Jumat, 28 Maret 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : I]

Hai, Ken! Apa kabar?

            Well, selamat malam, Ken. Sekali lagi, apa kabar? Pastinya baik—dan semoga akan semakin baik di setiap harinya. Amin!

            Oh, ya, apakah kamu ingin tahu bagaimana kabarku sekarang? Oh tidak? Tapi kamu harus tahu. Aku tidak mau tahu, kamu harus tahu bagaimana kabarku atau keadaanku sekarang. Harus! Oke, kamu yang memulai pertanyaan. Tetap tidak mau? Baiklah, tapi aku memaksa. Aku buat dialog imajiner ini, agar—setidaknya secara tidak langsung—kamu menanyakan kabarku.

               Ken     : Apa kabarmu?
            Nadia  : Apa pedulimu? Toh kamu juga tidak akan peduli kan?
            Ken     : Iya, aku tidak peduli, tapi ini kan dialog imajiner buatanmu.
            Nadia  : Oh, iya, aku lupa. Sampai dimana tadi?
            Ken     : Apa kabarmu, Nadia?
            Nadia  : Kabarku? Seperti biasa. Aku tidak baik.
            Ken     : Loh kenapa?
            Nadia  : Pikir saja sendiri.
            Ken     : Aku tidak tahu.
            Nadia  : Kamu ini ya, masih saja tidak peka. 

            Berhenti! Aku tiba-tiba saja merasa seperti orang gila. Berbica kepada diri sendiri, kemudian menanyakan kabarku ke diriku sendiri. Harusnya ada kamu, Ken, biar aku tidak melakukan hal gila yang seperti tadi lagi. Mengada-adakan sebuah percakapan.

            Aku melakukan hal gila tadi karena aku…. Aku rindu kamu, Ken.
            Haha! Gila kan? Iya, aku gila dan akan selalu begitu.


            Tahun baru, Ken. 2013 tenyata sudah menjadi masa lalu kita, ya. Eh, tunggu… masa lalu kamu atau aku? Atau… kita? Haha, maaf aku bercanda. Aku lupa bahwa ‘kita’ sudah tidak ada.

            Apakah kamu mempunyai resolusi? Apakah resolusi itu sama seperti resolusi tahun sebelumnya? Aku tidak punya resolusi, dan jikalau aku membuat resolusi, pasti resolusi itu akan bersangkutan dengan kamu, Ken.

            Sebelum tahun baru (kira-kira bulan November) aku punya satu resolusi. Iya, satu! Apakah kamu penasaran apakah resolusiku itu? Ya! Move on.

            Begini saja. Mari berpikir sejenak kenapa aku memilih dua kata itu sebagai resolusiku. Okay, akan aku jelaskan.

            Sudah berapa bulan kamu pergi? Sudah berapa liter air mata yang aku keluarkan? Sudah berapa ton rindu yang aku pendam? Sudah berapa malam aku tersiksa jika terbayang wajahmu? Sudah berapa kali kita berkomunikasi setelah kamu pergi?

            Apakah malam-malam ketika kita berkomunikasi sebanding dengan malam-malam dimana aku mengeluarkan air mata karena merindukanmu? Tidak. Maka dari itu, sebaiknya aku menjauh saja dari semua-muanya yang berhubungan dengan kamu. Tapi anehnya, semakin aku menjauh, semakin aku menyadari : Aku makin merindukan kamu.

            Resolusi November itupun akhirnya aku coret.

            Lalu, dengan keadaanku yang sekarang, aku bisa apa? Merindukanmu tapi aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Ingin sekali rasanya menghabiskan waktu bersamamu lagi. Seperti dulu. Saling mengejek satu sama lain. Walaupun pada awalnya aku agak kesal, tapi ternyata ejekanmu itu benar-benar nagih. Kemudian melepaskan tali sepatuku, mencoret-coret buku di halaman belakang, menggambar Hello Kitty di lenganmu. Hahaha, aku rindu semua itu, Ken.

            Baiklah, mari kita memulai dialog imaginer lagi.

              Ken     : Cukup, Nad.

            Nadia  : Jangan memaksaku! Aku yang mengatur dialog ini!

            Ken     : Huh, baiklah.

          Nadia  : Jadi, Ken, bagaimana teman-teman barumu? Apakah menyenangkan? Atau menyebalkan?

            Ken     : Kepo.

            Nadia  : Jawab, Ken.

            Ken     : Mereka menyenangkan.

            Nadia  : Lalu apa bedanya dengan teman lamamu?

            Ken     : Aku tidak tahu.

            Nadia  : Kok kamu tidak tahu?

           Ken     : Semua dialog ini kan berasal dari pikiran kamu dan pikiran kamu tidak tahu perbedaan antara teman baru dan teman lamaku.

            Nadia  : Oh, iya, aku lupa. Pertanyaan lain.

            Ken     : Silahkan.

            Nadia  : Apakah kamu sudah mempunyai yang baru?

            Ken     : Menurutmu?

            Nadia  : Semoga belum.

            Ken     : Kamu salah.

            Nadia  : Oh, jadi kamu sudah punya?

            Ken     : Tidak tahu.

            Nadia  : Loh, kok, tidak tahu?

            Ken     : Peringatan : Ini adalah dialog imajinermu.

            Nadia  : Lempar aku jika aku melupakan peringatan itu.

            Ken     : Baiklah.

            Nadia  : Aku belum punya yang baru.

            Ken     : Cari.

            Nadia  : Mencari yang baru dan mendapat luka baru? Tidak!

            Ken     : Lalu kamu akan terus seperti ini?

            Nadia  : Ya. Dan akan terus seperti ini.

            Ken     : Haha, dasar bodoh.

            Nadia  : Pertanyaan terakhir.

            Ken     : Silahkan, Nona.

            Nadia  : Masih ada ‘aku’ di otakmu?

            Ken     : Peringatan!

            Nadia  : Baiklah. Lempar saja aku.

            Mencari yang baru katamu? Tidak semudah itu, bodoh. Oh, iya. Hampir aku menemukan orang baru, tapi aku merasa… rumah itu kamu. Jadi sejauh apapun aku pergi, aku akan kembali ke rumah. Jadi, jangan heran jika ada seseorang yang tidak kamu harapkan tiba-tiba mengetuk pintu rumahmu, ya!

            Sedikit cerita. Pernah aku mencoba kabur dari rumah. Menempuh jarak ratusan kilometer dan hampir membuat rumah baru, tapi… ternyata rumah baru itu fondasinya tidak sekuat rumah lama. Rumah lama begitu nyaman, apalagi perapiannya. Oh, iya, apakah kamu mengerti apa yang aku maksud ‘perapian’ itu? Jemarimu.

            ‘Cari’. Cari yang baru katamu. Aku hampir saja menemukan yang baru. Dia… dia laki-laki yang baik, sama sepertimu. Dia juga sama lucunya denganmu, mungkin bisa dibilang dia hampir menggantikan posisimu—tapi kenyataannya tidak. Aku tidak akan bisa menggantikan posisimu.

            Masih ingat ketika ‘kita’ waktu dulu selalu ada untuk satu sama lain? Setiap malam, hampir setiap malam membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dibicarakan sampai terkadang kamu jengkel sendiri karena aku tinggal tidur.

         Dulu, hanya kamu temanku yang paling memperhatikan aku. Hanya perasaanku saja atau kenyataannya seperti itu? Ah, akupun tak tahu. Semakin dekat semakin dekat saja, kemudian… hai, aku suka kamu, Ken!

            Tapi…. Teman? Hanya teman yang aku dapat setelah aku mendengarkan semua ocehanmu? Mulai dari ocehanmu tentang harimu, tentang klub bola favoritmu, tentang keluargamu, dan tentang perempuan beruntung yang kamu sukai itu,

            “Dia manis. Dia imut. Dia, dia, dan, dia,”

            Seketika hatiku hancur berkeping-keping.

            Kamu ini, sadar dong.

            Siapa yang selalu ada buat kamu? Aku, bukan dia.
            Siapa yang selalu siap sedia mendengar ceritamu? Aku, bukan dia.
            Siapa yang selalu menemanimu sewaktu malam suntuk? Aku, bukan dia.
            Siapa yang mempunyai perasaan yang menggebu kepadamu? Aku, bukan dia
            Siapa yang kamu kejar? Dia, bukan aku.

            Sepertinya kamu sedang dimabuk cinta. Segala hal tentangnya pasti kamu tahu. Segalanya. Dan kamu menceritakan semua ‘segalanya’ kepadaku. Iya, aku berani bertaruh, perempuan itu pasti lebih cantik, menarik, dan memiliki semua hal yang tidak aku punya. Semoga perempuan itu menyadari keberadaanmu, menerimamu, menggenggammu erat, memberimu seluruh rasa cintanya, melihat kedua matamu yang sipit itu, dan semoga perempuan itu merasa beruntung

            Iya, aku pecundang. Aku tidak bisa mengutarakan perasaanku padamu. Aku hanya dapat memberimu kode-kode saja yang semoga bisa kamu pahami.

            Semua ini salahku. Salahku yang terlalu penakut. Rasanya aku ingin menyalahkan semua yang telah terjadi kepada diriku sendiri. Haruskah aku mengutarakan perasaan ini kepadamu? Atau tidak? Atau aku harus diam saja dan menahan perihnya kata-kata yang terlontar dari bibirmu tentang si perempuan yang telah kamu tunggu-tunggu?

            We are like dominoes. I fall for you, you fall for another.

            Aku lebih memilih diam dan menunggu. Mungkin di kemudian hari, kamu akan menyadari tentang ‘keberadaanku’.

              Nadia  : Asal kamu tahu saja, menunggu itu melelahkan.
            Ken     : Sudah tau.
            Nadia  : Terus kenapa kamu malah membiarkan aku menunggumu?
            Ken     : Mana aku tahu kalau kamu sedang menungguku?
            Nadia  : Memangnya aku sebegitu tidak kelihatannya, ya?
            Ken     : Bisa jadi.


            Peka, Ken. Peka.



To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar