Kamis, 26 Juni 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 7]

          “Bagian apa yang akan kamu presentasikan?” tanya Ken seraya menghampiri mejaku dan duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah kiriku.

            “Filum Echinodermata. Kelas Holothuroidea,” jawabku.

            “Sudah hafal tentang ini?”

            “Tidak sepenuhnya,”

            Ya, pelajaran biologi. Klasifikasi kingdom animalia. Aku ditugaskan untuk mempresentasikan tentang Holothuroidea. Aku memang bukan pengingat yang ulung. Lagi-lagi ketika aku mencoba untuk menghafalnya, aku selalu melewatkan beberapa hal tentang Holothuroidea ini.

            Mencoba menghafalnya lagi. Sedikit mencontek ke kertas kecil yang berisi ringkasan tentang kelas Holothuroidea yang sudah aku persiapkan sejak kemarin malam. Aku hampir menyerah.

            “Sini kertasnya,” kata Ken. Aku memberikan kertas itu kepada Ken.

            Ken menyuruhku untuk mengatakan apa saja yang aku tahu tentang Holothuroidea. Aku mencoba untuk mengingatnya semampuku.

            “Oke. Holothuroidea termasuk ke dalam Filum Echinodermata..” jelasku.

            “Iya, lalu?” Ken memancingku untuk melanjutkannya.

            “Memiliki cirri tubuh simetris…. Emm… simetris… simetris apa sih, Ken? Aku lupa hehe,”

            “Simetris bilateral,” Ken mengingatkanku.

            “Nah itu!”

          ***

            Ken mendapatkan kesempatan lebih dulu untuk maju dan menjelaskan tentang Kelas Insecta. Nampaknya ia sangat mengerti betul tentang kelas ini. Ia menjelaskan panjang lebar tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan serangga. Padahal ia mengaku bahwa ia baru saja menghafal materi ini saat istirahat pertama tadi, sedangkan aku… sudah mempersiapkan ini dari kemarin, tetapi masih saja aku melupakan beberapa hal.

            “Presentasinya mulus banget, Ken! Congrats!” aku memberinya ucapan selamat atas nilai 88 yang ia peroleh untuk presentasinya yang sangat mengesankan itu.

            “Thanks! Ayo, tinggal kamu! Harus lebih bagus dari aku, ya! Semangat!”

            Aku tersenyum dan melanjutkan merapalkan beberapa hal tentang Holothuroidea.

            Namaku dipanggil oleh guru biologi. Saatnya aku mempresentasikan hal-hal tentang hewan yang ada di dalam filum ini. Wish me luck.

            “Semangat!!” teriak Ken dari kursi belakang ketika aku sedang berjalan maju ke depan kelas.

            Aku menarik nafas kemudian menjelaskan semua yang berhubungan tentang Holothuroidea.

            Ada beberapa hal yang aku lewati. Terkadang aku terdiam di depan kelas dan berusaha untuk mengingat kembali apa yang harus aku presentasikan. Untung saja ada Ken yang setia menggerakan mulutnya dan memberiku kode tentang hal yang aku lewatkan.

            Tidak buruk. Delapan puluh enam yang aku dapat. Beda dua angka dari hasil yang diperoleh Ken. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah menyelesaikan tugasku untuk mempresentasikan hal ini.

***
            Tidak ada anak SMA-ku yang langsung pulang ke rumah di saat jam pelajaran terakhir selesai. Pasti saja ada serentetan tugas yang harus dikerjakan, toh itu pekerjaan rumah untuk sendiri ataupun kerja kelompok.

            Ya, seperti biasa. Setelah bel pulang sekolah aku pergi ke kantin sekolahku untuk menghindari tugas piket—ya, aku memang anak kelas yang paling malas apabila harus menyapu kelas—dan mengisi perutku yang sedari tadi meraung-raung meminta untuk diisi.

            Mengambil satu piring penuh berisi nasi dan beberapa lauk pauk yang jika ditotal harganya hanya  sejumlah Rp. 3.500,-. Sangat murah, bukan?

            Setelah menghabiskan makananku, aku bergegas kembali ke kelas. Ada kerja kelompok seni yang harus aku kerjakan hari ini. Ya, tugas seni memang tidak ada habisnya. Sehabis seni musik, terbitlah seni tari. Asal kamu tahu saja, aku ini bukan orang seni. Dan ngomong-ngomong tentang seni tari…. Badanku begitu kaku untuk menarikan suatu tarian. Matilah aku.

            Tapi lupakan tentang seni tari. Mari berkaca pada hal-hal kemarin. Dimana aku dapat menghabiskan waktuku bersama kamu, Ken, pada saat kerja kelompok seni musik. Menurutku kerja kelompok pada saat seni musik adalah penyiksaan yang sangat indah. Maksudku, saat itu aku satu kelompok dengan Ken. Dan… ya, aku sangat senang. Waktu itu kita hanya sebatas ‘teman’ dan mungkin tidak ada yang tahu bahwa kami saat itu begitu dekat. Wajar saja, pada saat itu aku belum menaruh rasa yang besar ini kepadamu, Ken.

            Menghabiskan waktu dengan orang yang benar-benar menurutmu cocok untuk dijadikan teman—atau lebih—itu sangat menyenangkan. Hampir setiap hari aku dan teman-teman kelompokku pulang pukul setengah enam sore. Hanya untuk mengaransemen lagu dan berlatih koreografi. Ada tiga buah lagu yang harus kami aransemen. Lagu yang kami pilih pada saat itu adalah lagu Yamko Rambe Yamko untuk lagu daerah, lagu Pemudi Pemuda untuk lagu nasional dan Butiran Debu untuk lagu bebas.

            Awalnya Fajar dan Ken terlebih dahulu mendiskusikan tentang aransemennya. Iya, mereka berdua yang akan memainkan alat musiknya. Fajar dengan gitarnya dan Ken dengan keyboardnya.

            Nadia  : Gayamu pada saat memainkan keyboard. Haha.
            Ken     : Kenapa? Memangnya ada yang salah?
            Nadia  : Jangan berlagak bodoh! Cara kamu memainkan keyboard itu…. Hahaha.
            Ken     : Berhenti tertawa dan jelaskan padaku.
            Nadia  : Kamu seperti orang idiot saat memainkan keyboard, Ken.
            Ken     : Kenapa semua orang berkata begitu sih?
            Nadia  : Karena kenyataannya memang begitu. Weeeeeek.

            Bahkan saat latihanpun aku dan kamu selalu saja ribut. Sampai-sampai Fajar berkata,

            “Andai saja Nadia dan Ken saling menyayangi. Apa jadinya, ya?”

            Aku terbelalak. Awalnya kita berdua merasa jijik dengan kalimat yang Fajar katakan tadi, tapi lihat kita sekarang? Omongan Fajar mungkin adalah sebuah kutukan terindah yang pernah aku dapatkan.

            Kembali lagi ke seni tari. Aku dan teman kelompokku mendapatkan tema pemetik teh. Aku terdiam sejenak. Tarian apa yang kira-kira biasa dilakukan oleh pemetik teh, ya?

            Hal yang pertama aku dan teman kelompokku lakukan adalah membuat konsep. Konsep apa yang kira-kira pas untuk tema kali ini. Seketika ide yang ada di kepalaku mengalir begitu saja. Ya, konsepnya tentang penjajahan. Mungkin ini kurang masuk akal, tapi… ya sudahlah.

            Kelompokku akan dibagi menjadi dua kelompok. Tiga orang menjadi pemetik teh dan tiga orang lainnya menjadi penjajah. Aku, Nisa, dan Huri yang akan menjadi penjajahnya. Pada awalnya para pemetik teh hidup dengan tenang sampai pada suatu saat, para penjajah datang dan memporak-porandakan semuanya. Tapi, pada akhirnya kubu pemetik teh dan penjajah akan damai dan saling memaafkan.

            Sangat tidak masuk akal, bukan?

            Menyegarkan pikiran untuk sementara. Berpindah posisi yang tadinya berada di dalam kelas, sekarang aku berada di balkon depan kelas. Udara di luar tidak begitu panas, tidak seperti kelas yang panasnya semena-mena.

            Mengibas-ibaskan secarik kertas untuk dijadikan kipas tangan. Membasuh keringat yang terlanjur menetes di pelipisku. Ya, hari yang panas dan cukup panjang.

            Tiba-tiba Ken datang mengahampiriku,

            “Sudah selesai dengan kerja kelompokmu?” tanya Ken.

            “Belum sepenuhnya,” jawabku.

            “Oh… btw, panas ya, Nad? Hehe.”

            “Kamu ngode minta dikipasin, ya?” aku dorong lengannya.

            “Nah tuh ngerti, hehe.”

            Dasar Ken. Bisa saja mencari kesempatan, jadilah aku mengibaskan kertas ini dengan kencang ke arah kita berdua.


            “Capek nggak? Sini gantian,” tawar Ken. Kemudian aku memberi kertas itu ke tangan Ken dan menikmati sepoi-sepoi angin yang diproduksi oleh selembar kertas itu.




To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar