

Satu tahun lebih satu bulan, seharusnya. Tapi kenyataannya? Lupakan.




Semoga kamu masih mengingat 14 yang sekarang, sama
halnya seperti 14 sebelumnya yang pernah kamu nanti-nanti.

Sabtu, 01 Februari 2014

Sepenggal Kisah dari Mahasiswa ITB

                Hari ini sekolah gue, SMANDA Cirebon lagi ngegelar Uniday. Gue belom begitu ngerti tentang acara ini, tapi gue sempet-sempetin dateng ke acara ini. hehe.

                Sebenernya acara ini khusus buat anak kelas 12, jadi alumni SMANDA yang udah masuk ke perguruan tinggi yang ternama dikumpulin jadi satu dan kemudian sharing-sharing tentang universtitas dan jurusan yang diminatin. Mereka (para alumni) bertugas memberikan informasi dan meningkatkan semangat belajar khususnya para Mas/Mba kelas 12. Ternyata bener, alumni SMANDA emang hebat-hebat.

                Sepulang sekolah, gue, Komala, dan Aul pergi ke ruangan-dulunya kantor guru- yang sekarang jadi tempat digelarnya uniday. Gue kepo sama univ-univnya mas/mba alumni. Ya, walaupun ruangannya nggak terlalu besar, tapi cukup buat menampung stand-stand perwakilan dari universitas para alumni. Dan ya…… stand yang gue pertama kali kepoin adalah ITB.

                ITB, siapa juga sih yang ngga pengen masuk ke perguruan tinggi negeri yang namanya udah tersohor dan telah mencetak insan-insan muda berbakat yang kemampuannya ngga usah ditanya lagi. Gue bener-bener mau masuk ITB. Sumpah, tapi gue masih ragu buat ngambil fakultas apa. Awalnya gue mau masuk ITB gara-gara bapake itu alumni ITB. Doi selalu cerita tentang masa kuliahnya yang kedengerannya seru abis. Mulai dari cara belajarnya bapak yang dulu bener-bener ekstra- dulu bapak harus jaga lapak di pasar, soalnya setiap pagi bapak harus bantu mbah putri jualan di pasar- prestasinya di bidang olahraga basket, kemudian gara-gara itu bapak jadi cowok kece, cerita tentang masa-masa ospeknya yang bener-bener seru dan katanya waktu itu bapak adalah peserta yang paling diingat gara-gara sering bikin jengkel panitia, cerita bapak waktu dulu belajar dari jam sepuluh sampe jam dua malem, terus nyempetin diri buat sholat malem dan ketiduran di atas sajadah. Katanya pas tidur, doi mimpi lagi ujian dan ngerjain ujiannya lancar banget, besoknya bapak ujian. Soalnya cuma 2-3 soal, tapi dikasih waktu tiga jam. Saking apanya…. Eh ternyata katanya soal yang keluar itu ngga jauh beda sama soal yang bapak kerjain waktu di mimpinya. Sakti banget. Bapak juga selama SD, SMP, SMA, dan kuliah ngga pernah ngeluarin biaya, beasiswa saban tahun. Mengingat dulu bapak harus makan satu telor ceplok berlima, bikin gue merinding denger ceritanya. Salut buat Almarhum orang tuanya bapak yang bener-bener ngedidik bapak buat jadi orang yang tahan banting dan selalu ingin terus bekerja keras sampe-sampe bapak bisa sekolah di ITB.  Rasanya pengen banget jadi bapak. Doi bener-bener inspiratif.


Cowok paling kiri dulunya atlet basket yg paling kece