Selasa, 08 April 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 6]

          Kamu ingat disaat kamu bercerita tentang kedepresianmu? Disaat kamu membenci proses akan sebuah hasil. Disaat kamu menginginkan sesuatu dan melupakan proses. Tapi.. bagaimana bisa?

          “Ingat, Tuhan saja menciptakan manusia butuh proses, masa’ kita sebagai hambanya tidak ingin berproses? Itu namanya menentang Tuhan. Ingin menandingi Tuhan. Dan kita tidak akan bisa menandingi Tuhan.” Aku merasa sedikit menggurui.

            Kamu sadar. Aku tersenyum lega. Katakan semua yang ada di pikiranmu, Ken. Jika itu adalah hal yang menyenangkan, ceritakanlah. Aku akan menjadi pendengar setiamu. Dan jika itu adalah hal yang mengganggu hidupmu, ceritakanlah. Kita akan mencari jalan keluarnya. Bersama. Ingat, aku menyayangimu bukan ‘karena’ melainkan ‘walaupun’.

            Nadia  : Malam itu. Kamu menceritakan segalanya.
            Ken     : Itulah yang aku rasakan dulu.
            Nadia  : Be ‘Us’ against the world?
            Ken     : Be ‘Us’ against the world.      
                                 
            Masa sulit pertama kita. Februari. Malam itu, seperti biasa, aku dan kamu berkomunikasi melalui telepon genggam dan tiba-tiba saja kamu mengirimkan suatu pesan yang benar-benar membuat air mataku terjatuh sampai-sampai membanjiri hampir setengah bagian kasur.

            Nadia  : Aku berharap kejadian itu tidak akan terjadi lagi.
            Ken     : Iya, tidak akan pernah terjadi lagi, Nad.
            Nadia  : Itu tidak akan pernah terjadi lagi karena kita tahu bahwa sekarang aku dan kamu bukan lagi “kita”
            Ken     : Seratus!

            Aku tidak bisa mengucapkan satu katapun dari mulutku. Dengan berat hati aku membaca satu demi satu, kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kamu kirim pada malam itu ke aku melalui direct message.

            “Bagaimana kalau kita akhiri saja semuanya? Hubungan ini.” katamu.

            Aku terdiam dan hanyut di dalam kesunyian malam. Mengeluarkan air mata dan tidak peduli jika air mataku akan habis nantinya. Kenapa? Kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan yang manis ini, Ken?

            “Tapi… kenapa? Kamu kenapa sih? Perasaan tadi pagi kita biasa-biasa saja,”

            “Iya, tapi setelah aku pikir-pikir…”

            “Apakah aku berbuat sesuatu yang salah? Yang tidak berkenan bagimu?” aku bertanya.

            “Bukan.” Jawabnya.

          “Jadi apa? Katakan semua yang ada dipikiranmu sekarang, Ken.” Aku masih terisak menggigiti bantal yang rasanya sudah terlanjur asin karena air mata.

            “Kamu tahu aku kan? Kamu tau aku luar-dalam kan?” tanya Ken.

            “Tentu saja.” Jawabku.

           “Nah, kamu tahu kan kebiasaan buruk aku? Kamu tahu sifat buruk aku kan?” isi direct message itu.

            Aku tidak membalasnya. Aku malah menangis, tidak peduli isi dari direct message itu.

            Ada jeda waktu yang lumayan lama pada saat itu. Dia mengirimku satu pesan lagi, agak panjang,

         “Iya, Nad. Kamu tahu bahwa aku ini punya sifat buruk yang mungkin akan membahayakan kamu nantinya. Aku takut membawa dampak buruk buat kamu. Aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa kamu. Tapi… aku sayang kamu, Nad.”

            Aku membaca isi DM itu. Lagi-lagi mataku mengeluarkan air mata, tapi air mata itu berbeda. Air mata terharu. Terharu bahagia.

            “Terus kamu mau seperti itu terus, Ken? Dikelilingi oleh sifat dan kebiasaan yang buruk itu? Tidak, kan? Aku yakin kamu mempunyai keinginan untuk berubah dan sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan burukmu itu. Aku tahu kamu pasti bisa, Ken. Aku berjanji akan membantumu. Semampuku.” Aku berjanji kepadanya.

            “Iya, Nad. Aku janji akan berubah. Buat kamu. Tolong bantu aku, Nad,”

        “Iya, akan aku bantu. Semampuku. Akan aku usahakan. Perubahan itu bukan untuk aku, Ken. Lakukan itu semata-mata untuk Tuhan, orang tua, dan dirimu sendiri.” Aku mulai tenang.

            “Terima kasih, Nad. I love you so much,” kata Ken.

            “Yes, for you I’ll try, Ken. I Love you too!” balasku.

            “Berhenti nangisnya, Nad. Maaf ya udah bikin kamu nangis…” pinta Ken.

            “Iya, udah selesai kok nangisnya hehe..” aku mengiyakan.

            Kamu tahu? Pada saat itu aku baru menyadari bahwa aku benar-benar menyayangimu. Lebih dari yang sebelumnya. Dan pada saat itu juga aku merasa bahwa aku adalah perempuan yang sangat beruntung. Juga merasa bahwa aku adalah salah satu prioritasmu. Aku sayang kamu, Ken!

            Nadia  : Apa jadinya kalau aku masih menyayangimu sampai sekarang?
            Ken     : Itu terserah kamu saja.
            Nadia  : Tapi kamu sudah milik orang lain. Sepertinya aku harus berhenti melakukan ini.
            Ken     : Baguslah kalau kamu akhirnya sadar.

            Aku tahu, aku seharusnya tidak seperti ini. Harusnya aku sudah melupakanmu sedari dulu. Tapi kenyataan berkata lain : Aku terpuruk. Aku terpuruk tanpamu, Ken.

            Hal yang pasti adalah : aku sayang kamu. Tidak peduli siapa kamu, atau bagaimanapun kamu. Yang terpenting adalah : I love you. You’re amazing, just the way you are.

---

            Intinya adalah aku menyukai semua yang menyangkut dengan dirimu. Mulai dari rambut landakmu yang selalu saja berguncang disaat kamu berlari, matamu yang sipit bagaikan mata seekor burung elang yang jinak, matamu yang selalu membuat jantungku berhenti berdetak ketika kedua bola mata cokelat itu menatap tajam kearahku, kemudian aku meleleh begitu saja. Matamu juga yang seketika tenggelam disaat kamu sedang tertawa. Aku suka senyum yang selalu terlukis di wajahmu. Senyuman yang selalu membuatku merasa tenang. Senyuman yang selalu membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Senyumanmu yang selalu membuatku memalingkan pandanganku, senyummu yang sakti yang dapat mengalihkan duniaku.

            Dan jangan lupa tentang gigi kelinci yang terpampang jelas ketika kamu sedang tersenyum ataupun tertawa. Aku suka dengan kedua gigi itu. Entah mengapa.

            Kamu. Ken. Seorang remaja laki-laki yang membutakan pandanganku. Yang membuatku lupa akan dunia fana. Yang membuatku merasa bahwa aku sedang berada di surga, kemudian dikuncilah aku dan kunci itu dibuang jauh-jauh ke tempat yang tidak bisa satu orangpun yang dapat menjangkaunya.

            Di matamu, hatimu, dan pikiranmu aku ingin tinggal. Sudah aku bilang bahwa kamu adalah sebuah rumah. Sejauh apapun aku berlari dari rumah, pada akhirnya aku akan kembali ke rumah.

            Dan disaat aku terperangkap di tengah hujan dan kegelapan, kamu datang dan membawa secercah cahaya untuk menerangi jalanku yang suram ini. Saat aku ketakutan, disaat aku kehilangan tempat untuk berpijak, disaat duniaku sedang kacau balau, kamu datang dan membuatnya kembali seperti sedia kala. Kemudian ketika aku sedang rapuh dan terjatuh, kamu ada di sampingku untuk menyemangatiku. Mengatakan bahwa hidup terlalu singkat untuk disesali. Dan disaat aku membutuhkan seorang teman, kamulah yang selalu ada di sisiku. Mendengarkan seluruh cerita tentang hariku yang terkadang kisahnya tidak perlu untuk diceritakan.

            Hati ini satu. Hanya untuk kamu, Ken. Untuk tameng yang aku gunakan di saat peperangan. Untuk seorang teman. Untuk seseorang yang selalu membuatku nyaman. Untuk seseorang yang selalu menguatkanku. Untuk lengan yang menjadi naunganku di saat hujan dan badai. Untuk seseorang yang aku jadikan tempat bersandar. Untuk hati yang dapat aku andalkan dalam berbagai kesempatan. Untuk tempatku mengadu. Dan untuk segala yang kamu lakukan kepadaku, aku berikan seluruh hati ini kepadamu.


            Rasanya aku ingin membekukan waktu. Membiarkan aku dan kamu berada di dalamnya. Bersama. Tidak pernah aku mempunyai pikiran bahwa di suatu saat nanti aku akan kehilanganmu. Aku berharap ‘kita’ akan terus seperti ini. Selalu ada untuk melengkapi satu sama lain.




To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar