Jumat, 04 Desember 2015

F Wor(l)d.

F#ck.

Nothing leaves here.

Nothing to do here.

It feels like anything had taken away from me.

Nothing left here except "Him" and our world.

I don't even know who I am.
I don't even know where the f*ck is the old me.
I don't even know where the one who always be happy when she's around people.
I don't even know where I am.

I'm far away from home and i feel... lost.

I don't even know when it started. It's The new me, who always make some spaces from people around me. The new me who never don't care about what just happened. The new me who became the apathetic as f*ck.

I still have everything here. I have Him. I have everything that I need. He always knows how to cheers me up. He always knows my problems without asking me. He always knows the way to solve my problems.

He always be in the front line when I feel everything is wrong.
He always be in the front line to make me happy.
He always be in the front line to make my smile appears.

But.. I don't know. I feel so wrong. No, the problem is not on Him. But... the problem is in my friendship with my new friend.

I'm getting tired for being a nice people. I'm getting tired for helping people. I'm getting tired of something that I can't do. I'm getting tired for not being myself. I'm getting tired for being pushed to be someone who I NEVER wanna be. I'm getting tired to be a person who everyone expect me to be. I'm  getting tired of rejected. I'm getting tired of insecurities. I'm getting tired of everything.

This mind is killing me slowly.
This mind has changed me to be another person.

The one that left is Him.
I don't want to lose anything again. I won't forgive myself if one day I'd be losing him. He is the treasure in the middle of F#cking Island.

I know, I'm such a mess. And I stuck in this mess situation.
I have no idea what should I do now.
I think, It's a hard time.
Please, don't you dare to leave.
I desperately need you right now to face this situation.




Good night.

Sabtu, 26 September 2015

Untitled

And I just wanna leave it here.

I feel like; I'm the luckiest girl in the world for having you.

Tidak peduli walaupun selalu dianggap tolol oleh teman-temanku karena aku selalu mengalah, aku terlalu sabar, katanya.

"Kamu harusnya marah, Nid. Jangan diem aja, yang ada ntar dia ngelunjak,"
"Terus kamu nggak marah, Nid? Goblok banget sih kamu jadi orang!"

Sampah. Semua perkataan itu sampah.

Tidak peduli apa yang orang bilang. Karena aku berani bersumpah, aku benar-benar sedang bahagia.
Dan karena aku berani bersumpah kalau aku benar-benar sayang kamu.

Walaupun terkadang... aku merasa benar-benar sangat insecure karena aku tahu banyak perempuan yang lebih jika dibandingkan dengan aku.

Hanya ini caraku untuk mengungkapkan kalau kalau aku benar-benar sayang, Sa.

Sebisa dan semampuku untuk selalu membuat kamu senang dan nyaman.

Kamu terlalu banyak mengajariku tentang segala hal. Walaupun terkadang aku tidak bisa menjadi apa yang kamu ajarkan, tapi aku paham apa yang kamu maksud. Tidak semua hal yang kamu ajarkan selalu cocok dengan diriku. Kita benar-benar berbeda. Kita sepakat tentang itu. Tapi, aku berani bersumpah aku paham maksud dari "ajaran-ajaranmu" itu.

Aku senang kamu menaruh kepercayaan yang besar terhadapku. Semua masalah yang ada di dalam benakmu, kau ceritakan semuanya kepadaku. Setidaknya dengan kamu seperti itu, aku merasa ada gunanya untukmu. Ya, walaupun terkadang ceritamu sedikit menggores hati, tapi ya... tak apa. Maaf kalau aku terkadang memberimu masukan yang menurutmu tidak masuk akal, tapi... setidaknya aku memberimu masukan sebisaku.

Yang penting didengar, bukan?

Aku merasa nyaman ketika ada di dalam rangkulan tanganmu, pelukmu. It feels like Home. Rasanya tak ingin kulepas. Rasanya seperti aku berharga bagimu. Berharap aku bisa membekukan waktu sehingga aku bisa berada lama di dalam rangkulan tanganmu. Aku merasa nyaman ketika kamu menggenggam tanganku. Rasanya seperti kamu benar-benar menjagaku.

Aku merasa senang. Kamu selalu mengajakku ke tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya. Memberiku banyak pengalaman baru. Membuatku menyadari bahwa dunia itu benar-benar luas. Tidak hanya sebatas lingkungan di sekitar aku dan kamu.

Terkadang sifatmu berubah total. Tiba-tiba saja bertingkah seperti layaknya anak kecil. Tiba-tiba saja manja. Lucu ketika aku perhatikan. Kamu yang "keras" tiba-tiba saja berubah menjadi anak kecil yang sedang mencari perhatian.

Terkadang aku kesal denganmu. Apalagi ketika kamu sedang sibuk dengan dunia-mu. Sampai terkadang kamu lupa diri. Tak peduli jika badan semakin melemah.

Kamu itu orang terkeraskepala yang pernah aku temui. Sampai-sampai aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Because you are the MOST complicated man ever. Kamu itu rumit. Tidak mudah di tebak.

Kamu bilang kamu bukanlah orang yang romantis, but, I admit that you are the MOST romantic man with your own way.

That's why I adore you so much.

I am blessed for having you intinya. Kamu selalu tahu bagaimana caranya untuk membuatku tersenyum, melepaskan tawaku yang dengan begitu saja berbaur dengan udara.

Maaf kalau selama ini aku selalu buat kamu kecewa.
But, I do my best to make you happy.
That's all.

Good Night!



"I'm on the edge of glory, and I'm hanging on a moment with you"

Tak peduli orang mau bilang apa. Tak peduli jika semua ini mungkin terdengar berlebihan, tapi tak apa. Ya, aku sadar kamu berubah. 180 derajat sepertinya. Entah kemana Kamu yang dulu yang tiba-tiba saja tergantikan dengan Kamu yang sekarang.

Yang katanya sekarang sudah sadar, kemudian meminta maaf.
Yang tiba-tiba memelukku dan menangis di tengah kalutnya malam.

Mau apapun kamu jadinya, akan selalu kuusahakan supaya aku selalu ada di sampingmu. Karena, We're on the Edge of Glory.
"Seketika aku berharap menjadi miskin. Agar seperti malam itu, sepertinya saling membantali masing-masing saja sudah terasa lebih dari cukup".

Senin, 03 Agustus 2015

Karena kamu tak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Yang selalu menyembunyikan cemburuku di depanmu. Yang selalu membuang air mata ketika pikiranmu kembali gila. Yang hampir menyerah menghadapi dirimu.
Aku sedikit lelah. Aku merasa tak berguna.
Selamat malam.

Minggu, 02 Agustus 2015

"Are you happy here with me and the things we've got?"

Entah Apa

Karena kamu tak sehangat dulu. Kata-kata manis yang kau ucapkan saat awal-awal kita bersama entah pergi kemana. Tapi tak apa, aku lebih menyukai gayamu yang sekarang. Lebih santai, walaupun sedikit mengiris, tapi bermakna.

Entah itu karena bosan atau apa. Tapi hal itu wajar, bukan? Tapi rasanya akhir-akhir ini kamu sering mengacuhkan aku. Mungkin aku membosankan. Entah itu hanya perasaanku saja atau.... entahlah.

Semakin merasa tidak aman. Banyak orang di luar sana yang mencemoohku dalam diam. Awalnya tak masalah, tapi ini makin menjadi saja. Rasanya The world is bringing me down.

Tolong jangan mencari titik panasnya orang sabar. Sabar itu terbatas.

Aku bahkan tak mengerti apa yang aku tulis. Mengalir begitu saja dari dalam pikiranku.

Selamat malam.

Sabtu, 25 Juli 2015

A Creep and Her Insecurities

Kamu terlalu sempurna untuk Si Pungguk ini. Dan Si Pungguk ini berharap semoga Ia bisa menjadi sesempurna kamu.

Aku tidak peduli jika ini menyakitkan.
Aku tidak peduli, aku tetap menginginkan kamu.
Aku mau menerima ketidaksempurnaanmu walaupun aku bilang bahwa kamu itu sempurna.

Tolong ingat ini; aku akan selalu berusaha untuk selalu ada di sekitarmu apapun keadaanya.
Aku tidak peduli entah itu senang.
Aku tidak peduli entah itu sedih.
Intinya aku akan terus berusaha untuk selalu ada di sampingmu.
Karena kamu adalah prioritasku.

Aku akan berusaha untuk memenuhi segala yang akan membuatmu tersenyum, segala yang kamu inginkan.

Karena kamu adalah Si Nomor Satu bagi Si Pungguk ini, dan Si Pungguk berharap semoga Ia dapat sesempurna kamu.

Si Pungguk ini--Aku-- yang tidak akan pernah bisa sempurna.
Si Pungguk ini yang tidak suka bila dibandingkan dengan orang lain.

Namun faktanya hidup itu ternyata tentang membandingkan.
Membandingkan mana yang baik dan buruk.
Membandingkan mana yang bersih dan kumuh.
Membandingkan mana yang rupawan dan buruk rupa.

Si Pungguk ini yang membenci perbandingan.
Si Pungguk ini yang selalu kalah jika dibandingkan.
Itulah sebabnya mengapa Ia benci perbandingan.

Apalah aku jika dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitarmu?
Apalah aku jika dibandingkan dengan kamu?

Aku tahu pasti di sana akan banyak orang yang lebih dari aku. Dan tak kan ada habisnya. Pati akan ada lagi dan lagi. Kemudian lama kelamaan aku akan tenggelam dan tak terlihat.

Aku takut. Aku takut kamu menemukan orang yang lebih baik dari aku.

Tapi itu bukanlah yang tidak mungkin.

Pasti akan ada seseorang yang bisa lebih dari aku. Entah itu fisik ataupun sifatnya.
Pasti akan ada seseorang yang lebih bisa memahamimu.
Pasti akan ada seseorang yang lebih bisa membuatmu nyaman.
Pasti akan ada seseorang yang lebih bisa membuatmu tersenyum.
Pasti akan ada seseorang yang lebih bisa kamu banggakan.
Pasti akan ada seseorang yang lebih bisa membuatmu akan melakukan apa saja untuknya.

Dan pasti akan ada waktunya kamu akan muak terhadapku.
Pasti akan ada waktunya kamu lebih memilih orang lain dibanding aku.

Aku takut kamu sibuk mencari tangan lain untuk kau raih walaupun sudah sejak lama kuulurkan tanganku.
Aku takut kamu menemukan bahu lain untuk kau sandarkan.
Aku takut kamu akan menemukan pendengar baru yang lebih setia mendengar ceritamu.
Aku takut jika suatu hari nanti aku harus merelakanmu pergi. Karena ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu.

Maaf aku terlalu egois untuk ini.

Entah apa yang sedang ada di pikiranku saat ini. Sedikit kacau rupanya.

Sampai saat ini Si Pungguk masih bertanya,
"Apakah aku pantas untuk manusia sesempurna kamu?"

Rabu, 15 Juli 2015

Sepenggal Isi Hati

Hai
Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering melihat ke belakang. Apalagi ketika waktu akan tidur. Pasti otakku mengulang kejadian yang pernah terjadi beberapa bulan belakangan ini. Di mana duniaku mulai berkutat denganmu, Sa.

Berawal dari kesakithatianmu karena perempuan bodoh itu yang membuatku sampaike sini. Padahal tak pernah ada niatan sedikitpun di benakku bahwa aku akan sedekat ini denganmu.

Aku masih ingat bagaimana rasanya saling berbagi cerita semalam suntuk denganmu. Saat aku mulai membuka diri terhadapmu. Saat aku mulai mengenalmu lebih dalam.

Hampir setiap hari--ya, setiap hari-- aku selalumemperhatikanmu dari tempat dudukku yang berjarak agak jauh dari bangkumu. Entah refleks atau apa, tapi yang pasti mulai saat itu aku mempunyai hobi baru; Ya, memperhatikanmu.

Mungkin kamu tidak sadar--dan aku berharap semoga kau tidak menyadarinya-- karena apalah aku ini, orang yang tak bisa menarik perhatian, tidak sepertimu yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang dengan gayamu yang khas itu.

Belum, belum ada perasaan sedikitpun pada saat itu.

Sampai pada suatu hari, ketika kamu duduk di depan bangkuku, saat kita bercanda ria tiba-tiba saja,
Zink.
Matamu. Matamu yang membuat aku terdiam sejenak. Matamu yang membuat rasa ini mulai tumbuh. Tak beralasan, namun aku sangat menyukai matamu.

Semenjak itu aku semakin memperhatikanmu. Semakin candu saja.

Kamu yang selalu melipat jari ketika berdoa.
Kamu yang tidak pernah duduk tegak.
Kamu yang selalu tiba-tiba saja tersenyum bodoh dengan teman sebangkumu.
Kamu yang selalu memutar lagu skrillex dan lagu tempo dulu.
Kamu yang selalu mendapatkan poin besar saat listening bahasa inggris.
Kamu yang dulu sempat mengikuti gaya rambut wali kelas.
Kamu yang selalu berpura-pura izin ke kamar mandi padahal kamu malah pergi ke koperasi siswa.
Kamu yang selalu mengeluarkan suara yang kecil apabila diminta untuk membaca soal oleh guru bahasa indonesia.
Kamu yang mempunyai alat tulis lengkap di tepak beningmu itu.
Kamu yang selalu menggunakan pensil untuk mencatat.
Kamu yang pernah membacakan puisi Chairul Anwar di depan kelas.
Kamu yang selalu memakai parfum yang agak berlebihan sehingga seluruh ruangan kelas dapat mencium aromanya.
Kamu yang pernah mengacaukan presentasi kelompokku.
Kamu. Kamu yang selalu berulah.

Hari-hari menuju ujian nasional kini semakin dekat. Hampir setiap pulang sekolah aku selalu menghabiskan waktu di dalam kelas untuk mengerjakan 20 paket soal matematika. Ya, memang terdengar gila.

Kukerjakan beberapa soal semampuku, tak peduli apabila orang di sekitarku sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Tapi hari itu berbeda. Aku tidak sendiri. Ada kamu yang entah aku tak tahu mengapa yang tak kunjung pulang, Kamu malah mendengarkan lagu melalui speaker kelas dengan volume kencang. Memutar lagu yang memecahkan konsentrasiku, tapi itu bukan masalah yang berarti. Lebih baik aku mendengar lagu-lagu itu daripada harus berada di keheningan.

Aku ambil gitar yang berada di pojok kelas. Memetiknya sesekali. Beristirahat sejenak. Menyejukan otak yang sudah meminta untuk berhenti.

Kemudian kamu mematikan speakermu dan duduk di sebelahku. Kalau boleh jujur, jantungku berdetak sangat kencang. Bagaimana tidak, orang yang kau sukai tiba-tiba duduk di sebelahmu dan memulai percakapan. Aku berusaha sekeras mungkin untuk bertingkah biasa. Sepertinya berhasil.

Bercerita tentang masa lalumu. Tentang perempuan yang pernah singgah di hidupmu. Seketika aku merasa rendah diri.
"Pantaskah si tengil ini menaruh hati?"
Semuannya. Kamu menceritakan semuanya. Tentang kejutan ulang tahun yang sia-sia itu sampai kiat-kiat untuk menjadi pribadi yang menarik.

Hanya tersisa aku dan kamu di kelas ini sampai pukul setengah enak sore. Setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing.

Entah mengapa aku merasa senang sekali. Tidak merasakan capek sedikitpun walapun hampir 12 jam sudah aku berada di sekolah. Dan tidak merasakan ngantuk sama sekali saat belajar bersama bapak. Terlalu senang pada saat itu.

Dan kemudian momen itu terulang lagi sampai tiga kali,

"Kenapa nggak pulang?"
"Hujan,"

Sesederhana itu untuk membuatku senang.

Aku masih ingat tingkahmu yang konyol itu.
Kamu tiba-tiba push up silang.
Kemudian menarik meja, naik diatasnya, dan terjun dari meja itu. Smackdown, katanya.
Mengkibas-kibaskan seragammu ketika sehabis memakai parfum. Agar semua orang tau aromanya, katanya.
Menarik kursi yang sedang aku duduki.
Membuat kesal guru TIK dan Biologi.
Kamu yang membuat aku datang terlambat ketika pengayaan biologi pada jam ke-0 karena chatting denganmu sampai pukul dua pagi.
Kamu yang selalu membawa jaket ke sekolah. Entah itu yang yang berwarana biru, abu-abu, atau jaket Arsenal.
Kamu yang mendadak rajin belajar fisika dan matematika sebelum ujian nasional.
Kamu yang selalu berangkat lebih pagi dariku ketika try out dan UAS kemudian menaruh tas dan jaketmu di atas meja ujianku.
Kamu yang selalu memakai parfum yang membuatku candu karena aku selalu menyukai semua aroma parfummu.
Kamu yang tiba-tiba memelukku setelah ujian nasional.

Dan aku yang selalu salah tingkah di dekatmu.
Yang tiba-tiba suaranya merendah ketika bicara denganmu.
Yang tidak tahu bagaimana caranya untuk memberikan kado ulang tahunmu yang sudah terlanjur kubungkus.
Yang masih bertanya-tanya sampai saat ini; Apakah aku pantas denganmu?

Aku merindukan  masa-masa itu, Sa, Entah mengapa tiba-tiba saja teringat. Aku berani bertaruh, kamu tidak mengingat semuanya.

Yes, we mad it. Belum terlalu jauh tapi entah mengapa aku merasa bahwa kita telah berjalan sangat jauh. Aku senang dengamu, Sa. Kamu selalu membuat hariku berwarna. Walaupun terkadangf aku bete denganmu ketika kamu hanya membalas "Iya," atau "Hmmm", tapi itu bukanlah hal yang berarti. Walaupun aku pernah hampir menyerah ketika saat itu kamu sedang sedih sesedih-sedihmnya, tapi itu bukanlah hal yang berarti, karena kamu layak untuk dipertahankan. Walaupun terkadang aku merasa insecure karena kamu sering membicarakan orang yang lebih dari aku, itu bukanlah hal yang berarti, karena hal itu memacuku untuk menjadi yang lebih dari yang sekarang. Walaupun terkadang aku merasakan sakit hati, itu tak masalah, maybe it's just a word bleed. Sebisa mungkin untuk tidak mengangkat tangan, walaupun di masa sulit. Because you're so fuckin special dan entah apa jadinya jika aku kehilanganmu.







15 Juli 2015



Don't give up on me ya, Sa.



Minggu, 05 Juli 2015

Jatuh


Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Tapi aku tak merasakan sakit. Sedikitpun. Banyak orang bilang bahwa ini akan terasa sakit, akan tetapi nyatanya tidak sesakit itu. Memang lukanya nyata, tapi terasa manis.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Terkadang ini akan terasa sangat sulit, iya sulit. Mereka bilang ini tidak akan mudah, tapi jika kau mampu untuk bangkit kembali, kau akan merasakan betapa indahnya usaha untuk mempertahankan. Ya, walaupun terkadang aku ingin menjadi yang dipertahankan.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Mereka menjanjikan aku bahwa akan lebih mudah untuk bangkit ketika aku mengingat segala serpihan kecil tentangmu. Itulah yang membuat rasa sakit itu memudar.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Namun ketika aku terjatuh, yang kulihat adalah kedua mata cokelat yang memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Namun ketika aku terjatuh, aku melihat samar-samar uluran tanganmu yang mencoba untuk meraihku.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Namun ketika aku terjatuh, aku mendegar kata-kata—yang entah mengapa aku selalu berpikir itu berasal mulut cerdasmu.

Aku terjatuh sangat keras, entah dari mana.

Tapi aku baik-baik saja.

Jumat, 05 Juni 2015

Tak Ada Judul

"Karena kamu adalah jagoan dari segala jagoan. Semoga kamu tahu bahwa kamu adalah orang hebat. Semoga kamu sadar,"


Rabu, 29 April 2015

Sebuah Pengakuan









Satu pertanyaan sederhana yang akan saya tanyakan sebelum saya memulai tulisan ini,

“Percayakah kamu bahwa cinta bisa datang karena terbiasa?”

***

Saat ini saya sedang bersama orang yang mungkin bisa dikatakan sebagai The-one-who-I-love. Semoga saja tidak hanya saat ini, tetapi untuk selanjutnya dan seterusnya. Saya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Saya tidak pernah seserius ini sebelumnya. Saya tidak pernah seperti ini menyayangi seseorang. Walaupun banyak orang yang bilang bahwa aku hampir gila karena orang kemarin, tapi saat ini berbeda.

Laki-laki ini membantu saya untuk bangun dari mimpi hitam itu.Laki-laki ini membuat saya sadar bahwa sesungguhnya selama ini saya telah membuang-buang waktu untuk memikirkan luka lama. Laki-laki ini yang membuat sadar bahwa saya tak seharusnya membiarkan diri terluka. Laki-laki ini berbeda.

Tak ada niatan satupun muncul di pikiran saya bahwa saya akan seperti ini sebelumnya. Awalnya saya malah memilih untuk menghindar darinya. Jangankan untuk mengawali sebuah percakapan denganya, melihatnya pun saya enggan pada saat itu. Saya mencoba untuk sejauh mungkin darinya. Kemudian semua itu berubah ketika saya harus berada di satu lingkungan dengannya. Setiap hari. Enam hari dalam seminggu.

Tak ada hal yang berarti selama enam bulan pertama ketika saya dengan dirinya berada di dalam satu lingkungan yang sama. Sampai suatu ketika laki-laki itu bertanya tentang kesan pertama saya terhadap dirinya.

Saya ungkapkan semuanya. Sedetail mungkin. Saya berkata jujur kepadanya bahwa pada awalnnya saya enggan untuk berbicara dengannya. Saya sering mendengar rumor buruk tentang dirinya. Itulah alasannya.

Tapi nyatanya dia tidak seburuk itu. Memang banyak orang melabeli dirinya sebagai bajingan. Hanya saja mereka belum tahu bahwa dia tidak sebajingan itu. Jika mereka menelusuri laki-laki ini lebih dalam lagi, saya berani bersumpah bahwa orang-orang yang mengatakan dirinya bajingan akan menarik kata-katanya.

Laki-laki ini datang tiba-tiba di Bulan Desember. Sialan.
 
Dia menceritakan bahwa hatinya sedang hancur. Dia bercerita ada seorang perempuan yang menolaknya.
 Dia berkeluh kesah tentang rasa sakitnya kepada saya. Segala rasa sakitnya.

Awalnya saya hanya berpikir bahwa dia hanyalah sebatas teman untuk berbagi cerita. Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa kita memiliki pemikiran yang sama. Saya merasa nyambung dengannya ketika sedang membicarakan sesuatu. Walaupun terkadang kita mempunyai pendapat yang berbeda, tapi pada akhirnya pendapat itu menjurus ke suatu hal yang sama.

Dia cerdas. Saya menyukai pikirannya. Dia pernah bercerita bahwa dia ingin menjadi intel karena dia merasa bahwa dirinya menyukai teka-teki. Dia mempunyai ketertarikan pada hal yang menggunakan taktik. Ia pemikir yang cerdik. Itulah hal yang saya sukai dari laki-laki itu.

Sampai pada suatu saat, dia membuka semuanya. Membuka rahasia hidupnya yang membuat hati saya terasa nyeri. Laki-laki itu bercerita tentang hal buruk yang menimpanya. Hal buruk yang selama ini membuat saya selalu berpikir negatif tentangnya. Dia ceritakan semua. Tanpa ada satupun yang terlewat.

Dia bercerita bagaimana ia hampir menyerah pada hidup. Tentang bagaimana sakitnya menjadi orang yang dibenci oleh lingkungannya. Tentang bagaimana sakitnya berada di lingkungan yang mengharuskan dia untuk mengakhiri segalanya.

Kalau saya boleh jujur, saya menitikkan air mata saat ia bercerita tentang hal itu.

Kemudian cerita tersebut berlanjut ke cerita romansanya. Bagaimana dia menggaet banyak gadis saat SMP. Tentang perempuan yang selama ini ia agung-agungkan. Tentang bagaimana pedihnya ketika perempuan itu lebih memilih orang lain.

Saya senang mendengar ceritanya. Saya berani bersumpah bahwa saya akan terus menjadi pendengar setia dari radio yang usang ini.

Lelaki ini menceritakan segalanya kepada saya. Segalanya. Dia mengatakan bahwa ia mempercayai saya. 

Ya, kemudian saya sadar. Saya tidak boleh mengecewakannya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Pada akhirnya. Saya mulai terbiasa dengan dirinya. Terbiasa menjadi teman yang saling tahu satu sama lain. 
Hal yang terbisa tersebut semakin membuat saya nyaman dengannya. Rasanya saya ingin selalu menghabiskan waktu dengannya.

Dia merobohkan dinding tebal yang telah saya bangun. Saya runtuh.

Saya kemudian menyimpan perasaan lebih padanya.

Terkadang saya merasa bersalah. Merasa tak pantas. Melihat jejak perempuan yang pernah ia dekati, sepertinya saya tidak pantas. Apalah artinya saya? Perempuan tengik dengan omongan kasarnya.

Sampai kemudian saya sadar.

Laki-laki ini membuat saya benar-benar lupa tentang sakitnya luka lama.
Laki-laki ini membuat saya melupakan “orang kemarin”

Semakin banyak waktu yang saya habiskan bersamanya, semakin saya merasa saya benar-benar tertarik padanya.

Saya tertarik.

Kemudian.... saya sayang.

Saya menyayangi laki-laki ini. Entah mengapa.

Suatu malam, saya memberanikan diri untuk berkata jujur padanya bahwa saya tertarik dengannya. Bahwa saya mulai menyayangi dirinya. Entah mengapa.

Tapi bodohnya saya, saya memilih untuk tidak berharap lebih. Tidak berharap bahwa akan ada hubungan lebih dengan laki-laki ini.

Saya menyesal mengatakan itu.

Pada akhirnya saya benar-benar runtuh. Seruntuh-runtuhnya.

Sampai pada suatu hari laki-laki itu berkata,
“Jangan terlalu sayang. Saya takut saya tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu harapkan,”

Saya menangis sejadinya.

Persetan, dia akan selalu menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.

Sampai pada akhirnya ia menawarkan diri untuk menjadi “orang spesial” untuk saya. Dan bodohnya saya menolaknya.

Brengsek, saya menyesal.

Kemudian saya memberitahukannya bahwa saya menyesal telah mengatakan itu dan jika masih ada kesempatan, saya berkenan menjadi orang spesialnya.

Ya... ini lah kami sekarang.

Semakin hari saya semakin menyayangi lelaki itu. Tak peduli jika ada yang mengatakan bahwa itu adalah bullshit. Jika saya benar-benar sayang, harus apa lagi?

Saya suka semua tentang dirinya.

Saya menyukai matanya yang tidak mempunyai garis di kelopaknya.

Saya menyukai bola matanya yang cokelat jernih.

Saya menyukai setiap parfumnya. Too addicted.

Saya menyukai tingkah lakunya.

Saya menyukai pemikiran idiotnya.

Saya menyukai pemikiran cerdasnya.

Saya menyukai suaranya yang khas.

Saya menyukai bagaimana caranya dia menatap saya. Yang seketika membuat saya merasa beruntung.

Saya menyukai bagaimana caranya menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari-jari saya.

Saya menyukai semua hal tentangnya.

Itulah yang membuat saya berpikir bahwa saya akan terus menyayanginya setiap hari. Dan mungkin rasa sayang itu akan terus bertumbuh dan berkembang.

Saya tidak peduli sehina apapun dia. Saya benar-benar menyayanginya bagaimanapun keadaannya.

Saya tidak pernah jatuh cinta sekeras ini.

Saya tak peduli jika kalian berpikir bahwa ini berlebihan, tapi memang faktanya seperti itu.

Saya bahagia ketika saya menghabiskan waktu dengannya.

Saya bahagia ketika saya dapat melihat wajahnya.

Saya bahagia ketika saya berbicara dengannya.

Karena membuat saya bahagia adalah sesederhana itu.

Saya berani bersumpah bahwa saya benar-benar bahagia

Saya benar-benar berada di puncak kebahagian. Tolong buat saya selalu merasa seperti ini.

Terima kasih telah membuat saya seperti ini, Kamu.

Saya benar-benar serius dengan tulisan ini.

Entah apa lagi yang harus saya tulis. Intinya saya bahagia.






Muchlove, Dear you.

Selasa, 24 Februari 2015

Tak Tentu

Selamat Malam!

Mencuri-curi kesempatan ngeblog walaupun harus ngerjain latihan dimensi tiga.
mataku. tolong mataku.

yes, H-empat puluh sekian hari menuju UN dan w masih nggak ngerti. Sedih banget ya. Iya sedih.

btw, nida lagi baper.
padahal dipostingan kemaren gue bilang nida udah nggak baper.
iya, udah ngga baper sama yang 'kemarin', tapi baper ke orang baru.
ehe.





ehe.





ehe.




tapi boong deng.
bye ah.

Kamis, 29 Januari 2015

Curahan Hati Seorang Anak Kelas Dua Belas

Selamat malam.

Jam berapa ini? Oh, 9:11 malam.
tiga puluh menit yang lalu baru pulang les.
berangkat jam enam pagi pulang jam setengah sembilan
ah bahagianya







Bahagia pitak lo tuh bahagia.


Semacam kangen ngeblog tapi udah ngga ada waktu, jadi ngeblog cuman mencuri-curi waktu luang saja. Latian soal teros sampe mabok. Nge-down mulu gara-gara sekalinya konsul ke BK malah bukannya makin percaya diri, malah bikin nambah minder. Persengidan.

Pengen curhat aja.. curhat di buku binder, bindernya penuh sama catetan pelajaran sama otretan. mau beli buku unyu di gramedia, ngga punya duit.

kan sedih.

jadi ya udah curhat di blog aja.
mumpung gratis.
ngga bikin tangan lelah.

lanjut.

oh iya, good news.
Nida sudah nggak baperan.
Nida Sudah Nggak Baperan
NIDA SUDAH NGGAK BAPERAN
((( NIDA SUDAH NGGAK BAPERAN )))

((( NIDA SUDAH NGGA BAPERAN )))

gila abis kan.
parah.
kusenanggg.

Dulu pas kelas 11 mah sok-sokan sibuk mencari kesibukan, eh kelas dua belas malah jadi sibuk beneran.

sibuk les. sibuk latihan soal. sibuk bolak balik bk. sibuk konsul. sibuk mikirin jurusan.

btw tolong....
w buntu banget.
W kan bener-bener ngebet banget dah FTSL ITB dari kelas 11, eh malah sekarang saingannya makin banyak.
kan sedih.
w beralih ke FMIPA eh di FMIPA malah ada anak yang olim matematika yang mau masuk situ.
kan sedih.
mana rapot rata-rata ipa semester 1-5 cuman 84.89.
kan sakit.
rencana mau arsitektur ugm atau pwk ugm.
tapi kan tapi kan.
tau deh.


mau nyoba sbmptn buat FTSL eeeh dibilang bunuh diri sama salah satu "penasihat"
kan sakit.


"Nggak punya rangking kamu"
"Fisika segini mana bisa masuk teknik"
"rata-rata 84 mau masuk ITB?"

dan seluruh kata-kata atau kalimat yang meng-underastimate gue.
kan kan kan............. sedih.

pusing banget banget dah sumpah
cuman mau nyenengin orang tua kok susah banget ya.
padahal w udah niat baik dari dulu.
tapi ywdha la berserah diri aja sama Yang Maha Kuasa.
belom tentu yang kita pikir baik, akan benar-benar baik. dan belom tentu yang kita anggap buruk, akan berdampak buruk. 

nida sedang bijak karena nida sedang bingung.

Takdir ngga bisa diubah, tapi gimana kalau nasib?



Coba aja kalau gue bisaa nerawang masa depan, ngga akan ada hal yang bakal bikin gue khawatir dalam hidup. tapi kan gue bukan tuhan, jadi gimana mau tau.

seenggaknya yang nulis jalan hidup gue ya... Tuhan gue, bukan sutradara. pastinya bakal lebih seru deh ceritanya.

((( Kalimat rumpang detected )))

Yha pokoknya ada beberapa yang bikin gue bangkit lagi, yaitu :
1. Percaya bahwa Allah SWT ngga akan ninggalin kita. Walaupun sehina apapun kita. All we have to do is......... percaya, ibadah, meminta, dan kemudian berserah diri,
2. There's the "I'm Possible" in Impossible.
3. It's not about the mistakes that we did, but it's about the lesson that we've learned.


Bye. Minta doanya ya semoga nida bisa jadi mahasiswa ITB.

Aamiin.