Kamis, 26 Juni 2014

Kisah yang Terlupa [Bagian : 8]

            Nadia  : Masih ingat?
            Ken     : Tentang apa?
            Nadia  : Rumah makan cepat saji itu.
            Ken     : Semoga masih.

            Tugas seni tidak hanya menyita jam pulang sekolah dan tenagaku, tetapi juga menyita hari Mingguku. Bayangkan saja, hampir setiap hari Minggu aku dan teman kelompokku menghabiskan waktu di sekolah. Toh itu untuk latihan koreografi ataupun membuat properti untuk pentas nanti. Melelahkan, bukan?

            Padahal hari ini aku dan Ken berencana untuk makan siang di sebuah restoran cepat saji yang terletak di Jalan Kartini. Tapi sebelumnya, aku dan Ken harus kerja kelompok dengan kelompok kita masing-masing.

            Ternyata tidak terlalu memakan banyak waktu. Aku dan Ken pamit kepada teman-teman dan kemudian langsung menuju ke sebuah restoran cepat saji yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami.

            Ken memarkirkan motornya, sedangkan aku menunggunya di seberangnya dan kemudian kami masuk ke dalam restoran itu bersama. Menunggu antrian dan memesan beberapa makanan.

            “Kamu mau pesan apa, Nad?” tanya Ken.

            “Aku mau McFlurry,” jawabku. Kemudian aku memberikan satu lembar uang ketas dua puluh ribuan.

            “Ngga usah. Biar aku aja yang bayar,”

            “Eh, serius? Thank you, Ken! Hehehe.”

            Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, pesanan kami akhirnya datang juga. Aku dan Ken mencari tempat duduk kosong. Ternyata tidak ada kursi kosong di lantai satu, jadilah kami mencari tempat duduk di lantai dua.

            Akhirnya aku dan Ken mendapatkan tempat duduk. Kami duduk berhadap-hadapan. Aku menaruh tasku di kursi sebelah kiriku. Ken melepas jaket putihnya yang berlogo klub sepak bola kesayangannya dan menaruhnya di atas meja. Kemudian aku mengambil Mcflurry-ku dan Ken mengambil cheese burger-nya.

            Ralat. Ken mencomot cheese burgernya, kemudian menyedot colanya, sambil sesekali mengambil satu demi satu kentang gorengnya, dan setelah ia habiskan semua itu, ia masih mempunyai urusan dengan sundae cokelatnya. Kini aku mengerti kenapa tubuhnya agak berisi.

            Dasar rakus.

            Apakah kamu masih ingat dengan percakapan kita waktu itu, Ken? Tidak? Wajar kok. Yang tidak wajar adalah kenapa aku masih mengingat tentang semua itu? Kata-kata yang kita keluarkan pada saat itu dan segala suasana yang terjadi pada waktu itu. Aku masih ingat setiap detailnya, padahal seharusnya hal itu harus segera aku lupakan.

            “Jadi, orang tuamu pergi ke luar kota? Kenapa?” Ken bertanya.

            “Ya, nenekku meninggal,” jawabku.

            “Turut berduka cita ya, Nad,” Ken memberikan ungkapan bela sungkawanya.

            “Iya, makasih ya, Ken…”

Aku tahan air mata yang sudah terlanjur menumpuk di mata bagian bawahku. Berusaha tegar walaupun aku sedang sedih sesedih-sedihnya karena aku harus kehilangan orang yang aku sayang. Orang yang selalu menomorsatukan aku walaupun sebenarnya di luar sana banyak orang yang lebih pantas untuk dijadikan Si Nomor Satu. Selamat jalan, Nenek. Aku sayang Nenek.

“Oh, iya, Nad. Kalau boleh tau… kamu mau ngelanjutin sekolah dimana?” tanya Ken.

“Insya Allah ke ITB, Ken. Mau mengikuti jejak bapakku hehe,” jawabku.

“Wah… Nice,” komentar Ken dengan mulutnya yang masih penuh dengan sundae cokelatnya itu.

“Kalau kamu sih? Mau ngelanjutin kemana, Ken?” aku balik bertanya.

“Ke universitas yang di Medan. Yah, bakal LDR dong hehehe,”

Aku dan Ken tertawa—dengan masing-masing es krim yang berbeda jenis di dalam mulut masing-masing.

Iya, berbicara tentang masa depan memang sangat menyenangkan. Apalagi jika membicarakannya denganmu, Ken.

Kalimat itu. ‘Yah, bakal LDR dong hehehe’ masih saja berlarian di pikiranku. Pasti pada saat itu kamu sedang gila. Dan pasti pada saat itu kamu berpikir bahwa ‘kita’ ini akan bertahan sampai beberapa tahun ke depan. Aku ragu dan ternyata itu semua benar adanya. Benar bahwa ‘kita’ ini tidak akan lama. Nadia yang malang. Sudah tahu akhir ceritanya, malah masih nekat mempertahankan.

            Aku masih ingat, pada saat itu kamu membawa laptop dan aku memanfaatkan wifi gratis yang disediakan oleh restoran cepat saji itu. Aku memohon padamu agar aku bisa mengunduh satu film Barbie kesukaanku. Awalnya aku melihat ada rasa keberatan di wajahmu. Aku mengerti, pasti akan sangat aneh jika pada suatu hari teman-teman laki-lakimu iseng membuka isi laptopmu dan mereka mendapatkan satu buah film Barbie yang sangat tidak wajar untuk disimpan oleh anak laki-laki sepertimu. Tapi, untung saja kamu mempersilahkan aku untuk mengunduh film itu. Hehe.

            Aku suka anak kecil. Sangat suka, tapi kali ini beda ceritanya. Untuk sementara aku akan membenci anak kecil untuk beberapa jam ke depan karena mereka telah mengganggu acara makan siangku dengan Ken. Maksudku, mengapa mereka begitu ribut? Tidak bisa diam. Berteriak-teriak seakan-akan dunia ini hanya milik ia seorang. Tidak mempedulikan kami—yang sedang berada di restoran ini dan harus berkonsentrasi dengan makanan kami.

            Wajar saja aku merasa terganggu. Aku salah memilih tempat untuk menghabiskan makan siang kami. Tepat di sebelah kanan tempat duduk kami ada sebuah arena bermain yang disediakan oleh si empunya restoran.

            Dasar anak kecil.

            “Mengapa mereka ribut sekali, sih?” aku menggerutu.

            “Namanya juga anak kecil, Nad…”

            “Tapi kan… seenggaknya mereka ngerti kalau ini tempat umum,” gumamku dengan sendok es krim yang masih menempel di kedua bibirku.

            “Emangnya kamu pikir aku nggak kayak gitu?”

            “Maksudmu?” aku tidak mengerti apa yang sedang Ken bicarakan.

            “Dulu, waktu aku masih kecil, aku lebih ribut dari mereka. Lebih aktif dari mereka. Dan lebih aktif dari anak lainnya,” jelas Ken.

            “Oh, jadi maksudmu….” aku mencoba menebak-nebak apa yang terjadi kepada Ken saat ia masih kecil.

            “Ya, bisa dibilang aku hiperaktif,” Ken melengkapi kalimatku.

----

            Nadia  : Jadi aku tidak perlu heran mengapa kamu seperti ini.
            Ken     : Maksudmu?
            Nadia  : Sifat jahilmu ituloh. Sepertinya sifat masa kecilmu terbawa sampai sekarang, ya.
            Ken     : Bisa jadi.

            Ken menceritakan semuanya. Masa kecilnya. Bagaimana ia mulai terbiasa dengan lingkungannya. Les menggambar, katanya. Hal yang mungkin bisa dibilang cukup untuk sedikit mengekang sifatnya yang tidak bisa diam itu.

            Banyak cerita yang kami bagi pada saat itu. Dan kamu, Ken, selalu saja ada cerita yang kamu ceritakan. Toh itu keluargamu, masa kecilmu, temanmu, klub sepak bola kebanggaanmu, teman kelas, semuanya. Rasanya aku sedang mendengarkan saluran radio kesayanganku. Radio itu selalu kudengar, tanpa ada rasa bosan ketika aku mendengarnya. Ya, aku akan menjadi pendengar setiamu, Ken.

            Aku harus pulang. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Aku khawatir tanteku akan khawatir—Ya, pulang ke rumah tante. Mamaku menitipkan aku kepadanya karena ia berpikir mungkin dengan dititipkannya aku ke rumah tante, aku tidak akan merasa kesepian.

            “Perlu aku antar pulang?” tanya Ken.

            “Nggak, Ken. Thanks. Aku mau ke rumah dulu. Mengambil beberapa keperluan sekolah kemudian kembali ke rumah tanteku,” aku menolaknya.

            “Serius? Yaudah deh.”

            Aku meyakinkan dirinya bahwa aku akan pulang dengan aman dan memang akan selalu begitu. Aku mengambil tasku dan memasukan laptop Ken ke dalam tasnya, sedangkan Ken memakai kembali jaket putih yang ia lepaskan tadi dan menaruh PS Vita ke dalam tasnya.

            Kami berdua keluar dari restoran cepat saji itu dan berpisah.

            Aku masih ingat. 10 Februari 2013. Tiga jam penuh aku dan Ken mengahabiskan waktu bersama. Hanya berdua—oh, tidak sepenuhnya berdua—ditambah dengan anak kecil yang ributnya tidak karuan pada saat itu. 

            Aku akan terus mengingatnya. Sampai kapanpun. Kejadian dimana kita dipenjara oleh waktu dan menikmatinya. Aku rindu itu.

            Nadia  : Asal kamu tahu saja.
            Ken     : Apa?
            Nadia  : Parfummu. Baunya masih menempel di indera penciumanku.
--
           
            “Selamat tanggal empat belas yang pertama!”

            Hampir setiap orang mengatakan itu kepada aku dan Ken.


            Aku bahagia. Sejadinya.





To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar