Rabu, 29 April 2015

Sebuah Pengakuan









Satu pertanyaan sederhana yang akan saya tanyakan sebelum saya memulai tulisan ini,

“Percayakah kamu bahwa cinta bisa datang karena terbiasa?”

***

Saat ini saya sedang bersama orang yang mungkin bisa dikatakan sebagai The-one-who-I-love. Semoga saja tidak hanya saat ini, tetapi untuk selanjutnya dan seterusnya. Saya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Saya tidak pernah seserius ini sebelumnya. Saya tidak pernah seperti ini menyayangi seseorang. Walaupun banyak orang yang bilang bahwa aku hampir gila karena orang kemarin, tapi saat ini berbeda.

Laki-laki ini membantu saya untuk bangun dari mimpi hitam itu.Laki-laki ini membuat saya sadar bahwa sesungguhnya selama ini saya telah membuang-buang waktu untuk memikirkan luka lama. Laki-laki ini yang membuat sadar bahwa saya tak seharusnya membiarkan diri terluka. Laki-laki ini berbeda.

Tak ada niatan satupun muncul di pikiran saya bahwa saya akan seperti ini sebelumnya. Awalnya saya malah memilih untuk menghindar darinya. Jangankan untuk mengawali sebuah percakapan denganya, melihatnya pun saya enggan pada saat itu. Saya mencoba untuk sejauh mungkin darinya. Kemudian semua itu berubah ketika saya harus berada di satu lingkungan dengannya. Setiap hari. Enam hari dalam seminggu.

Tak ada hal yang berarti selama enam bulan pertama ketika saya dengan dirinya berada di dalam satu lingkungan yang sama. Sampai suatu ketika laki-laki itu bertanya tentang kesan pertama saya terhadap dirinya.

Saya ungkapkan semuanya. Sedetail mungkin. Saya berkata jujur kepadanya bahwa pada awalnnya saya enggan untuk berbicara dengannya. Saya sering mendengar rumor buruk tentang dirinya. Itulah alasannya.

Tapi nyatanya dia tidak seburuk itu. Memang banyak orang melabeli dirinya sebagai bajingan. Hanya saja mereka belum tahu bahwa dia tidak sebajingan itu. Jika mereka menelusuri laki-laki ini lebih dalam lagi, saya berani bersumpah bahwa orang-orang yang mengatakan dirinya bajingan akan menarik kata-katanya.

Laki-laki ini datang tiba-tiba di Bulan Desember. Sialan.
 
Dia menceritakan bahwa hatinya sedang hancur. Dia bercerita ada seorang perempuan yang menolaknya.
 Dia berkeluh kesah tentang rasa sakitnya kepada saya. Segala rasa sakitnya.

Awalnya saya hanya berpikir bahwa dia hanyalah sebatas teman untuk berbagi cerita. Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa kita memiliki pemikiran yang sama. Saya merasa nyambung dengannya ketika sedang membicarakan sesuatu. Walaupun terkadang kita mempunyai pendapat yang berbeda, tapi pada akhirnya pendapat itu menjurus ke suatu hal yang sama.

Dia cerdas. Saya menyukai pikirannya. Dia pernah bercerita bahwa dia ingin menjadi intel karena dia merasa bahwa dirinya menyukai teka-teki. Dia mempunyai ketertarikan pada hal yang menggunakan taktik. Ia pemikir yang cerdik. Itulah hal yang saya sukai dari laki-laki itu.

Sampai pada suatu saat, dia membuka semuanya. Membuka rahasia hidupnya yang membuat hati saya terasa nyeri. Laki-laki itu bercerita tentang hal buruk yang menimpanya. Hal buruk yang selama ini membuat saya selalu berpikir negatif tentangnya. Dia ceritakan semua. Tanpa ada satupun yang terlewat.

Dia bercerita bagaimana ia hampir menyerah pada hidup. Tentang bagaimana sakitnya menjadi orang yang dibenci oleh lingkungannya. Tentang bagaimana sakitnya berada di lingkungan yang mengharuskan dia untuk mengakhiri segalanya.

Kalau saya boleh jujur, saya menitikkan air mata saat ia bercerita tentang hal itu.

Kemudian cerita tersebut berlanjut ke cerita romansanya. Bagaimana dia menggaet banyak gadis saat SMP. Tentang perempuan yang selama ini ia agung-agungkan. Tentang bagaimana pedihnya ketika perempuan itu lebih memilih orang lain.

Saya senang mendengar ceritanya. Saya berani bersumpah bahwa saya akan terus menjadi pendengar setia dari radio yang usang ini.

Lelaki ini menceritakan segalanya kepada saya. Segalanya. Dia mengatakan bahwa ia mempercayai saya. 

Ya, kemudian saya sadar. Saya tidak boleh mengecewakannya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Pada akhirnya. Saya mulai terbiasa dengan dirinya. Terbiasa menjadi teman yang saling tahu satu sama lain. 
Hal yang terbisa tersebut semakin membuat saya nyaman dengannya. Rasanya saya ingin selalu menghabiskan waktu dengannya.

Dia merobohkan dinding tebal yang telah saya bangun. Saya runtuh.

Saya kemudian menyimpan perasaan lebih padanya.

Terkadang saya merasa bersalah. Merasa tak pantas. Melihat jejak perempuan yang pernah ia dekati, sepertinya saya tidak pantas. Apalah artinya saya? Perempuan tengik dengan omongan kasarnya.

Sampai kemudian saya sadar.

Laki-laki ini membuat saya benar-benar lupa tentang sakitnya luka lama.
Laki-laki ini membuat saya melupakan “orang kemarin”

Semakin banyak waktu yang saya habiskan bersamanya, semakin saya merasa saya benar-benar tertarik padanya.

Saya tertarik.

Kemudian.... saya sayang.

Saya menyayangi laki-laki ini. Entah mengapa.

Suatu malam, saya memberanikan diri untuk berkata jujur padanya bahwa saya tertarik dengannya. Bahwa saya mulai menyayangi dirinya. Entah mengapa.

Tapi bodohnya saya, saya memilih untuk tidak berharap lebih. Tidak berharap bahwa akan ada hubungan lebih dengan laki-laki ini.

Saya menyesal mengatakan itu.

Pada akhirnya saya benar-benar runtuh. Seruntuh-runtuhnya.

Sampai pada suatu hari laki-laki itu berkata,
“Jangan terlalu sayang. Saya takut saya tidak bisa menjadi seperti apa yang kamu harapkan,”

Saya menangis sejadinya.

Persetan, dia akan selalu menjadi ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.

Sampai pada akhirnya ia menawarkan diri untuk menjadi “orang spesial” untuk saya. Dan bodohnya saya menolaknya.

Brengsek, saya menyesal.

Kemudian saya memberitahukannya bahwa saya menyesal telah mengatakan itu dan jika masih ada kesempatan, saya berkenan menjadi orang spesialnya.

Ya... ini lah kami sekarang.

Semakin hari saya semakin menyayangi lelaki itu. Tak peduli jika ada yang mengatakan bahwa itu adalah bullshit. Jika saya benar-benar sayang, harus apa lagi?

Saya suka semua tentang dirinya.

Saya menyukai matanya yang tidak mempunyai garis di kelopaknya.

Saya menyukai bola matanya yang cokelat jernih.

Saya menyukai setiap parfumnya. Too addicted.

Saya menyukai tingkah lakunya.

Saya menyukai pemikiran idiotnya.

Saya menyukai pemikiran cerdasnya.

Saya menyukai suaranya yang khas.

Saya menyukai bagaimana caranya dia menatap saya. Yang seketika membuat saya merasa beruntung.

Saya menyukai bagaimana caranya menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari-jari saya.

Saya menyukai semua hal tentangnya.

Itulah yang membuat saya berpikir bahwa saya akan terus menyayanginya setiap hari. Dan mungkin rasa sayang itu akan terus bertumbuh dan berkembang.

Saya tidak peduli sehina apapun dia. Saya benar-benar menyayanginya bagaimanapun keadaannya.

Saya tidak pernah jatuh cinta sekeras ini.

Saya tak peduli jika kalian berpikir bahwa ini berlebihan, tapi memang faktanya seperti itu.

Saya bahagia ketika saya menghabiskan waktu dengannya.

Saya bahagia ketika saya dapat melihat wajahnya.

Saya bahagia ketika saya berbicara dengannya.

Karena membuat saya bahagia adalah sesederhana itu.

Saya berani bersumpah bahwa saya benar-benar bahagia

Saya benar-benar berada di puncak kebahagian. Tolong buat saya selalu merasa seperti ini.

Terima kasih telah membuat saya seperti ini, Kamu.

Saya benar-benar serius dengan tulisan ini.

Entah apa lagi yang harus saya tulis. Intinya saya bahagia.






Muchlove, Dear you.