Sabtu, 05 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 5]

14 Januari 2013

Seperti biasa, aku terseok-seok berjalan ke kamar mandi dan menggigil karena dinginnya air yang aku pakai untuk mandi. Udara sangat dingin walaupun sepertinya matahari sedang hangat-hangatnya. Tempat tinggalku memang aneh.

            Upacara Senin. Sebuah rutinitas—rutinitaskah?—sekolahku. Semua murid wajib mengikutinya, termasuk aku—anggota PMR yang nantinya berjaga di belakang barisan peserta upacara. Sial, aku dapat barisan di belakang kelas X, barisan tepat dimana matahari benar-benar terasa terik. Kutundukkan kepalaku yang memerah ini karena terbakar matahari pada saat JUMBARA kemarin.

            Upacara berjalan sekita tiga puluh menit. Sebelum upacara dibubarkan, aku dan teman-teman PMR-ku diberi kesempatan untuk maju ke atas mimbar untuk menyerahkan piala yang kami dapat kemarin untuk sekolah.

            Pernahkah aku se-bahagia ini? Tidak.

            Evaluasi pagi rasanya tidak ada apa-apanya bagiku, tidak seperti biasanya dimana aku sangat malas untuk dievaluasi pagi, kali ini aku sangat bersemangat menjalani hari.

            Aku gendong tasku dan bergegas menuju ruang kelas. Ternyata aku dapat tempat duduk di bagian belakang. Lebih tepatnya sangat-sangat di belakang. Barisan terakhir. Aku taruh tasku dan duduk di kursinya.

            Sekonyong-konyong aku terbelalak, ternyata benar. Teman satu bangkuku adalah Ken. Matilah aku. Plis jangan awkward, dong.

            Memaksakan diri agar dapat mencairkan suasana berujung pada kelucuan tingkah kita berdua yang kaku.

            Nadia  : Apakah saat itu kamu dapat merasakannya?
            Ken     : Merasakan apa?
            Nadia  : Jantungku. Berdetak makin kencang di setiap detiknya.
            Ken     : Memang seharusnya begitu, bukan?
            Nadia  : Jangan bodoh. Itu semua karena ulahmu.
            Ken     : Dan untuk kejadian selanjutnya?
            Nadia  : Sssttt… Spoiler!

            Atmosfer kelas benar-benar berbeda. Perasaanku saja atau memang benar begitu keadaannya ya? Ah, mungkin perasaanku saja.

            Bel istirahat berdering. Aku pergi ke kantin bersama teman-temanku. Membeli beberapa cemilan dan memakannya di kelas.

            Nadia  : Ingat?
            Ken     : Apa?
            Nadia  : ‘Potong’. Hahaha.
            Ken     : Oh itu… haha, lupakan.

            Seseorang tolong keluarkan aku dari kecanggungan ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa di saat kamu ada di sampingku, Ken. Tolong hentikan semua ini. Aku tahu aku dan Ken dulunya adalah Si Tukang Ribut, tapi kalian tahu sendiri kan, semenjak Desember sikap kami berubah? Aduh….

            Bel tanda masuk terdengar kencang oleh telinga. Para murid yang tadinya berada di luar kelas bergegas masuk ke dalam.

            Pelajaran Geografi. Ternyata guru geografi kami berhalangan hadir, beliau memberi tugas untuk kelas kami. Baiklah, akan segera aku kerjakan.

            Ternyata soal geografi itu rumit, ya. Aku mulai bosan. Teman sebangkuku—Ken—sepertinya tidak peduli dengan tugas ini, dia malah ngobrol dengan teman laki-lakinya. Aku berpindah posisi sedikit ke depan. Duduk di belakang bangku Jojo. Membicarakan logika matematika. Cukup menyenangkan.

            Lagi-lagi, untuk yang kedua kalinya atmosfer kelas berubah drastis. Awalnya biasa saja, seketika menjadi hening. Aku perhatikan sekitar, anak-anak menghentikan seluruh kegiatannya, memandang ke arahku dan rasanya aku ingin bertanya kepada mereka memangnya apa ada yang salah denganku? Maksudku mungkin mereka terheran-heran kenapa mukaku sekarang memerah, jika maksud mereka begitu, akan aku jelaskan secara mendetail apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan mukaku.

            Tidak. Pemikiranku salah. Teman-temanku mengarahkan kedua mata mereka bukan karena wajahku yang memerah akibat terbakar sinar matahari kemarin, melainkan……. Semua itu ulahmu, Ken.

            Tanganku membeku. Lagi-lagi jantungku berdetak sangat kuat—dan kemudian lebih kuat lagi, rasanya ingin aku copot saja jantungku.

            Aku mendengar suara gesekan antara kursi dengan lantai yang semakin mendekat ke posisiku sekarang. Aku tidak menghiraukannya, aku masih sibuk sendiri dengan pertanyaan dari Jojo tentang logika matematikanya itu.

            Nadia  : Apakah aku perlu menjelaskannya secara detail?
            Ken     : Terserah padamu.

            Baiklah.

            Detik pertama, masih biasa saja.
            Detik kedua, tidak ada hal yang berarti.
            Detik ketiga, semua pasang mata menuju padaku.
            Detik keempat, aku merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di perutku.
            Detik kelima, aku mendengar geretan kursi yang semakin mendekatiku.
            Detik keenam, seluruh kelas terdiam.
            Detik ketujuh, aku mendengar seseorang memanggil namaku.
            Detik kedelapan, aku menoleh, ternyata itu kamu, Ken.
         Detik kesembilan, aku menatap matamu, melihat kedua bola mata yang bersembunyi di balik mata sipitmu itu.
            Detik kesepuluh, kamu balik menatapku.

      Detik kesebelas, lidahmu kelu. Kata-kata yang kamu keluarkan dari bibirmu tidak jelas, tapi selanjutnya kamu terlihat semakin yakin dan mengeluarkan kata-kata yang telah dua bulan aku tunggu-tunggu.
       Detik kedua belas, jantungku rasanya ingin melompat keluar. Aku melihatmu sedang menunggu sebuah jawaban.
         Detik ketiga belas, ‘Ya’, satu kata yang rasanya sulit aku keluarkan. Lidahku beku, tapi rasanya aku lega mengatakan itu.
        Detik keempat belas, seketika semua orang bersorak. Aku dan kamu tersenyum lega.

            Nadia  : Puas?
            Ken     : Belum, Dimana bagian di saat kamu langsung pergi ke kamar mandi karena sakit perut?
            Nadia  : Lupakan tentang kejadian itu.
            Ken     : Huh, tidak adil.

            Aku bahagia. Bahagia sejadinya. Akhirnya ‘kita’. ‘Kita’ antara aku dan kamu, Ken. Rasanya aku ingin mencubit pipiku dan berharap itu akan sakit, kalau benar itu sakit, itu berarti aku tidak bermimpi. Bah, aku senang sekali!

            Jackpot! Aku dan 30 meraih juara 1 dalam JUMBARA—walaupun sebenarnya juara 1.2—dan hal yang paling penting sekarang adalah aku milikmu. I’m yours, Ken.

            Kita berdua sudah tidak canggung lagi seperti dua bulan yang lalu. Lebih leluasa menghabiskan waktu, tapi anehnya sifat jahilmu sepertinya tidak akan pernah memudar. Masih saja seperti dulu, huh sebal! Tapi, lupakan. Hal yang paling penting saat ini adalah : aku bahagia.

            Kamu, kamu, dan kamu. Kamu yang selalu ada di dalam otakku, Ken. Aku sedang dimabuk cinta. Ah, dasar remaja. Mengingat kamu adalah ‘Yang Pertama’ bagiku, membuatmu semakin spesial. Sejak awal kamu benar-benar sudah meluluhkan hatiku dan dengan polosnya aku membiarkan pertahanan diriku runtuh. Runtuh, Ken, karenamu.

            Sebelum aku menemukan dirimu, aku benar-benar sangat kacau. Dan semua yang aku lakukan rasanya sangat sulit bagiku, kemudian engkau datang dan membantuku untuk melewati semuanya. Kamu menghidupkanku. Menghidupkan harapanku yang pernah aku kubur dalam-dalam.'

            Dan disaat bola mata kita saling menatap, disaat itu pulalah jantungku berhenti seketika. Tatapan matamu mungkin adalah salah satu hal yang terindah yang pernah aku lihat. Kamu hanya melakukan hal kecil, kemudian seketika itu membuatku percaya bahwa semuanya sangatlah nyata. Akhirnya aku mendapatkan kembali kepingan puzzleku yang dulu sempat hilang. Aku merasa sempurna.

            Tidak akan lagi melihat ke belakang. Tidak akan lagi melihat sesuatu yang sudah-sudah. Aku hidup untuk saat ini, disaat aku bersama dirimu.

            Sejatinya orang yang sedang dimabuk cinta seketika akan menjadi orang yang benar-benar bodoh di dunia. Dan akupun merasa begitu. Apa hal tergila yang pernah dipikirkan ketika orang tersebut sedang jatuh cinta? Tentu saja rasa ketidakamanan orang tersebut yang berpikir pada suatu hari nanti akan berpisah dengan pasangannya. Tapi aku selalu berpikir semuanya tidak berarti jika kamu berada di sampingku, Ken.

            Intinya sekarang adalah : Aku sayang kamu! I love you unconditionally!

            Aku sayang kamu bukan ‘karena’, tetapi ‘walaupun’. Ingat itu! Aku sayang kamu bukan karena kamu mempunyai segalanya, tetapi aku menyayangimu walaupun kamu sedang berada di titik jenuh kehidupan. Ingat itu, Ken. Ingat!

            Datang dan mendekatlah kepadaku, karena aku akan menyambutnya dengan hangat. Jangan meminta maaf atas kekuranganmu, karena aku benar-benar tidak peduli. Aku menyayangimu apapun kamu, siapapun kamu, bagaimanapun kamu, kapan saja, dimana saja, dan jangan pernah bertanya ‘mengapa’ . Aku akan menggantikan hal yang pahit di dalam hidupmu dan kemudian memberimu hal yang manis untuk di kenang. Apapun akan aku lakukan, untuk kamu, untuk kita.

            Satu hari, dua hari, satu minggu, tiga minggu, satu bulan… kita lalui bersama. Tidak peduli dengan segala perbedaan yang begitu mencolok diantara kita.

            Memandang langit biru, dimana burung-burung dapat bermain dengan bebas dengan sekumpulannya. Menghirup udara dalam-dalam dan menyadari : You won’t find faith or hope down the telescope. You won’t find heart and soul in the stars. You can break everything down the chemical, but you can’t explain a love like ours. Ya, meskipun mungkin segala sesuatu dapat dijelaskan secara ilmiah, tapi itu tidak berlaku untuk kita, Ken.

            Nadia  : Muchloaffff.
            Ken     : Haha, kata itu.
            Nadia  : Awalnya kamu tidak mengerti, kan?
            Ken     : Iya.
            Nadia  : Okay, aku kasih tau… muchloafff itu….
            Ken     : Much-love.
            Nadia  : Nah!
            Ken     : Hak paten?
            Nadia  : Hak paten ‘Kita’? bisa jadi.
            Ken     : Hahaha.

            Aku. Kamu. Tanpa ada halangan. Tidak ada mereka, yang tersisa hanyalah kita. Aku mabuk semabuk-mabuknya orang mabuk. Aku suka segala tentangmu. Rambutmu yang seperti landak, pipimu yang seperti bakpao, aroma tubuhmu yang bikin aku mabuk kepayang, dan jangan lupakan mata sipit itu! Mata yang seketika tenggelam ketika si empunya mata sedang tersenyum. Senyumanmu juga, sangat manis—dan mungkin aku akan terkena diabetes di kemudian hari jika aku terlalu sering memandang senyummu.


            Semua kegilaan ini membuatku semakin lupa diri. Lupa jika hari ini akan berlalu dan digantikan oleh esok. Yang terpenting saat ini adalah aku tetap milikmu walaupun hari sudah berlalu.




To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar