Sabtu, 05 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 4]

Semua orang punya cita-cita. Begitupun kamu, yang sangat ingin menjadi dokter bedah dan dijuluki ‘Dokter Tangan Tuhan’ ataupun ingin menjadi pengacara seperti Hotman Paris yang begitu kayanya sehingga dapat membeli banyak mobil sport. Aku hanya tertawa dan terheran-heran jika mendengar semua cita-citamu. Ken Foundation juga. Kamu akan membuat Ken Foundation yang bertujuan untuk membantu daerah-daerah yang sedang kesusahan. Kemudian cerita itu berganti dengan cerita tentang cita-citaku yang ingin sekali menulis sebuah novel best-seller yang nantinya orang banyak akan setidaknya menyempatkan diri untuk membaca sinopsisnya. Novel itu akan sangat menginspirasi orang banyak karena novel yang aku buat kisahnya akan berasal dari cerita perjalanan hidupku yang aku modifikasi dan orang-orang akan menyempatkan waktunya dan berkunjung kepadaku dan menceritakan masalahnya, karena aku akan menjadi psikolog di kemudian hari.

Ada satu cita-citaku yang sempat kamu remehkan. Iya, aku dan cita-cita animatorku. Entah dulu aku yang gila atau apa. Beraninya aku menaruh animator di daftar cita-citaku.

Yang pasti kita berdua mempunyai mimpi. Otomatis hidup kita juga mempunyai harapan. Aku dan Ken senang sekali apabila kita berbicara tentang masa depan kita masing-masing. Merancang masa depan, seolah-olah kita dapat meramal apa yang akan terjadi di hari setelah hari ini, besok, ataupun beberapa tahun ke depan

          Nadia  : Baiklah ‘Dokter-Tangan-Tuhan’, apakah engkau dapat menyembuhkanku?
          Ken     : Menyembuhkanmu dari apa? Penyakit vertigomu?
          Nadia  : Bukan, tapi menyembuhkan hatiku yang sudah terlajur remuk berkeping-keping karena kamu                        harus pergi dan aku menantangmu untuk menyembuhkanku kembali.
           Ken   : Maaf, sepertinya anda harus ke dokter sebelah.

***
            Semester baru. Bulan baru, begitupun tahun. Apakah tahun ini akan ada sesuatu yang baru juga? Siapa tahu?


          Awal tahun. Ada beberapa kegiatan yang harus aku dan teman-teman PMR-ku lakukan. JUMBARA. Semacam lomba PMR yang diadakan oleh PMI. Semangat teman-temanku sangat menggebu-gebu. Kami menaruh impian akan membawa pulang juara 1.1 yang sudah menjadi tradisi turun temurun dari angkatan-angkatan sebelumnya. Kita bisa, 30. 1.1 akan kita bawa pulang.

            Malam pertama JUMBARA sangatlah berat bagi kami. Ya, tenda kami kebanjiran!

            Itu semua karena ulah panitia JUMBARA yang menempatkan tenda kami di dekat sumber air. Jadilah kami kebanjiran dan ‘mengungsi’ ke aula yang berada di sebelah utara bumi perkemahan.

            Ternyata tidur hanya beralaskan lantai yang sangat menusuk tulang benar-benar membuatku tersiksa. Aku meringkuk di dalam dinginnya malam. Mencoba mencari kehangatan, tetapi itu hal yang sia-sia. Aku aktifkan ponselku yang sedari tadi sekarat, huh untung saja masih bisa menyala. Ternyata ada pesa teks yang aku terima, hmmm… kira-kira dari siapa ya? Hehe.

            “Gimana lombanya? Kok nggak ada kabar? Hehe.” Isi pesan teks itu. Tidak perlu ditanya lagi siapa pengirimnya. Iya, kamu. Itu kamu, Ken.

            “Ya, bisa dibilang lancarlah. Hehe. Maaf, ya, baterai handphoneku habis dan sangat sulit untuk mencari stopkontak disini. Kamu belum tidur?” balasku.

            “Oh gitu ya… loh, harusnya aku yang bertanya kenapa kamu belum tidur? Sekarang kan sudah hampir tengah malam,”

            “Ceritanya panjang. Aku akan ceritakan semuanya nanti habis JUMBARA selesai, ya! Aku capek. Aku tidur duluan ya…” aku memutuskan untuk tidur karena aku sangat lelah pada hari itu.

            “Oke. Goodnight, Nad.”

***

            Pagi harinya aku dan seluruh teman-teman PMR-ku Se-wilayah 3 Cirebon mengikuti senam pagi, kemudian melanjutkan lomba yang sempat terhenti kemarin.

            Enam jam non-stop aku mengikuti tim pertolongan pertama kelompok PMR sekolahku. Dua kata : sangat melelahkan. Padahal aku hanya ikut di belakang tim, tidak mengikuti lombanya, tetapi tetap saja aku merasa lelah. Kalian memang hebat, 30.

            Malamnya PMR angkatan 29 dan 30 mengadakan makan malam bersama. Entah apa ini namanya. Baru kali ini aku merasakan camping yang makan malamnya dengan pizza dan donat. Camping ter-kenyang yang pernah aku ikuti.

            Setelah itu, aku dan beberapa temanku merebahkan diri di bawah langit yang bertabur ribuan bintang. Memandang langit, merasakan dinginnya malam. Bersenandung. Iya, kami bersenandung. Lagu Kangen dari Dewa 19 adalah lagu utama kami.

            “Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya.
            Menahan rasa ingin jumpa.”

            Aku dan Tasya berteriak menyanyikan lagu itu. Tidak peduli jika pita suaraku akan putus nantinya.

            Tidak perlu berbohong, Ken. Aku tahu kamu merindukanku, iya kan?

        Rasanya tidak sabar bertemu denganmu. Aku kangeeeeeen banget, dua hari rasanya seperti berminggu-minggu bagiku apabila aku sedang merindukanmu, Ken! Hihi.

            Minggu, 13 Januari 2013. Hari terakhir JUMBARA. Semoga cita-cita dan harapan 29 dan 30 tercapai. Semoga.

            Sepahit-pahitnya harapan adalah apabila hal yang sudah kita harapkan tidak sesuai dengan harapan. Ya, hanya 1.2 yang 30 dapat. Aku peluk erat teman-temanku. Membiarkan air mata mereka membasahi pundakku. It’s okay, kita tetap menjadi pemenang, 30. Tegar.

            Sepulangnya dari bumi perkemahan, aku lempar tubuhku ke kasur empuk yang telah menjadi teman setiaku selama delapan tahun. Membuang rasa lelah akan perlombaan kemarin. Membuang rasa sakit badanku karena kemarin harus tidur di sembarang tempat.

            Aku tidur jam dua siang dan bangun pada pukul sepuluh malam. Memasukan buku pelajaran ke dalam tas kemudian mencomot martabak yang sudah mama beli. Membuka akun twitterku dan membaca linimasa. Tertujulah mataku pada tweet dari twitter kelasku.


            Tempat duduk kelas diacak. Aku akan menjadi teman satu bangkunya Ken. Mampuslah aku. Akan jadi apa nantinya kita berdua? Apakah ini skenario teman-teman kelasku yang terlanjur sudah mengetahui bahwa aku dan Ken semakin dekat di setiap harinya? Huh. Menyebalkan. Tapi, lupakan, daripada aku tidak mempunyai teman yang akan menemaniku di sebelah kursi untuk satu minggu ke depan, it’s much better.


To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar