Rabu, 15 Juli 2015

Sepenggal Isi Hati

Hai
Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering melihat ke belakang. Apalagi ketika waktu akan tidur. Pasti otakku mengulang kejadian yang pernah terjadi beberapa bulan belakangan ini. Di mana duniaku mulai berkutat denganmu, Sa.

Berawal dari kesakithatianmu karena perempuan bodoh itu yang membuatku sampaike sini. Padahal tak pernah ada niatan sedikitpun di benakku bahwa aku akan sedekat ini denganmu.

Aku masih ingat bagaimana rasanya saling berbagi cerita semalam suntuk denganmu. Saat aku mulai membuka diri terhadapmu. Saat aku mulai mengenalmu lebih dalam.

Hampir setiap hari--ya, setiap hari-- aku selalumemperhatikanmu dari tempat dudukku yang berjarak agak jauh dari bangkumu. Entah refleks atau apa, tapi yang pasti mulai saat itu aku mempunyai hobi baru; Ya, memperhatikanmu.

Mungkin kamu tidak sadar--dan aku berharap semoga kau tidak menyadarinya-- karena apalah aku ini, orang yang tak bisa menarik perhatian, tidak sepertimu yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang dengan gayamu yang khas itu.

Belum, belum ada perasaan sedikitpun pada saat itu.

Sampai pada suatu hari, ketika kamu duduk di depan bangkuku, saat kita bercanda ria tiba-tiba saja,
Zink.
Matamu. Matamu yang membuat aku terdiam sejenak. Matamu yang membuat rasa ini mulai tumbuh. Tak beralasan, namun aku sangat menyukai matamu.

Semenjak itu aku semakin memperhatikanmu. Semakin candu saja.

Kamu yang selalu melipat jari ketika berdoa.
Kamu yang tidak pernah duduk tegak.
Kamu yang selalu tiba-tiba saja tersenyum bodoh dengan teman sebangkumu.
Kamu yang selalu memutar lagu skrillex dan lagu tempo dulu.
Kamu yang selalu mendapatkan poin besar saat listening bahasa inggris.
Kamu yang dulu sempat mengikuti gaya rambut wali kelas.
Kamu yang selalu berpura-pura izin ke kamar mandi padahal kamu malah pergi ke koperasi siswa.
Kamu yang selalu mengeluarkan suara yang kecil apabila diminta untuk membaca soal oleh guru bahasa indonesia.
Kamu yang mempunyai alat tulis lengkap di tepak beningmu itu.
Kamu yang selalu menggunakan pensil untuk mencatat.
Kamu yang pernah membacakan puisi Chairul Anwar di depan kelas.
Kamu yang selalu memakai parfum yang agak berlebihan sehingga seluruh ruangan kelas dapat mencium aromanya.
Kamu yang pernah mengacaukan presentasi kelompokku.
Kamu. Kamu yang selalu berulah.

Hari-hari menuju ujian nasional kini semakin dekat. Hampir setiap pulang sekolah aku selalu menghabiskan waktu di dalam kelas untuk mengerjakan 20 paket soal matematika. Ya, memang terdengar gila.

Kukerjakan beberapa soal semampuku, tak peduli apabila orang di sekitarku sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Tapi hari itu berbeda. Aku tidak sendiri. Ada kamu yang entah aku tak tahu mengapa yang tak kunjung pulang, Kamu malah mendengarkan lagu melalui speaker kelas dengan volume kencang. Memutar lagu yang memecahkan konsentrasiku, tapi itu bukan masalah yang berarti. Lebih baik aku mendengar lagu-lagu itu daripada harus berada di keheningan.

Aku ambil gitar yang berada di pojok kelas. Memetiknya sesekali. Beristirahat sejenak. Menyejukan otak yang sudah meminta untuk berhenti.

Kemudian kamu mematikan speakermu dan duduk di sebelahku. Kalau boleh jujur, jantungku berdetak sangat kencang. Bagaimana tidak, orang yang kau sukai tiba-tiba duduk di sebelahmu dan memulai percakapan. Aku berusaha sekeras mungkin untuk bertingkah biasa. Sepertinya berhasil.

Bercerita tentang masa lalumu. Tentang perempuan yang pernah singgah di hidupmu. Seketika aku merasa rendah diri.
"Pantaskah si tengil ini menaruh hati?"
Semuannya. Kamu menceritakan semuanya. Tentang kejutan ulang tahun yang sia-sia itu sampai kiat-kiat untuk menjadi pribadi yang menarik.

Hanya tersisa aku dan kamu di kelas ini sampai pukul setengah enak sore. Setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing.

Entah mengapa aku merasa senang sekali. Tidak merasakan capek sedikitpun walapun hampir 12 jam sudah aku berada di sekolah. Dan tidak merasakan ngantuk sama sekali saat belajar bersama bapak. Terlalu senang pada saat itu.

Dan kemudian momen itu terulang lagi sampai tiga kali,

"Kenapa nggak pulang?"
"Hujan,"

Sesederhana itu untuk membuatku senang.

Aku masih ingat tingkahmu yang konyol itu.
Kamu tiba-tiba push up silang.
Kemudian menarik meja, naik diatasnya, dan terjun dari meja itu. Smackdown, katanya.
Mengkibas-kibaskan seragammu ketika sehabis memakai parfum. Agar semua orang tau aromanya, katanya.
Menarik kursi yang sedang aku duduki.
Membuat kesal guru TIK dan Biologi.
Kamu yang membuat aku datang terlambat ketika pengayaan biologi pada jam ke-0 karena chatting denganmu sampai pukul dua pagi.
Kamu yang selalu membawa jaket ke sekolah. Entah itu yang yang berwarana biru, abu-abu, atau jaket Arsenal.
Kamu yang mendadak rajin belajar fisika dan matematika sebelum ujian nasional.
Kamu yang selalu berangkat lebih pagi dariku ketika try out dan UAS kemudian menaruh tas dan jaketmu di atas meja ujianku.
Kamu yang selalu memakai parfum yang membuatku candu karena aku selalu menyukai semua aroma parfummu.
Kamu yang tiba-tiba memelukku setelah ujian nasional.

Dan aku yang selalu salah tingkah di dekatmu.
Yang tiba-tiba suaranya merendah ketika bicara denganmu.
Yang tidak tahu bagaimana caranya untuk memberikan kado ulang tahunmu yang sudah terlanjur kubungkus.
Yang masih bertanya-tanya sampai saat ini; Apakah aku pantas denganmu?

Aku merindukan  masa-masa itu, Sa, Entah mengapa tiba-tiba saja teringat. Aku berani bertaruh, kamu tidak mengingat semuanya.

Yes, we mad it. Belum terlalu jauh tapi entah mengapa aku merasa bahwa kita telah berjalan sangat jauh. Aku senang dengamu, Sa. Kamu selalu membuat hariku berwarna. Walaupun terkadangf aku bete denganmu ketika kamu hanya membalas "Iya," atau "Hmmm", tapi itu bukanlah hal yang berarti. Walaupun aku pernah hampir menyerah ketika saat itu kamu sedang sedih sesedih-sedihmnya, tapi itu bukanlah hal yang berarti, karena kamu layak untuk dipertahankan. Walaupun terkadang aku merasa insecure karena kamu sering membicarakan orang yang lebih dari aku, itu bukanlah hal yang berarti, karena hal itu memacuku untuk menjadi yang lebih dari yang sekarang. Walaupun terkadang aku merasakan sakit hati, itu tak masalah, maybe it's just a word bleed. Sebisa mungkin untuk tidak mengangkat tangan, walaupun di masa sulit. Because you're so fuckin special dan entah apa jadinya jika aku kehilanganmu.







15 Juli 2015



Don't give up on me ya, Sa.



1 komentar: