Sabtu, 05 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 3]

            Desember! Apakah kamu masih mengingat Desember kita, Ken? Iya, walaupun kamu lebih dulu pergi ke kota asalmu, tapi komunikasi antara kita berdua tidak pernah terputus. Sumetra dan Jawa. Yang berbeda provinsi dan tentu berbeda pulau juga.

            Kamu di sana asyik merayakan hari yang penuh keberkatan dan kedamaian bersama dengan keluargamu, sedangkan aku berada di rumah dan sendirian karena keluargaku harus pergi menjenguk nenekku dan aku akan mengikuti pelantikan eksktrakulikuler. Rasanya aku suntuk berdiam diri di rumah, tapi setidaknya ada kamu, Ken, yang selalu menemaniku di setiap malam.  Walupun hanya sebatas kata-kata yang kamu kirim, aku bahagia.

            Sampailah aku di hari pelantikan. Rasanya…. Deg-deg-an! Semua atribut aku persiapkan sendiri. Lelah memang, tapi setidaknya ada kamu yang menyemangatiku pada pagi harinya.

            Apakah kamu tahu apa yang hendak aku katakan pada pagi itu?

            “Terima kasih, Tuhan, banyak terima kasih karena Engkau telah memberiku teman seperti Ken,”

            Maksudku, siapa yang tidak senang apabila diberi teman yang cocok oleh Tuhan? Maka dari itu aku sangat mensyukurinya.

            Tidak mudah bagiku dan teman-teman angkatanku untuk mendapatkan syal kuning ini. Kami harus berjuang mati-matian. Hujan dan terik matahari—saat itu cuaca tidak dapat diprediksi—tidak kami hiraukan. Tujuan kami satu, mendapat ridho dari Tuhan melalui syal kuning ini.


            Akhirnya selesai juga acara pelantikan ini. Aku segera  pulang ke rumah. Ternyata hari sudah malam, rintik-rintik hujan masih membasahi Kota Udang, tapi siapa yang peduli? Yang penting aku sudah mendapatkan syal kuning yang sudah lama aku idam-idamkan.

            Aku bongkar seluruh isi tasku. Aku pisahkan baju kotor bercampur lumpur dan kembang tujuh rupa bekas pelantikan tadi. Kemudian mengumpulkan cemilan yang tersisa di dalam tasku. Sendiri di rumah memang bukan hal yang biasa bagiku, tapi ini membuatku terlatih untuk hidup mandiri. Setelah itu, aku bersihkan badanku. Membuang seluruh rasa lelah dari badanku dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja bersama air.

            Aku comot roti cokelat sisa pelantikan tadi kemudian mengutak-atik handphoneku. Aku lihat ada puluhan miscall dan beberapa pesan teks dari mama yang pasti sedang mengkhawatirkan keadaanku karena aku belum sempat memberinya kabar. Aku balas pesan teks itu dan memberi tahu kepada mama bahwa acara pelantikan sudah selesai dan aku sedang tidak kelaparan karena aku masih memiliki bekal sisa pelantikan tadi.

            Tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata ada sebuah pesan teks, aku kira pesan teks itu balasan dari mama. Aku salah. Pesan teks itu ternyata dari kamu, Ken.

            “Edeh ya yang udah resmi jadi anak PMR :D”

            Aku melompat kegirangan. Aku merasa terharu karena tidak ada sebelumnya orang yang sebegitu perhatiannya kepadaku. Aku benar-benar  besyukur. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak.

            Nadia  : Kita mempunyai Desember yang manis
            Ken     : Kurasa begitu
            Nadia  : Mau melakukannya lagi?
            Ken     : Bisakah?
            Nadia  : Tidak. Tidak akan pernah bisa lagi seperti itu. Seperti Desember 2012.

            More than just a friendship, but less than a relationship. Itulah kita! Iya, saling berharap satu sama lain, tapi kita tidak dapat melakukan apa-apa. Oh, iya, liburan panjang ini membuatku bosan. Aku ingin sekali menghabiskan waktu denganmu, Ken. Saling bertukar pesan teks tidaklah memuaskan hasratku yang benar-benar merindukanmu. Ups, aku temanmu tapi aku rindu kamu! Apakah itu salah? Tidak!

            Maksudku, wajarlah jika aku merindukanmu. Soalnya aku merasa kesepian, Ken. Di setiap saat yang aku habiskan denganmu pasti tidak akan membuatku merasa kesepian dan bosan, maka dari itu aku butuh kehadiranmu sekarang juga. Sekarang juga.

***
            Truth or dare pada malam minggu itu? Aku masih ingat. Kamu menaruh hati padaku. Apakah kamu ingin tahu apa yang aku lakukan pada saat engkau mengakui rahasia itu? Hatiku. Berdetak. Kencang. Sekarang lamunanmu bukan lagi Si Gadis Imut itu, tapi aku. Hihi.

Taruhan bola lagi, tapi tidak ada hal yang perlu dikeluarkan saat ini. Hanya sekedar taruhan untuk melewati malam tahun baru. Klub bola favoritmu sedang bertanding malam ini. Oh, iya, jangan lupakan tentang telepon pada malam tahun baru itu! Iya, suaramu pada malam tahun baru itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Beda sekali jika dibandingkan dengan suara aslimu.

Awal tahun yang sangat berbeda. Biasanya aku menghabiskan malam tahun baru dengan mengobrol segala sesuatu melalui telepon dengan teman perempuanku, tapi kali ini berbeda. Kamulah satu-satunya teman laki-lakiku yang aku habiskan malam tahun bersama. Walaupun hanya beberapa detik kita berbicara—dan bisa dibilang itu adalah obrolan tersingkat kita melalui telepon—tapi rasanya… suaramu itu loh, Ken. Sangat candu.

            Nadia  : Satu rahasia kecil.
            Ken     : Beri tahu aku.
            Nadia  : Jantungku hampir copot saat kau mengangkat teleponnya.

            Iya, rasanya gemetar. Sangat gemetar. Mulutku terkunci seketika. Hanya ucapan “Happy New Year, Ken!” yang aku berikan kepadamu malam itu. Tapi semua itu cukup. Sangat cukup untuk seorang gadis yang sedang dimabuk cinta ini.


            Sejak awal—tidak sepenuhnya awal, lebih tepatnya pada saat kamu mulai bercerita tentang Si Gadis Imut itu—aku berpikir bahwa kamulah Si Pencuri yang seharusnya layak untuk diberi hukuman karena telah mencuri hatiku. Dan bodohnya aku senantiasa bersyukur menjadi korbanmu—korban yang telah diambil hatinya. Aku biarkan kamu mengetahui semuanya tentang aku. Baik, buruknya aku, semuanya. Semuanya yang berhubungan denganku. Aku bongkar semua masa laluku, luka yang dulu pernah aku dapat ketika aku belum bertemu denganmu, dan dengan ajaibnya kamu dapat menyembuhkan luka lama yang sudah lama terpatri di dalam diriku. Kamu membuatku pulih lagi seperti sedia kala. Bagaimana bisa aku tidak mempunyai secuil rasa sedikitpun kepadamu ketika kamu telah membangunkan jiwaku yang telah mati suri selama ini?

             Tolong jangan kaget, Ken.

To be continued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar