Minggu, 21 Februari 2016

Another Protector

"Tidak bermaksud melarang, hanya saja aku ingin kamu senang," katanya.

Tulisan ini untuk kamu, Yang tak kunjung pulang.

Sebelum aku sebesar ini, satu-satunya yang berani berkata seperti itu adalah Bapak.
Larang sana, larang sini, akan tetapi semua larangannya ada benarnya. Membawaku sampai ke sini tanpa cacat sedikitpun.

Beruntungnya dia, aku penurut--walaupun aku mengakui bahwa aku sedikit memberontak.

Dia satu-satunya orang yang bisa menjadi apapun; Sosok Bapak, seorang guru, sosok pemimpin yang pertama kali aku kenal, sebuah bahu untuk bersandar, seseorang dengan pelukan hangat ketika aku mengadu bahwa dunia di sekitarku sangat dingin, seorang penasihat dengan jutaan pengalaman, yang selalu berjuang hidup mati untukku, sosok yang selalu aku kecewakan tapi dengan kebaikan hatinya Ia masih menerimaku, seorang pahlawan yang tak pernah terekpos media.

Apapun. Ia bisa menjadi apapun yang aku butuhkan.

Dan Ia tak akan bisa digantikan oleh apapun.


Kemudian ketika aku beranjak dewasa, aku sadar, hari-hari bersamanya adalah momen yang agak langka. Kesibukan kami yang memisahkan. Beliau dengan tugas dan ambisinya, dan aku sibuk melanjutkan studiku.

Kini entah berapa ratus kilometer jarak antara kami. Dan aku benar-benar merindukan nasihatnya.

Satu dari sekian banyak kalimatnya yang pernah ia ucapkan yang selalu membuatku menangis adalah; "Karena hampir di setiap sepertiga malam Bapak menyebut namamu,"

Dan dengan mohon aku benar-benar membutuhkan sosoknya sekarang juga.

Kemudian datang Kamu--yang hampir mempunyai sifat seperti Bapak.

"Kamu itu ceroboh, tidak sabaran, kamu harusnya kayak gini blah blah blah," katanya

Ia tahu segala kekuranganku, sama seperti Bapak.
Ia selalu sabar menghadapiku, sama seperti Bapak.
Ia tahu mana yang benar untukku, sama seperti Bapak.
Ia selalu menjagaku, hampir sama seperti Bapak.

Aku tidak boleh naik motor di atas jam tujuh malam, katanya.
Pun Bapak mengatakan hal yang sama.

Kamu itu seperti Bapak, hanya saja hampir.

Satu-satunya orang yang aku punya di sini ketika aku jauh dari keluargaku.
Yang rela menjemputku di jam berapapun.
Yang mengurusku ketika aku sakit.
Yang selalu mengiyakan ketika aku mengiginkan sesuatu.
Yang selalu menemaniku makan malam.
Yang selalu mengkhawatirkanku.
Yang selalu memberiku nasihat ketika aku merasa jatuh.
Yang selalu ada di tengah kesepianku.
Yang selalu sabar menghadapi sifat kekanakanku.
Kamu, yang segalanya.

Ya.... cheesy sekali kalimat-kalimatnya ya.

"Bukannya overprotective," katanya.
"Hanya saja aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucapnya lagi.
"Aku jagain kamu biar ngga kenapa-kenapa," lanjutnya.
"Karena kamu itu harta terbesarku."

Ia pernah bercerita bahwa betapa dunia begitu tidak berpihak padanya.
Dan dia tidak mau kalau sampai aku mengalami apa yang pernah Ia alami dahulu.

"Kamu itu hanya tau ceritaku, tapi nggak ngerti maksudku kenapa aku menceritakan pengalaman hidupku,"

Ternyata aku belum sepenuhnya dewasa.
Tidak ada apa-apanya dibandingkan dia.

Setidaknya aku tidak merasa sendiri di sini. Walaupun sosok Bapak sangat jauh, tapi sosok yang hampir menyerupainya selalu siap sedia untuk berada di sampingku.

Aku masih menunggumu pulang.



Selamat malam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar