Minggu, 30 Maret 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 2]

Satu hari, dua hari, satu minggu, empat minggu, satu bulan lebih satu minggu… akhirnya! Akhirnya kamu dapat menebak kodeku! Yes!

            Tapi dengan terpecahkannya kode yang aku berikan kepadamu itu tidak menjamin harapanku akan segera terkabul.

            Tunggu, harapan apa yang aku maksud?

            Iya, aku mengaku. Aku berharap ada ikatan lain selain ikatan pertemanan.

            Setiap malam. Hampir setiap malam, seperti biasanya aku dan kamu selalu saling mengirimkan pesan teks, akan tetapi pesan teks yang kali ini berbeda. Pesan teks yang sekarang mengandur unsur ‘harapan’ di dalamnya.

            Ternyata tanpa aku duga-duga. Malam itu, tengah malam, kita berdua mengaku kalau kita mempunyai rasa yang sama. Kenapa tidak dari dulu saja kita seperti ini? Saling mengakui tentang perasaan satu sama lain.

            Ada masalah lain. Aku sadar bahwa aku tidak akan bisa menjadi hal lebih dari teman dengan Ken. Ada tembok besar yang menghalangi. Kenapa? Kenapa? Kenapa?

            Harusnya aku sadar bahwa aku yang kecil ini tidak akan bisa merobohkan tembok besar itu, tapi aku nekat. Aku kikis tembok itu—karena aku pasti tidak akan pernah bisa merobohkan tembok itu—sedikit demi sedikit, memastikan jika ada sedikit kesempatan untuk menerobos masuk walaupun hanya dari celah terkecil sekalipun.

            Dasar teman iseng. Pasti ada saja pengganggu di antara kita. Anak laki-laki itu—Si pencinta olah raga—membeberkan apa yang sedang terjadi diantara kita. Aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu, mulutnya seperti anak perempuan yang selalu mengumbar gosip sana-sini.

            Jadilah seantero kelas tahu apa yang sedang terjadi di antara kita. Jadilah kita berdua canggung. Jadilah kita dua orang yang pasif di dunia nyata dan sangat aktif di dunia per-pesan teks-an. Jadilah kita…. Bukan apa-apa.

            Aku diam. Kamu diam. Hanya ada kesunyian di antara kita. Loh, kenapa kita seperti ini? Padahal sebelumnya kita itu bagaikan Tom dan Jerry yang tidak akan pernah bisa akur dan selalu ribut setiap saat. Kamu mengejekku, aku balas ejek. Kamu memukulmu, aku balas pukul. Taruhan bola yang berujung dengan kebab yang kamu berikan pada saat latihan seni budaya sore itu. Aku ribut, kamu lebih ribut, kita berdua ribut di saat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, jadilah kita di hukum oleh guru. Menjelaskan tentang perundang-undangan yang ada di Indonesia. Aku dan kamu yang selalu mendapat kelompok yang sama, entah ketika kelompok itu ditentukan oleh guru ataupun tidak. Aku dan kamu yang dulu tidak pernah terpisahkan.

            Lalu apa yang terjadi sekarang? Hening. Keheningan menaungi kita berdua.




              Nadia  : Tunggu! Aku punya puisi untuk kamu!
            Ken     : Baik, bacakan.

Kesunyian November
Karya : Nadia

Rasanya baru kemarin, ternyata dulu, November
Petir menyambar, memberi ribuan volt rasa sabar
Sebenarnya ‘kita’ ini apa? Sebatas teman atau… apa?

Aku diam. Kamu diam.
Sembunyi dari rasa yang sedang menggebu
Rasanya enggan mengeluarkan satu kata dari bibirku

Hujan sedari pagi mengguyur menambah rasa dingin
di dalam kesunyian November

Maaf, kesunyian ini bukanlah ulahku
Rasa yang menggebu yang menyuruhku
Maaf, aku terlanjur menyukaimu. Menginginkanmu
Dan mungkin begitupun kamu

Kurasakan adanya jarak antara aku dan kamu
Iya, seharusnya aku tidak perlu mengembangkan rasa ini terlalu besar
Sikap kita berubah, lebih dingin dari es
Aku mengingikan adanya kehangatan di antara kita
Bukannya menggigil karena kesunyian November.

              Nadia  : Aku bukan penulis puisi yang baik, tapi aku suka merangkai kata.
            Ken     : Lalu?
            Nadia  : Semoga kamu suka dan memaklumi ketengilan puisi ini.

            Aku harus apa lagi? Katakan! Apa lagi yang harus kamu lakukan? Aku mohon segera lakukan itu. Apa lagi yang harus kita perbuat agar dapat seperti dulu? Kenapa tidak kita coba?

 Apalagi yang harus aku dan kamu lakukan agar semuanya menjadi ‘kita’?

            Mungkinkah akan ada ‘kita’? Mungkin memang benar kita bukanlah dua orang yang terlihat cocok, tapi… sadarkah bahwa kita sama? Sama-sama merasa nyaman, sama-sama merasa memiliki harapan saling menggantungkan, sama-sama memiliki rasa yang sama. Lihat? Kita begitu sama dan saling melengkapi antara satu sama lain

            Entah mereka yang perasa atau terlalu peka. Mereka dapat membaca bahasa tubuh kita. Tidak seperti dulu, aku dan kamu yang sekarang lebih kaku. Dan setiap mereka bertanya apakah benar rumor yang beredar itu, kita selalu menyangkalnya. Mengaku bahwa tidak ada yang terjadi sama sekali. Kita mengganggap rumor itu bagaikan asap yang kemudian hilang ditiup angin, tapi nyatanya asap itu semakin membumbung tinggi. Tapi pada akhirnya—entah itu kapan, sekarang atau nanti—waktu akan membeberkan seluruh rahasia yang kita simpan. Apakah yang aku dan kamu tunggu adalah waktu yang tepat? Sekarang lihatlah waktu yang sudah aku dan kamu sia-siakan.

            Hampir. Ternyata hampir terkadang tidak tepat. Hampir terkadang tidak memuaskan. Hampir bukanlah hal yang pasti. Hampir saja aku dan kamu menggapai semuanya, hampir saja aku dan kamu jatuh cinta. Mungkin kita tak akan pernah seperti ini. Berdiam diri dan mengelak dari kenyataanya. Mungkin jika kita mengakui itu semua, kita akan saling bersama dan tenang. Ya, hampir. Hampir saja kita tahu apa itu arti dari kata yang sering orang sebut-sebut itu. Tapi kembali lagi, hampir tidaklah cukup. Hampir bukanlah hal yang pasti.

               Nadia  : Satu pertanyaan. Kenapa dulu kamu diam?
            Ken     : Karena kamu diam. Kenapa kamu diam?

            Nadia  : Karena aku… cukup! Akhiri dialog imajiner ini.




To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar